
Edi menyambar ucapan Yana untuk meluruskan perkiraan Yana. Dapat Yana lihat kecanggungan Edi di kata terakhirnya yaitu “Luna”. Antara percaya dan tidak percaya, Yana malah merasa lidahnya kelu. Ia hanya bisa terdiam, masih mencoba mencerna kalimat sang Ayah. Takut-takut ia tadi hanya salah dengar.
“Jadi? Gak boleh apa gimana? Kok diem gitu sih” Edi kembali bersuara memastikan. Yana terkesiap.
“Ehh y-ya boleh dong, masa gak boleh. Kita be-berangkat sekarang?” Meski terbata-bata karena masih shock. Tapi jujur saja ada kelegaan yang besar di hati Yana saat ini. Sekaligus keharuan. Edi pun langsung membuka jas putihnya kemudian mengambil kunci mobilnya dari laci. Mereka melewati waktu perjalanan di dalam mobil dengan sunyi. Hanya sesekali saja interaksi antara mereka sebatas Yana yang menuntun jalan tempat restoran yang sudah ia rencanakan bersama Luna melalui pesan tadi.
Sampai. Restoran itu terbilang baru dengan konsep kaca. Jadi begitu tiba disana, dapat Yana dan Edi lihat tubuh Luna sudah duduk dengan fokus matanya ke ponsel di tangannya di dalam restoran itu. Pengunjung disana juga tidak ramai, hanya dua/tiga meja yang terisi selain meja yang digunakan Luna.
Mereka pun turun, Yana turun dengan senang hati berbeda dengan Edi yang merasa canggung. Luna terlalu fokus dengan ponselnya hingga tak menyadari adik dan Ayahnya itu sudah berdiri di hadapannya.
“Kak” Seru Yana mencoba membuat Luna menoleh. Luna yang sedang membaca kontrak kerjanya lewat ponsel itu tidak langsung menoleh karena sudah tau siapa si pemilik suara.
“Udah sampe? Duduk Yan” Balasnya yang masih saja fokus dengan ponsel di tangannya.
“Iya nih, Yana datang sama Ayah, katanya mau ikut makan siang bareng kita”
Ehh? Ayah? Luna akhinya dengan cepat mendongak. Mencoba memastikan perkataan Yana. Ternyata benar, Luna dapati tubuh Edi yang berdiri di samping Yana tengah memandang ke arah lain dengan wajah dibuat sesantai mungkin. Luna pun mematikan layar ponselnya dengan ibu jari tanpa mengalihkan pandangannya pada sang Ayah.
“Yahh…” Seru Luna lirih. Edi hanya melirik sekilas dan matanya bergerlya kemana-mana. Asal tidak memandang Luna lama-lama saja.
__ADS_1
“Duduk Yah” Sambung Luna mempersilahkan Edi.
Mereka pun akhirnya duduk di meja berbentuk bundar dengan 4 kursi disana, dimana Luna duduk berhadapan dengan Edi dan Yana menjadi penengahnya. Seorang pelayan datang menyajikan menu. Mereka memilih dalam diam sambil mata Luna sesekali melirik sang Ayah di depannya. Sungguh, Luna merasa waktu makannya hari ini sangatlah istimewa.
Pertama sarapan bersama Bunda, sekarang makan siang bersama Ayah dan Yana. Ia jadi tidak sabar dengan makan malam nanti. Siapa tau mereka bisa makan berempat seperti dulu. Ahhh lebih baik jangan terlalu berharap. Cukup syukuri yang ada saja dulu saat ini. Buru-buru Luna mengusir pikirannya itu. Makan siang sekarang saja makanannya belum datang tapi dia sudah memikirkan untuk makan malam. Setelah pelayan mencatat semua menu yang disebutkan oleh Luna, Edi, dan Yana, diapun kembali mengambil alih buku menu lalu masuk. Dapat Yana rasakan dengan kuat atmosfernya saat ini terasa sangat dingin dan kaku oleh kepungan dua orang terdekatnya sekarang yang saling adu bisu.
