Hati Lunara

Hati Lunara
Bab 44


__ADS_3

Selain air mata sedih Yana yang di artikan berbeda oleh orang-orang disana sebenarnya ada juga yang meneteskan air mata pilu seperti Yana. Ia adalah Vera. Dokter Vera memiliki perasaan lebih pada Rey yang sekarang sudah menjadi suami Yana.


Ia menyeka air matanya kasar dengan sorot mata tajam ke arah Yana dan Rey yang sedang melakukan prosesi sungkem. Ia mengepalkan tangan di atas pahanya. Ia tidak terima. Iri. Marah. Dan benci. Seharusnya dia yang ada disitu mendampingi Rey.


Masih lekat di ingatannya ke beberapa hari sebelum pernikahan Rey dan Yana berlangsung.


Flashback On


Tok tok tok!


"Masuk"


Pintupun kemudian terbuka setelah sahutan izin dari pemilik ruangan yang tak lain adalah ruang Rey di rumah sakit.


Di balik pergerakan pintu itu terlihat sosok wanita cantik berjas putih seperti dirinya yang


selalu mencari kesempatan dan begitu gencar mencari perhatian Rey tengah menenteng rantang berwarna biru. Ia masuk kemudian mendekat dengan sengum yang ia tunjukkan semanis mungkin. Diletakkannya rantang itu tepat di atas meja depan Rey duduk.


Rey mendongak. Menunggu penjelasan maksud dari kedatangan Vera, membawa rantang pula. Sebenarnya semua orang yang melihat itu sudah pasti bisa mengartikan bahwa Vera sedang memberikan makan siang, begitupun Rey. Tapi pria tetap menunggu penjelasan Vera melalui tatapannya.


"Saya hari ini baru belajar masak rendang, kesukaan dokter kan, saya bukain ya"


Katanya semangat sambil membuka rantang yang tadi dibawanya. Rey hanya diam pasrah, menolak tidak enak, dibiarkan pun ia juga risih sebenarnya.


Ia dorong satuan rantang di tangannya yang sudah ia tambahkan sepotong rendang ke arah Rey.


"Enak gak?"


Tanya Vera setelah sesendok nasi dan rendang masuk ke mulut Rey. Rey hanya mengangguk lemah sambil sedikit tersenyum tanpa menoleh.


"Makasih, tapi harusnya kamu gak perlu repot seperti ini"


"Gak repot kok, saya malah seneng, mau saya suapin?"


Tawar Vera dengan sumringah melihat Rey yang seperti malas makan.


Rey berjengit tidak suka melirik Vera.


"Tolong jaga sikap kamu"


Senyum Vera terturun dan berubah jadi cebikan bibir sewot.


Tak lama tangan Vera tergerak mengusap bibir bawah Rey dengan ibu jarinya.


Rey tercekat hingga berdiri dari duduknya.


"Saya sudah bilang jaga sikap kamu"


Ucap Rey tegas. Vera ikut berdiri.


"Saya cuma mau bersihin bumbu rendang yang nempel di bibir Dokter"


Jawabnya santai.

__ADS_1


"Lagian kenapa sih, dokter kayak ngehindar gitu dari saya, asal Dokter tau ya, saya tuh sebenarnya suka sama Dokter"


Rey menoleh kaget. Mudah sekali wanita ini bicara begitu.


"Dokter sebenarnya juga punya perasaan yang kan dengan saya?"


Ucapnya begitu percaya diri.


Rey menghela nafas malas. Ia menarik laci mejanya mengeluarkan sebuah benda pipih dari sana.


Tring!


Rey menghentikan kegiatannya sebentar seiring mendengar bunyi dering HP yang bukan miliknya. Itu milik Vera.


Gadis itu pun merogoh saku jas dokternya, mengambil gawai handphone miliknya dan mengangkat telepon itu sambil keluar dari sana.


Sebelumnya Rey mengangguk saat Vera memberi isyarat akan keluar. Kemudian ia kembali duduk dan memandangi benda yang tadi ia keluarkan dari laci. Itu adalah undangan pernikahannya dengan Yana. Disana juga tertulis nama Veranda sebagai salah satu yang akan diundang.


Ia membereskan rantang bawaan Vera kemudian menjinjingnya dan keluar. Menoleh kesana kemari mencari keberadaan Vera. Setelahnya lewatlah seorang Office Boy yang Rey kenal cukup lama. Rey mencegatnya.


"Pak, tolong ini dikembalikan ke Vera, jangan lupa sampaikan terimakasih dan saya tunggu dia di ruangan saya ya"


Kata Rey sambil menunjuk ruangan miliknya yang ada di belakangnya.


