Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 9


__ADS_3

Bu Ambar kemudian meninggalkan mereka lagi, Luna disana masih dengan cengirannya yang entah karena apa. Merasa sedang diperhatikan, Luna menoleh pada Vani yang memang sedang memandangnya dengan heran. Luna dengan spontan melakukan gerakan sekali mendongak dengan maksud (kenapa? Atau ada apa?) tapi Vani malah merespon dengan cara yang sama.


“Kenapa sih?” akhirnya Luna bertanya langsung.


“Loe yang kenapa, kita tu lagi dihukum bukan lagi nonton konser, ngapain loe cengar – cengir gak jelas” tanya Vani bingung sekaligus penasaran.


“Ohhhh, ya gapapa gue cuma gak nyangka aja” jawabnya sambil mengembalikan cengiran tadi.


“Tentang?” Tanya lagi Vani yang masih tak mengerti.


“Sejak bangun pagi, gue mutar otak gimana cara ngadepin ulangan matematika hari ini. Secara gue tuh gak belajar sama sekali Van apalagi gurunya nakutin banget, bisa abis gue. Ehhh loe berdua malah bawa gue kesini, jadi kan gak perlu ulangan hihi. Terus juga gue akhirnya bisa ngerasain dihukum gini haha belom pernah seumur – umur gue sekolah” Luna menjawab panjang lebar. Vani menggeleng samar mendengarnya.


“Ehh tumben tapi loe gitu. Ada apa? Loe sakit atau gimana semalam sampe gak belajar” tanya Vani lagi.


“Nggak, kemarin Ayah gue bawain koleksi buku karya nya Muf In Rosas sampe 5 buah. Gue baca semuanya satu malem, ya kali gue bisa nahan buat gak baca sesuatu yang berkaitan ama puisi plus Muf In Rosas! Wahhh” Luna bercerita penuh semangat dan penegasan akan kencintaannya pada puisi dan penulis bernama Muf In Rosas yang ia sebut tadi.


Astaga!!! Vani kali ini menggelengkan kepalanya jelas tidak samar lagi. Sahabatnya ini benar – benar pencinta puisi sejati. Luna memang penggemar puisi, tak hanya itu, Luna sendiri pun bisa disebut penulis juga. Bakatnya dalam dunia puisi bisa dibilang baik dan mengesankan, terbukti dari beberapa penghargaan berupa piagam hingga piala atas nama Lunara Ustman di rumah dan sekolahnya dari berbagai kompetisi menulis bahkan membaca puisi juga.


“Ngomong – ngomong, Ayah loe kan udah bawain sampe 5 buku. Nah salah satu dari 5 itu ada gak bukunya Muf In Rosas yang loe cari itu. Apa sih namanya?” tanya Vani sambil mencoba mengingat – ngingat.


“Hati judulnya hati” jawab Luna hingga mengulang agar Vani tidak lupa lagi. Beberapa saat kemudian, Luna kembali bicara.

__ADS_1


“Sayangnya gak ada. Heran deh gue susah banget sih buku Muf In Rosas satu itu di dapet, udah kemana – mana loh nyarinya tapi gak nemu juga, padahal gue penasaran banget isi puisinya gimana. Apa karna itu karya pertamanya dia ya jadi udah lama dan susah di carinya hmm” ucapnya sedih.


Untuk beberapa saat suara mereka tidak terdengar lagi, saling membisu dalam posisi hormat seperti sebelumnya hingga akhirnya Luna yang kembali terdengar suaranya.


“Juan” Sapanya. Juan tidak bergeming, justru Vani yang menoleh dan menyahut.


“Ngapain loe manggil dia?” Tanya Vani pada Luna mengingat yang ia tau Luna dan Juan hanya sebatas teman kelas, bukan teman sebenarnya,


“Dan loe juga, budge ya? Nih temen gue manggil!” tambah Vani yang kini beralih pada Juan di samping Luna yang hanya diam meski namanya di sebut.


