
Brakkk!
Lia tersentak hingga berjengit. Matanya menyoroti dua koper besar yang di lempar Edi secara sembarang ke hadapan Lia begitu tubuh wanita yang menjadi istrinya itu masuk melalui pintu kamar mereka.
“Mas…” Serunya lirih setelah memalingkan wajahnya ke arah Edi yang kini berdiri membelakanginya. Tidak terdengar ada jawaban. Lia pun maju secara perlahan dan mencoba menyentuh lengan sang suami. Edi bisa melihat pergerakan tangan itu dari ekor matanya. Ia pun menarik tangannya menjauh agar tak terjangkau oleh Lia.
“Aku gak mau nyakitin kamu Lia, lebih baik kamu keluar dari sini” Ungkap Edi. Tapi suaranya terdengar frustasi, tidak ada kata-kata kasar atau nada tinggi. Mungkin Edi sudah kehabisan tenaga dan kata-katanya. Tapi dari setiap kata yang diucapkannya tadi terdengar sangat berat dan menyimpan banyak sekali dendam juga emosi.
“Apa udah gak ada kesempatan lagi untuk rumah tangga ini?” Lia malah bertanya demikian. Edi tak menjawab juga tak bergeming dari tempatnya.
“Nggak. Ada yang mau lebih aku tau. Mengenai Luna-“
“Aku gak ingin membahas siapapun” Edi menyekat perkataan Lia. Sungguh demi apapun ia sedang menahan emosi yang menggelegak dalam dirinya saat ini. Ia tidak ingin berbuat kasar dengan membahas apapun yang bisa semakin menyulut emosinya. Tapi Lia seolah tidak mengerti, ia masih kekeh melanjutkan kalimatnya yang sedang terhenti.
“Jauh di dalam hati kamu. Kamu itu menyayangi Luna kan. Terlepas dari semua yang sudah kamu lakukan ke dia, tapi kasih sayang itu gak pernah berkurang apalagi hilang kan”
“Jangan pancing aku Lia” Katanya mulai tersulut.
“Aku hanya ingin jangan dustakan kasih sayang itu mas. Kalau memang kamu sayang dengan Luna maka sayangi lah dia. Luna gak berdosa, gak tau apapun. Kalau kamu ingin menghukum cukup hukum aku. Jangan Luna” Lia mulai terisak.
“Luna menyanyangi kamu lebih dari apapun”
“CUKUP!!!!”
“Aku bilang cukup, pergi kamu dari sini” Katanya keras dan menunjuk pintu kamar.
__ADS_1
Lia pun berjalan memungut kedua kopernya dan berlalu pergi.
“Kamu bawa Luna ke kamar aja” Perintah Rey pada Yana yang langsung diangguki olehnya.
“Ehmm…” Luna menahannya.
“Luna biar tidur di kamar lain aja atau kalau gak ada di sofa aja” Luna menolak begitu Yana sudah merangkul bahunya untuk masuk ke kamar.
“Jangan dong, kamu biar sama Yana gapapa. Udah lama kan kalian gak nginep bareng, saya tidur disitu kok” Kata Rey menunjuk pintu kamar sebelah.
Akhirnya Luna pun ikut melangkahkan kakinya seiring tuntunan langkah kaki Yana.
Begitu masuk, Luna memperhatikan seluruh isi kamar Yana dan Rey. Begitu pikirnya, padahal bisa dibilang kamar ini hanya kamar Yana.
“Yaudah ini kamar mandinya kak” Yana menunjuk pintu kayu yang ada di kamar tersebut.
“Kita salat sama-sama ya” Ajaknya seraya berdiri.
“Iya” Jawab Yana dengan tersenyum.
“Mas Rey gak mau salat bareng?” Luna bertanya setelah keluar dari kamar mandi.
“Mas Rey salatnya di masjid kak”
“Ohh..” Luna dan Yana akhirnya salat secara bergantian, karena ternyata disana hanya ada satu mukenah. Setelah salat Luna mengatakan ingin langsung tidur saja. Yana mengiyakan, ia mengerti itu hanya alasan Luna untuk menghindari pembicaraan apapun mengenai kejadian tadi. 30 menit setelah itu, Rey mengetuk pintu. Yana pun segera membukanya.
__ADS_1
“Makan dulu yuk, Luna mana?” Rey langsung berkata demikian begitu pintu terbuka.
“Kak Luna bilangnya mau tidur sih, itu kayaknya udah tidur deh” Rey menghela nafas.
“Yaudah mungkin dia memang perlu waktu dulu, kalau gitu kamu aja dulu yang makan ayo, saya udah beli soto” Ajak Rey.
“Hmm nggak ah mas, Yana jadi udah gak laper, mau langsung tidur juga aja”
“Jangan gitu. Dari kita pulang sore tadi kamu belum ada makan apa-apa. Ingat kamu lagi hamil. Ayo” Desak Rey. Kalau sudah membahas anak Yana bisa apa selain tidak mengiyakan. Yana pun memakan makanannya dengan malas.
“Mas…” Serunya di sela makan.
“Hmm” Rey hanya berdehem menanggapi.
“Om tadi itu siapa sih. Kok Bunda sam Ayah sampe segitunya. Mas juga kenal. Mas tau sesuatu ya?” Tanya Yana mulai curiga. Apalagi melihat Rey yang seperti kebingungan untuk menjawab.
“Mas” Panggilnya lagi karna Rey tak kunjung menjawab.
“Saya juga gak tau pasti. Tapi ada baiknya kita jangan bahas ini dulu selama, kita fokus sama Luna aja dulu. Dan kamupun jangan sampai jadi beban pikiran karena ini” Jelas Rey kemudian menyuap nasi dan soto lagi ke dalam mulutnya. Yana hanya mendesah malas tanpa menjawab. Sementara Luna di dalam kamar tidak benar-benar tertidur. Ia hanya ingin menenangkan segala emosi yang bercampur dalam dirinya sekarang. Ya Tuhan… Jika sudah seperti ini ingin rasanya ia lenyap saja. Ahh jika dilihat Luna memang terlihat lemah sekali. Tapi percayalah, apa yang dihadapinya memang tidak semudah itu. Tak lama suara pintu terdengar di buka. Kemudian ranjang yang ia tempati pun terasa dinaiki juga. Luna tidak perlu menoleh untuk mencari tau siapa, itu sudah pasti Yana. Dari gerakannya, terasa sekali Yana datang hingga ikut berbaring dengan sangat hati-hati. Mungkin ia takut menganggu tidur Luna. Yana berbaring dengan memunggungi Luna begiupun sebaliknya. Sekarang posisi mereka adalah saling membelakangi.
Entah sudah berapa lama Luna di posisi ini, bahkan Yana di sebelahnya sudah bernafas dengan sangat teratur dalam tidurnya. Tapi kedua matanya malah semakin tidak mengantuk. Pikiran Luna mendadak teringat dan berlabuh pada wajah pria asing di restoran yang sudah memicu keributan dalam keluarganya tadi. Asing? Tapi kenapa seperti tidak asing juga. Luna mencoba mengingat-ingat dengan lebih keras. Kemudian matanya membulat. Ya. Luna sepertinya tau pria yang ia ketahui bernama Arief itu siapa.
Ayah Juan?
Gumamnya dalam hati dengan kernyitan dahi halus.
__ADS_1