Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 22


__ADS_3

“Juan… Mama tau ini berat buat kamu, Mama tau ini terllau tiba – tiba. Tapi ada sesuatu yang harus kamu mengerti, sekarang Mama mohon kamu keluar dulu. Kita bicara baik – baik nak. Mama mohon” Pinta lagi Nia padanya.


Nia masih belum mendengar apapun dari Juan, kamar putra semata wayangnya itu terdengar sangat sunyi. Nia pun akhirnya terdiam dan semakin menangis di balik pintu kamar Juan.


Di dalam sana, Juan yang hanya memasang wajah tak berekspresi tiba – tiba meneteskan air dari mata kirinya. Lalu disusul mata kanannya.


Sama seperti Luna, Juan pun melupakan agendanya membaca buku di danau bersama Luna setiap akhir pekan.


Juan merasa pikirannya kosong, air mata yang jarang sekali keluar dari matanya sekarang lolos dan mengalir begitu mudahnya.


Masih pekat dalam pikirannya dan terngiang di telinganya kejadian tadi malam


MALAM TADI


Juan tidak bisa tidur malam ini, sudah berapa kali pindah posisi, memejamkan mata tapi tetap ia tidak tertidur, mungkin ini karna tadi siang ia tidur cukup lama.


Ia mulai gusar, badannya juga sudah pegal berbaring dari tadi tapi belum juga tertidur, Juan pun membuka matanya, bangkit dari tidurnya lalu duduk sebentar. Juan berniat keluar menonton TV atau apapun itu untuk memecah rasa bosannya. Kadang Papanya juga belum tidur, maka Juan pun mencoba ke kamar orang tuanya, berencana mengajak sang Papa untuk menemaninya menonton, setelah sampai di depan pintu kamar Mama dan Papanya, ia coba mengetuk pintunya dari luar.


“Pa? Nonton yuk? Papa udah tidur?” Juan bertanya dari balik pintu, merasa taka da sahutan, Juan membukanya secara perlahan.


“Ma? Pa” Serunya lagi.


Anehnya Juan tak melihat siapapun di atas kasur. Ia perlahan masuk mengecek kamar mandi pribadi di dalam kamar orang tuanya. Dan hasilnya pun nihil.

__ADS_1


Mama Papa kemana ya? Kok gak ada di kamar… Juan bertanya – tanya dalma hatinya.


Sedetik kemudian, dengan suasana rumah yang begitu hening Juan dapat mendengar suara gelas di dapur.


Ohh mungkin Mama Papa nya di dapur. Begitu pikir Juan. Maka selanjutnya, Juan pun melangkahkan kaki keluar kamar Mama Papanya menuju dapur. Begitu sampai Juan melihat seorang Wanita yang tengah minum sekaligus menoleh pada Juan juga.


“Den” seru wanita tersebut setelah menghabiskan minumnya.


“Ohh Bi Mar, kirain tadi Mama atau Papa” Sahutnya kecewa. Kalo disini Cuma ada Bi Mar jadi kemana sih Mama dan Papa Juan ini.


“Bi Mar belum tidur?” Tanya Juan lagi pada seseorang yang ia panggil Mar tersebut. Itu adalah Marni, asisten rumah tangga Juan.


“Udah, Cuma tadi bangun mau tahajud aja terus mau minum sebelum tidur, den Juan kok belum tidur?” Sekrang Bi Mar yang balik bertanya.


“Ohh mereka belum pulang sih setau Bibi” Jawab Bi Mar.


“Hahhh???” Juan merespon kaget lalu menoleh pada jam dinding.


Udah jam 01.29


Udah dini hari tapi Mama dan Papa belum pulang, jika diingat – ingat belum pernah rasanya Mama dan Papanya ada urusan kerjaan sampai selarut ini. Juan mulai was – was.


Mengerti kekhawatiran anak majikannya itu, Bi Mar pun berkata

__ADS_1


“Mungkin aja kali ini memang lagi ada urusan kerjaan atau ada urusan dirumah teman atau apa gitu dan lupa ngabarin. Den Juan tidur aja, biar Bibi yang nungguin Ibu sama Bapak. Kalau mereka udah dating nanti Bibi bangunin ya” Tuturnya lembut mencoba menenangkan Juan


“Tapi rasanya aneh Bi, Mama sama Papa belum pernah kayak gini, kalaupun pulang malam pasti ngabarin dulu kan atau titip pesan. Selain itu juga gak pernah sampai yang semalam ini” Sahut Juan.


“Yaudah kalau gitu kita ciba telpon aja gimana?” Bi Mar memberi saran.


Juan mengangguk menyetujui lalu berlari menuju meja di ruang keluarga, dimana disana terdapat sebuah telfon berwarna hitam. Dengan cepat ia menekan tombol – tombol angka disana.


Sudah lebih dari 7 kali, tapi tidak ada satupun panggilan Juan ada yang diangkat. Juan semakin gelisah dibuatnya.


Saking paniknya ia saat ini, Juan sampai – sampai tak menyadari ada suara deru mobil yang baru datang di garasi rumahnya. Dari suaranya, baik Juan maupun Bi Mar pasti sudah hafal jika itu kedua mobil orang tua Juan.


Bi Mar sedikit mengerutkan dahi, karna ia menyadari suara mobil yang baru saja terparkir seperti dapat disimpulkan bahwa kedua mobil tersebut mulanya ngebut kemudian di rem secara mendadak.


“Den” Seru Marni yang menyadari suara mobil datang. Tapi Juan masih berusaha menelpon.


“Den” Seru Bi Mar lagi.


“Sebentar Bi, aku mau coba telpon Mama lagi” Kata Juan mencoba meminta Marni untuk tidak menganggunya dulu secara halus.


“Itu Ibu sama Bapak udah dating” Ucap Marni sambil menunjuk ke garasi.


Mendengar itu, Juan langsung meletakkan telfonnya dan menuju ke garasi. Tapi ia melihat ada yang tidak beres pada raut wajah kedua orang tuanya.

__ADS_1


__ADS_2