"Oo iya baik Dok"


"Makasih, oo iya ini"


"Ada sedikit rezeki untuk Pak Ujang"


OB itu melongo dengan mata berbinar. Bukan pertama kali Rey seperti ini. Tapi setiap Rey memberikan sesuatu padanya, ia selalu berbinar haru seperti ini.


"Makasih ya, Dokter selalu baik sama saya"


Rey tersenyum. Menepuk pelan bahu OB yang ia panggil Pak Ujang itu.


"Sama-sama, undangan saya kemarin jangan sampai gak dateng ya Pak"


"Ohh yang itu, iya InsyaAllah saya pasti datang, selamat ya Dok atas pernikahan, semoga sakinah mawaddah warahmah"


Balasnya.


"Aamiinn, makasih Pak, kalau gitu saya balik ke ruangan saya ya, Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam"


- - -


30 menit kemudian Vera berjalan kembali menuju ruangan Rey dengan bibir yang terus tertarik membentuk lengkungan senyum yang sangat bahagia.


Mendengar pesan terima kasih dari Pak Ujang dari Rey tadi membuat hatinya berbunga-bunga, tak hanya itu Pak Ujang juga berujar bahwa Rey sedang menunggunya di ruangan pria itu. Ohh sungguh... Dia sangat senang dan meleleh mendengar itu dan yakin jika Rey akan membalas perasaannya.


Merapikan anak rambut dan pakaiannya sebentar di depan pintu. Vera kemudian mengetuk pintu ruangan Rey di depannya.

__ADS_1


"Masuk"


Ia tersenyum setelah mendengar suara Rey dari dalam sana. Ia masuk perlahan masih sambil tersenyum genit ke arah Rey.


"Manggil saya?"


Tanyanya sesudah menutup pintu kembali.


"Iya, Makasih atas makan siang tadi tapi setelah ini kamu gak perlu repot bawain saya atau masakin saya seperti itu lagi ya"


"Saya kan udah bilang gak repot"


Sahutnya dengan menunduk malu-malu mengulum senyum.


"Mengenai perasaan yang kamu utarakan tadi..."


Jantung Vera serasa akan meledak seiring kalimat Rey yang tertahan. Ia berpikir Rey setelah ini akan membalas perasaannya.


Rey menggeser sebuah benda mirip surat namun tebal, berawarna hitam emas mewah berinisialkan R dan Y.


Vera menoleh ke akhir gerakan tangan Rey di atas meja. Ia kerutkan sedikit dahinya.


Undangan? Untuk dirinya? Vera membatin melihat namanya tertulis disana sebagai tamu undangan.


"Ini undangan nikahan siapa?"


Tanyanya seraya mengangkat undangan itu dari meja Rey untuk bisa ia baca lebih fokus lagi. Ia pun membelalakkan matanya setelah membaca nama lengkap pasangan yang akan menikah di dalam surat undangan itu. Sekarang dia merasa jantungnya benar-benar meledak.


"Saya sudah berniat memberikan undangan ini dari kemarin. Tapi kamu gak masuk dan gak ada orang yang bisa saya pintai tolong untuk menitipkannya. Tadi juga sempat tertunda karena kamu ada telepon"


Vera tidak menjawab, jelas di wajahnya masih penuh oleh ekspresi kaget.


"Saya yakin kamu wanita baik, dan suatu saat kamu juga akan bertemu pria baik bahkan lebih baik dari saya"


Vera runtuh. Dunianya serasa berhenti, jiwanya yang ambisius tidak bisa menerima ini. Ia lantas melempar undangan itu dan bergerak cepat menghambur memeluk Rey.


Rey sekuat tenaga melepas belitan tangan wanita itu.


"Jaga sikap kamu, saya ini akan menikah"


Katanya dengan suara meninggi.


"Saya cinta banget sama Dokter, tolong jangan menikah dengan wanita itu, saya mohon"


Ia benar-benar menjatuhkan harga dirinya dengan mengemis cinta Rey seperti ini sambil berlinang air mata.


"Jangan seperti ini Dokter Vera. Jangan merendahkan diri kamu untuk sesuatu yang tidak bisa kamu dapat. Gak semua yang kamu inginkan itu harus kamu dapatkan"


Vera menggeleng, ia masih berusaha mendekati Rey. Sedangkan Rey mulai tidak merasa aman. Ia kemudian sedikit menyentak tangan Vera.


"Saya mohon jangan seperti ini, saya minta maaf tidak bisa membalas perasaan kamu"


Katanya tegas kemudian keluar dari sana sebelum Vera berbuat lebih gila lagi jika di dekatnya.

__ADS_1


__ADS_2