
"Boleh saya tanya sesuatu?" Yana menoleh, terdiam sebentar baru kemudian mengangguk.
"Tapi ini cukup pribadi, kalau kamu gak mau jawab pun saya gak masalah" Rey menambahkan.
"Memangnya tentang apa?" Yana jadi penasaran.
"Orang tua kamu"
Ayah Bunda? Yana menyerngitkan dahinya. Rey menoleh hanya untuk memastikan bagaimana respon Yana, ia terlihat heran dan menunggu.
"Apa kamu tau apa dulu orang tua kamu pernah punya masalah?"
"Hah? Masalah? Masalah apa?" Lah si Yana malah balik bertanya.
"Yahh saya gak tau, makanya saya tanya" Yana menggeleng pelan. Rey melihat itu.
"Memang kenapa? Kok tiba-tiba nanyain Ayah Bunda?" Yana bertanya lagi.
"Hmm kamu gak pernah tau alasan mereka yang mendadak berubah pada Luna dulu?" Yana tertegun, pikirannya memutar pada kejadian beberapa tahun lalu saat Luna di seret paksa tanpa sebab menuju gudang oleh Ayahnya. Yana yang ketakutan hanya menangis di kamarnya, ingin menolong tapi Lia menahannya.
"Gak pernah ada yang tau kenapa mas, termasuk Yana" Balasnya menunduk sedih. Yana pun menjadi salah satu orang yang ikut terluka dengan kejadian itu, dimana keluarga bahagianya malah terpecah tanpa tau kenapa. Bahkan sampai sekarang.
"Tapi kenapa tiba-tiba bahas ini? Apa mas Rey tau sesuatu?" Rey yang ditanya seperti itu jadi sedikit gugup.
__ADS_1
"Kamu langsung istirahat aja" Ucap Rey
Baru akan menarik gagang pintu, Yana menghentikan kegiatannya sebentar karena kepala Rey muncul kembali dari balik pintu sebelah.
"Kalau ada apa-apa jangan sungkan bangunkan saya. Selamat tidur" Kalimat itu Rey akhiri dengan senyumannya. Yana hanya ikut tersenyum disusul kepalanya menangguk pelan tanpa bersuara.
- - -
Entah sudah berapa kali Luna mengganti posisi tubuhnya di atas ranjang. Dan entah sudah berapa jam juga ia bersama kegelisahannya yang tak kunjung reda hingga membuatnya sulit tertidur. Ia terduduk, mengambil ponsel mencoba menghubungi kedua sahabatnya. Untuk sekedar mengobrol jika mereka juga belum tidur dan tidak sibuk. Dira tak menjawab. Kemudian Vani, panggilan yang cukup lama masuk membuat Luna berpikir gadis itu juga sudah tertidur seperti Dira. Saat akan memutuskan sambungan teleponnya, Vani malah mengangkat.
"Ehh belum tidur Van?" Luna langsung menyambar telepon itu.
"Hmm iya di goreng" Ehh? Luna sampai mengecek layar ponselnya lagi, takut ia salah sambung. Tapi benar, itu Vani. Ia tempelkan lagi ponsel ke telinganya.
"Goreng aja, gak suka mie rebus" Gumamnya dengan nada bicara aneh. Dari sana Luna mencebikan bibirnya kesal, tau bahwa Vani sedang mengigau.
"Lagi ngigo aja bisa angkat telepon loe ya"Kata Luna yang dibalas dengan suara dengkuran dari balik teleponnya. Memijit pangkal hidungnya, Luna akhirnya memutuskan panggilan itu. Merasa sia-sia, Luna bangkit dan keluar kamar, duduk di meja makan lalu tangannya menggapai air putih dalam teko kaca di tengah meja. Menuangkannya dalam gelas yang ada disana sampai terisi setengah gelas kemudian ia teguk dengan cukup tergesa-gesa sampai habis. Luna menoleh cepat menyadari bayangan hitam datang dari dapur. Bayangan itu ternyata berasal dari Edi, Ayahnya yang juga sedang memandanginya. Mata Luna turun ke bawah, tepatnya ke tangan kanan Edi. Memegang gelas kaca yang masih mengeluarkan kepulan asap banyak.