“Temen loe ini kenapa bawel banget sih, nyebelin, suka ikut campur. Kok loe mau temenan ama dia” Kalimat itu masuk begitu tajam ke telinga Vani, Luna yang berada di tengah mereka merasa kelinglingan lagi dengan firasat bahwa pertengkaran ronde kedua sebentar lagi dimulai.


Dan ya, adu mulut antara Juan dan Vani berlanjut semakin panas. Dan lagiiii…. Kenapa sialnya selalu di saat seperti ini kepergok lagi oleh Bu Ambar. Maka yang terjadi selanjutnya adalah hukuman mereka pun akan ditambah dan memulai ronde kedua lagi.


***


“Nah jadi gitu Yah, makanya pulangnya lama. Lagian Juan sama Vani sih berantem mulu, jadinya ya dihukum lagi bersihin lab pulang sekolah” Kata Luna mengkahiri cerita kejadian yang di alaminya hari ini di sekolah. Oh ya, Luna juga tidak lupa menceritakan awal pertemuan dengan Juan kemarin, seseorang yang ia ceritakan sebagai laki – laki dingin yang menyebalkan pada Ayahnya, Edi di dalam sebuah mobil sedan hitam yang sedang Ayahnya kendarai di bawah derasnya hujan hari itu.


“Terus apalagi?” Respon sang Ayah yang selalu menjadi pendengar yang baik bagi Luna. Begitulah kedekatan Ayah dan anak ini sebelum mereka menjadi sejauh sekarang yang entah karena apa.


“Hmmm udah sih itu aj- Awassss Yah!!!” Tiba – tiba Luna berteriak memperingatkan sang Ayah dengan pandangannya yang lurus ke depan. Edi yang kaget menginjak pedal gas secara mendadak sambil tangan kirinya menahan tubuh Luna agar tidak terbentuk ke depan.

__ADS_1


Tampak seorang pemuda dengan wajah paniknya tengah mendekat ke jendela mobil Edi. Ia tampak bicara sesuatu sambil menunduk beberapa kali. Edi pun membuka jendelanya setengah, barulah suara pemuda itu cukup terdengar di tengah bunyi desiran keras hujan lebat.


“Maaf Pak, Maaff sekali saya panik gak lihat ada mobil. Maaff sekali lagi” Kata pemuda itu beberapa kali.


“O-ohh iya Mas gapapa” Sahut Edi yang mencoba mengerti, baru akan menaikkan jendela mobilnya kembali, pemuda itu dengan cepat mencegat.


“Hmm P-Pak maaff apa boleh saya minta tolong, Ibu saya pingsan disana (sambil menunjuk sebuah ruko kosong dibelakangnya) saya cari bantuan dari tadi tapi gak ada yang berhenti, saya bingung harus gimana. Tolong saya Pak, tolongg…” Jelasnya dengan memohon, tampak sekali kegelisahan dan ketakutan di wajahnya.


Edi disana tampak masih berpikir, bukan ia tidak mau menolong. Tapi sedang menimbang – nimbang takut ini hanya modus penipuan.


“Yah tolong aja yaa, kasihan Masnya, ini juga hujan, Ibunya juga kasihan tuh” Kali ini suara Luna terdnegar ikut memohon. Dan akhirnya wajah memelas dan kelembutan hati Luna yang meluluhkan serta meyakinkan Edi untuk menolong pemuda tersebut.


“Ayo kita gendong Ibu kamu ke mobil saya lalu kita ke rumah sakit, kebetulan saya Dokter” Ucap Edi.


“Kamu disini aja ya, jangan kemana – mana “ Pesan Edi pada Luna sebelum membuka pintu mobilnya yang dijawab anggukan cepat dari Luna.


Berikutnya Edi dan pemuda tersebut berlari menuju teras ruko kosong dimana terbaring Ibunya yang lemah. Mereka menggendong wanita paruh baya yang pingsan tersebut ke mobil dan Edi pun langsung melajukan mobilnya ke rumah sakit tempat ia bekerja.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa untuk selalu tinggalkan like dan komen di akhir bacaan ya. Karna dukungan kalian adalah semangat menulis aku. Terimakasih ☺


__ADS_2