Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 88


__ADS_3

"Mas Edi suami yang baik. Baik sekali, tapi hidup aku kosong. Biar bagaimanapun pernikahan yang kami bangun tanpa adanya cinta. Aku gak banyak ngomong ke dia, tapi dia gak pernah merasa tersinggung. Sikapnya tetap baik dan lembut, sampai akhirnya di bulan kedua pernikahan kami, dia jujur kalau dia mulai jatuh cinta ke aku, tapi aku malah merasa bersalah dengan pernyataan itu. Karena sampai sekarang aku belum bisa membalas perasaan suami aku sendiri, apalagi menjadi istri yang baik. Parahnya lagi aku malah mencintai orang lain. Gak hanya itu, secara gak langsung pun artinya aku mencintaimu suami orang lain"


Lia menjelaskan kalimat terakhirnya dengan sekilas lirikan ke jari manis Arief, yang mana disana melingkar dengan indah cincin pernikahannya bersama Nia.


"Gak ada bedanya Lia" Arief berkata tanpa menoleh. Pandangannya hanya lurus ke depan. Lia sudah menoleh ke samping untuk menatap wajah pria itu.


"Apanya?" Tanya Lia heran.


"Pernikahan kamu, dan pernikahan aku" Jawab Arief. Sedetik kemudian Arief berdecih dan menyeringai miring.


"Dulu kita sering membahas pernikahan dengan kata "Pernikahan kamu dan aku", tapi siapa yang sangka ternyata kalimat itu berartikan bahwa kita akan berada dalam pernikahan yang berbeda. Pernikahan kamu dan pernikahan aku" Arief mengulang kalimatnya lagi. Namun kali ini seringainya perlahan memudar menjadi raut wajah pilu. Masih jelas dalam ingatan mereka saat-saat dimana hubungan yang mereka jalin selalu di tentang oleh Ayah Lia dengan alasan materi. Arief yang hanya karyawan biasa di sebuah perusahaan swasta tentu tidaklah sebanding dengan Dokter muda seperti Edi di mata Ayah Lia.


Seorang anak tunggal seperti Lia bisa apa selain menurut. Bukan Lia tidak dengan sungguh-sungguh menjalin hubungan dengan Arief, tapi Lia sendiri pun tidak memiliki keberanian yang cukup untuk menentang sang Ayah.


"Maaf" Ucap Lia dengan getir. Hal tersebut berhasil membuat Arief menoleh.


"Maaf karena aku terlalu lemah untuk terus bersama kamu" Kali ini air mata Lia tidak bisa untuk tidak pecah dan mengalir di pipinya. Arief merasa otaknya beku, lidahnya pun kelu hanya untuk sekedar mengatakan "Jangan menangis". Tangan kanannya dengan ragu-ragu sudah tergerak untuk menghapus jejak air mata milik gadis yang sampai sekarang masih ia cintai dan mencintainya juga.


Sakit! Itulah yang mereka rasakan. Meski jarak mereka saat ini dekat. Namun sebenarnya ada sekat yang begitu tinggi dan kokoh membentang menghalangi mereka. Lia dan Arief adalah satu dari ribuan bahkan jutaan atau mungkin tak terhitung dalam kisah dimana cinta dan kebahagiaan kalah dari uang sebagai taraf kehidupan yang tinggi.


Tidak. Arief selalu benci jika harus melihat Lia menangis. Ia tangkup wajah Lia dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Apa pertemuan kita hari ini bukanlah sebuah kebetulan?" Arief bertanya dengan sorot mata dalam.


* * *


Sayup-sayup Nia mendengar bunyi motor mendekat. Dengan sigap ia menyibak selimut yang menutupi sebagian kakinya kemudian Nia sendiripun langsung bergegas menuju pintu.


"Assalamu'alaikum" Suara Arief terdengar dalam salam itu.


"Wa'alaikumsalam mas dari mana aja sih udah jam segini kok baru pulang" Arief yang belum sempat masuk, memajukan dan memiringkan sedikit kepalanya untuk melirik jam dinding di ruang tamu mereka. Ahh ternyata sudah jam 11 malam.


"Yaudah mas ayo masuk, mas bersih-bersih aja dulu. Biar aku panasin makanan buat kamu dulu" Sambung Nia yang membuat Arief lega karena tidak harus segera menjawab pertanyaan pertamanya, jadi ia masih bisa memikirkan alasan yang lebih logis tanpa terburu-buru. Nia pun langsung menyambar tas kerja serta jaket yang dipakai suaminya itu.


"Loh kenapa? Kamu gak mau makan dulu?"


"Gak usah, habis bersih-bersih aku mau langsung tidur aja. Capek" Arief menjawab dengan lesu. Nia pun langsung mendekat dan meletakkan punggung tangannya ke dahi Arief.


"Kamu sakit?" Tanyanya bersamaan sentuhan tangan miliknya di dahi Arief.


"Gak kok, cuma capek aja" Jawab Arief sambil menyiahkan tangan istrinya tersebut. Dalam kamar mandi, Arief berulang kali menyiram kepalanya dengan air dingin secara kasar. Dengan harapan kepalanya yang terasa sangat berat dan panas itu bisa sedikit mendingin.


Ceklek!

__ADS_1


"Mas aku mau ngomong sebentar" Ungkap Nia dengan senyumnya yang tampak sangat sumringah begitu tubuh Arief sudah keluar dari balik pintu kamar mandi di kamar tidur mereka.


"Besok aja ya, aku capek banget" Sahut Arief sambil berjalan menuju ranjang dan langsung merebahkan tubuhnya dengan menyamping membelakangi Nia. Kedua bibir Nia yang mulanya tertarik tinggi dan lebar seketika meluntur.


Ahh! Mungkin suaminya ini memang kelelahan karena pekerjaan. Pikirnya. Nia memang selalu begitu. Berpikir dengan positif dan prasangka yang juga selalu baik.


Keesokan harinya


"Kamu hari ini lembur lagi?" Nia bertanya begitu mendapati tubuh Arief mulai mendekat ke meja makan.


"Hmm i-iya mungkin" Jawabnya gugup.


"Ohh berarti semalam pulang telat juga karena memang lembur ya" Ucap Lia lagi.


"Lain kali kalau lembur gitu kabarin dulu ya mas. Jadinya kan aku gak khawatir nungguin kamu pulang kayak semalam" Ungkap Lia mengingat dirinya semalam yang sampai uring uringan menunggu Arief yang tak kunjung pulang tanpa kabar.


"Iya, maaf semalam HP aku mati dan gak ada charger. Lain kali kalo aku pulang larut kayak tadi malam, kamu gak usah tungguin. Tidur aja, nanti biar aku bawa kunci cadangan aja biar kamu gak repot bukain pintu" Lia dengan cepat menggeleng sambil tersenyum.


"Aku gak repot kok. Kamu mau pulang jam berapapun tetap aku tungguin. Lagian aku senang kalau bisa nyambut kamu terus tiap pulang"


Uhh! Arief jadi merasa bersalah. Disaat istrinya kebingungan menunggu kepulangannya, ia malah bersama wanita lain. Dan mungkinkah Edi juga gelisah menunggu kepulangan Lia seperti Nia tadi malam? Karena kebohongannya kali ini ia pasti akan berbohong lagi demi menutupi kebohongan pertamanya. Hingga semua itu terbendung dalam rasa bersalah yang juga akan terus mendarah daging dalam dirinya. Karena bagaimanapun wanita sebaik Nia tidak pantas untuk tersakiti.

__ADS_1


__ADS_2