"Ayah mau minum disini?" Luna bertanya. Edi berdehem sebentar kemudian kembali berjalan.
"Tidur, udah malam" Katanya singkat dab datar melewati Luna.
"Yah... boleh temenin Luna disini sebentar gak? Luna gak bisa tidur" Keluhnya memohon. Entah apa yang terjadi dengan ego Edi malam ini. Ia malah berbalik dan duduk di kursi depan Luna. Meski menurut, tapi wajah Edi tetap dingin juga acuh. Matanya hanya fokus pada ponsel di tangan kirinya sambil sesekali menyesap kopi panas yang baru saja dibuatnya dari dapur. Tapi tidak masalah, seperti ini saja sudah sangat membahagiakan untuk Luna.
__ADS_1
"Dua minggu lagi Luna bakal launching buku pertama Luna Yah" Ungkap Luna memulai percakapan. Ingin mencoba mencairkan suasana bersama sang Ayah yang sudah lama membeku sedikit demi sedikit.
"Luna gak nyangka ternyata peminat cerita yang Luna bikin cukup banyak"
"Nama pena nya Luna, L.U (bacanya elyu), cuma inisial aja sih soalnya bingung mau apa"Saat menjelaskan perihal nama pena nya Luna sedikit terkekeh.
"Awalnya Luna ragu mau jadi penulis novel, karna selama ini Luna taunya cuma puisi. Tapi setelah di coba ternyata sama serunya kok sama puisi"
"Luna banyak belajar juga dari buku-buku yang Ayah beliin dulu" Edi hanya mengangkat lirikan matanya sekilas ke sebatas bahu Luna, tidak ingin melihat mata Luna dan tidak ingin terlihat terlalu peduli. Padahal Edi mendengarkannya dengan seksama tanpa merespon tanpa menyela.
"Waktu udah selesai dan mereview ulang ternyata capek banget, Luna sampe ngeluh gitu saking banyaknya yang harus dikerjain. Sampe mikir gak mau lagi nulis novel"
"Ehh tapi Luna langsung inget kata Ayah kalau Luna lagi capek sampai mau nyerah, tutup mata aja dan ingat selalu ada Ayah Bunda Yana sama Allah tentunya yang jadi kekuatan Luna. Setelah itu Luna mendadak jadi semangat lagi" Luna mengatakan itu dengan seringai senang, kali ini Edi mempertemukan mata mereka. Luna masih mengingat itu ternyata. Kata-kata yang diucapkannya ketika Luna masih 7 tahun. Seiring saling menyelami tatapan mereka, Luna perlahan memudarkan senyumnya menjadi sendu.
"Apa sekarang Luna udah boleh tau?" Tanyanya lirih. Edi mengerutkan keningnya lalu kembali melihat Luna. Ia tidak menjawab tapi raut wajahnya cukup mengatakan bahwa dia tidak mengerti apa yang sedang Luna bicarakan.
"Tentang sikap Ayah... Kenapa tiba-tiba Ayah berubah?" Dapat Luna lihat perubahan air muka Edi menjadi lebih dingin. Ada gurat tidak suka dari apa yang Luna pertanyakan barusan.
"Apa Luna bukan anak Ayah dan Bunda?" Luna menanyakan itu dengan perasaan campur aduk. Sedih dan takut. Takut bahwa semua itu benar. Takut kedua orangtuanya akan mengusirnya.
"Nggak. Apapun itu, tapi Luna cuma mau tau apa Ayah-" Luna menggantung kalimatnya sebentar karena ragu.
"-sayang sama Luna?"
__ADS_1