“Hmm gimana naskahnya kak?” Yana bertanya guna sedikit mencairkan suasana.
“Hahh? Ohh ba-baik kok Alhamdulillah” Yana mengerutkan dahinya.
“Baik? Maksudnya keterima nggak?” Ha? Luna menoleh, ia seperti kehilangan konsentrasi.
“Keterima Yan Alhamdulillah, kakak ngajak kamu makan siang karena mau ngasi tau itu sebagai kejutan” Ungkap Luna penuh haru.
“Alhamdulillahhh ya Allah Yana seneng bangett dengernya. Dari awal Yana tuh udah yakin pasti keterima” Ucap Yana ikut bersyukur dan membanggakan kakaknya.
“Oh iya, suami kamu kok gak ikut?” Tanya Luna kemudian menyadari tidak adanya keberadaan Rey.
“Mas Rey ada urusan katanya tapi gak tau kemana” Luna pun mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
__ADS_1
“Ohh iya kak, tadi teman aku bilang, kebaya wisuda kakak udah selesai dan bisa di ambil hari ini” Tambah Yana, mendengar kata wisuda Edi mendongak namun buru buru berlaga acuh lagi
“Ohh ya? Yaudah kalau gitu pulang dari sini kakak ambil kebaya nya” Jawab Luna kemudian dengan ragu mengalihkan pandangannya sang Ayah
“Hmm, Yah… Lusa Luna wisuda, Luna pengen kalau Ayah dan Bunda bisa dateng damping Luna, kalau Ayah dan Bunda bisa dateng Luna bakal senengg banget” Kata Luna dengan sumringah, tapi sang Ayah hanya melihatnya sebentar tanpa menjawab membuat Luna terdiam dan tak berharap banyak lagi jika kedua orang tuanya akan hadir
“Ceritain dong tadi gimana kakak bisa keterima” Ujar Yana dengan semangat demi mengabur lara sang kakak
Akhirnya, Luna menceritakan proses naskahnya tadi bisa diterima di penerbit yang memang ingin ia tuju. Disana Edi memang terlihat seperti acuh dan lebih tertarik untuk melihat ke sekitaran. Padahal sejak tadi ia mendengarkan dan mengamati setiap kata-kata kedua putrinya dengan seksama. Jauh di lubuk hatinya ia pun ikut bangga dan bersyukur dengan keberhasilan Luna. Tak lama makanan pun akahirnya tiba untuk dihidangkan. Mereka langsung menyambar makanan yang sudah mereka pesan masing-masing seterusnya mereka makan dalam diam.
“Yahhh mau” Ucap Yana seraya mencomot sebuah kue yang di pesan Edi sebagai makanan penutup. Itu adalah salah satu kebiasaan Ayah mereka, dimana makan harus selalu ada makanan manis sebagai penutup. Edi tidak menjawab tidak juga melarang yang artinya mengizinkan. Bahkan jika Edi berkata tidak pun, Yana akan tetap memintanya.
“Hmmm enak semua makanan disini. Kuenya juga, ini apa ya tapi bahan dasarnya?” Yana bergumam sendiri memuji makanan disana, sampai sudah suapan ketiga pun ia masih memujinya. Lalu ia comot sesendok lagi kue milik sang Ayah. Kali ini bukan untuk dirinya, melainkan untuk ia sodorkan ke Luna agar ikut mencicipi lezatnya kue tersebut.
“Cobain deh kak” Luna hendak menerimanya dan sudah membuka mulut, namun dengan gerakan cepat Edi mencondongkan tubuhnya ke depan dengan terbelalak mencekal tangan Yana hingga sendok itu terjatuh ke lantai. Membuat Luna dan Yana tersentak kaget dan juga takut.
“Kamu apa-apaan sih!” Kata Edi dengan suara meninggi.
Astaga, mendadak hati Luna menciut, apa Ayahnya marah hanya karena tidak ingin Luna ikut mencicipi kue miliknya seperti Yana. Luna akhirnya menunduk sedih dan takut yang bercampur aduk.
__ADS_1