
Yana meruntuhkan perlahan senyum di bibirnya melihat wajah Luna yang begitu serius
"Hmm kita masuk dulu yuk, kakak kan baru pulang" Kata Yana mengalihkan pembicaraan dan mengambil alih koper dari tangan sang kakak. Mereka masuk ke kamar Luna dan duduk di sisi ranjang
"Sekarang ceritain selengkap-lengkapnya ke kakak" Yana terlihat begitu gugup, dia tidak tahu harus mulai bercerita dari mana
"Maafin aku ya kak" Mulai terdengar isak tangis dari Yana membuat Luna iba dan merangkul bahu sang adik menenangkan
"Kamu harus cerita Yan... kakak harus tau apa yang udah terjadi sama kamu" Yana pun akhirnya mulai bercerita bahwa anak itu tak lain adalah anak dari pacarnya sendiri, seorang laki-laki bernama Yudha yang sudah bekerja sebagai seorang pengusaha muda, mereka bertemu saat keduanya berusaha menolong seorang anak kecil korban tabrak lari setahun yang lalu, mereka berkenalan kemudkan berteman lalu tumbuhlah perasaan kasih di hati mereka hingga memutuskan menjalin hubungan pacaran, semuanya berjalan baik-baik saja dan mereka juga menjalani pacaran seperti pasangan pada umumnya, namun di suatu pagi di hari minggu Yana datang ke rumah Yudha yang sedang sakit, kebetulan Yudha adalah anak yatim piatu dan hidup di panti asuhan, sosok laki-laki mandiri yang sukses karena usahanya sendiri membuat Yana semakin kagum padanya, pagi itu Yana membawakan bubur dan obat untuk Yudha karena sebelumnya ia berkata bahwa asisten rumah tangga dirumahnya sedang cuti, sejak subuh hari memang terlihat akan ada tanda datangnya hujan, untungnya hujan lebat turun begitu Yana sampai di kediaman Yudha, berada di satu ruangan hanya berdua membuat mereka dengan mudahnya termakan hasutan setan dan terjadilah perbuatan haram di pagi itu, beberapa minggu setelahnya Yana menyadari bahwa dirinya sedang mengandung namun hingga kini belum ada keberanian dalam diri Yana untuk memberitahukannya pada Yudha dengan alasan takut jika Yudha tidak mau menerimanya dan malah pergi meninggalkan dirinya
"Biar bagaimanapun dia harus tau Yan, kita gak akan pernah tau sebelum mencoba, kalau dia memang laki-laki yang baik dia pasti akn bertanggung jawab, lagipula kamu juga gak mau kan nikah sama dokter Rey" Yana mendongak, Luna benar bahwa ia tidak mau menikah dengan orang yang tak dikenalnya, tapi ketakutan dan keraguan dalam dirinya juga sama besarnya untuk memberitahukan semua pada Yudha
"Kamu gak bisa hanya diam gini, kamu harus cepat memutuskan"
"Yana gak tau kak..." Tangis Yana semakin kencang dalam pelukan Luna
Di lain tempat
Saat ini sedang jam makan siang, Vani dan Dira berniat akan makan di restoran cepat saji yang baru buka hari ini, meski cukup jauh dari kampus tapi tidak meruntuhkan niat mereka untuk kesana tapi ada hal yang lain lebih menarik perhatiannya
__ADS_1
Ya, seorang laki-laki di minimarker tepat di samping restoran itu terlihat sangat tidak asing
"Juan bukan sih?" Tanya Vani memastikan
"Iya deh kayanya, udah pulang ternyata tapi kok gak ngabarin Luna ya" Dira balik bertanya heran
"Udah kali tapi, siapa tau dia baru nyampe, yaudah yuk" Kata Vani seraya membuka sabuk pengamannya
"Ehh gak mau disamperin dulu" Cegah Dira
"Ntar ajala, kayak gak pernah ketemu aja ama tuh bocah, perut gue lebih minta disamperin dulu ama makanan" Dirapun menurut, sambil menunggu pesanan mereka datang Vani menelpon Luna untuk menanyakan keberadaan Juan. Luna yang sedang bersama adiknya menghentikan pembicaraannya dulu setelah melihat panggilan dari Vani
"Wa'alaikumsalam, gimana kabar"
"Alhamdulillah baik, ada apa nih?"
"Nggak kita cuma mau nanya Juan udah ada kabar belum"
"Belum tuh" Vani dan Dira seketika melotot kaget bercampur heran mendengar jawaban Luna. Karena tak ada lanjutan Luna kembali bertanya
__ADS_1
"Kenapa emang?"
"Ee.... itu tadi.."
"Gak ada apa-apa kok, cuma kepo aja, yaudah ya istirahat Lun jangan capek-capek kita mau makan dulu, Assalamu'alaikum" Dira dengan cepat memotong perkataan Vani dan langsung menutup sambungan teleponnya dengan Luna setelah mengucap salam yang belum sempat dijawab oleh Luna
"Dih belum juga dijawab, kenapa sih mereka" Celutuk Luna pelan seraya melihat layar ponselnya yang panggilan nya sudah terputus
Sementara Vani dan Dira...
"Ihh kenapa sih loe" Vani bertanya heran melihat Dira yang mencegah nya memberi tahu Luna
"Luna masih sakit, belum masalah orang tuanya belum lagi masalah Yana, kasihan" Kata Dira mengingatkan, Vani pun mengangguk mengerti
"Terus si Juan kenapa dong, gak biasanya dia gitu, kata Luna mereka juga baik-baik aja kok gak bertengkar sebelumnya, mau bertengkar pun Juan gak pernah se cuek ini, tuh anak kan bucin akut" Dira pun tampak berpikir
"Gini aja, bener kata loe Luna jangan tau dulu, untuk sementara kita yang cari tahu kenapa sama Juan, gimana" Tawar Vani
"Iya iya iya.. bener tuh, kasihan banget Luna, gak kelar-kelar masalahnya" Ucap Dira mengingat nasib sahabat yang begitu penuh dengan air mata itu
__ADS_1
"Awas aja tuh cowok kalau berani macem-macem, gak gue ampunin dia" Kata Vani kemudian dengan geram