Hati Lunara

Hati Lunara
Bab 31


__ADS_3

Beberapa hari setelahnya, semua terasa berjalan dengan lancar. Baik Luna maupun Yana masih tidak menyangka dengan keputusan Edi malam tadi yang mereka dengar.


Tadi malam di kamar Luna yang sempit, ia dan adiknya sedang bercengkerama ringan, Luna berusaha sebaik mungkin mengontrol emosi dan perasaan Yana guna kesehatan calon bayi maupun untuk Yana sendiri. Malam ini Yana mengatakan kondisinya sudah lebih baik, tentu Luna senang mendengar nya. Tangannya tergerak untuk mengelus perut Yana yang masih rata itu, mereka saling melempar senyum membayangkan ada sosok bernyawa sedang menumpang dalam tubuh Yana. Mereka melempar pandang serentak ke arah pergerakan pintu kamar itu. Edi disana masuk dengan mata yang langsung menyorot tidak suka ke posisi tangan Luna sekarang. Hal itu membuat mereka seketika menurunkan tarikan senyum tadi menuju situasi yang cukup tegang saat ini.


"Bawa pacar kamu itu. Jika memang dia pantas. Batalkan pernikahan dengan Rey"


Tegas Edi mengatakan kalimat itu dengan satu tarikan nafas dan langsung meninggalkan kamar itu.


Luna dan Yana saling menoleh kaget dan senang. Telaga bening dari mata Yana pun tak bisa di bendung. Ia bersyukur Ayahnya mau memberikan Yudha kesempatan.


"Sekarang kamu kabari Yudha dan kita atur waktu pertemuannya"


Perintah Luna. Yana dengan cepat mengangguk seraya tangannya menyeka air mata tadi.


Tutt Tutt Tutt


Yana mengotak-atik layarnya lagi dan kembali menempelkannya ke telinga.


Tutt Tutt Tutt


Kenapa?


Tanya Luna ingin tau.


"Gak aktif kak, tumben"


Jawab Yana sambil masih mencoba menghubungi Yudha.


"Udah tidur kali"


Sahut Luna setelah sebelumnya melirik jam di ponsel nya yang sudah menunjukkan pukul 22.00.


"Iya kali ya, HP nya juga lowbat barangkali"


Kata Yana menyetujui dan ikut mencoba berpikir positif.


"Udah malem, tidur gih"


Perintah Luna.


"Aku mau tidur disini aja dehh"


"Jangann dong, kamu harus tidur yang nyaman. Udah sana"


Luna mendesak Yana hingga gadis itu pun akhirnya mau kembali kamarnya meskipun sambil mencebikkan bibirnya kesal.


Setelah sendiri. Luna memandang ponselnya. Ia pun mencoba menghubungi Juan meski sudah beberapa minggu ini masih tidak ada kabar.


Luna dengan segala macam pikirannya terus menekan dirinya untuk tetap berpikir positif. Tapi itu tidak cukup untuk membuatnya tenang, kejadian 8 tahun silam saat kedua orang tuanya tiba-tiba berubah terus berkelabat dalam kepalanya seiring perubahan yang terjadi pada Juan.


Kejadian ini hampir sama. Dan Luna tidak yakin sejauh mana dia bisa bertahan jika ia harus kehilangan satu orang lagi dalam hidupnya.


Untuk saat ini tidak banyak yang bisa Luna lakukan. Prioritas utamanya saat ini adalah Yana dan calon keponakannya.


Keesokan harinya, dengan alasan ingin pergi menemui Vani dan Dira pada Yana. Luna akhirnya memberanikan diri untuk bisa berada disini. Dia sudah tepat di depan pintu salah satu unit apartemen. Tentu saja itu bukan apartemen Vani ataupun Dira. Tapi Juan. Ini pertama kalinya Luna datang ke tempat tinggal Juan, karena mereka memang lebih banyak menghabiskan waktu di danau favorit mereka atau perpustakaan tempat mereka bisa membahas banyak karya sastra dan tokohnya bersama.


Luna berdiri beberapa saat tanpa bergerak menekan bel. Keraguan dan ketakutan akan mendengar kabar atau kenyataan yang pahit nantinya. Setelah dirasa cukup yakin. Luna akhirnya perlahan menggerakkan tangannya menuju tombol bel.


Ting

__ADS_1


Cemas Luna menunggu pintu terbuka.


Ceklek


Luna menampilkan senyumnya saat pintu terbuka. Tunggu. Ini bukan Juan.


"Luna ya?"


Tanya sosok yang membukakan Luna pintu itu.


"Iya. Tante tau ya"


Kata Luna canggung.


"Ya taula. Foto kamu tu lebih bnyak disini daripada foto Ibu"


Luna mengerutkan dahinya mendengar itu. Sesaat sudut hatinya sedikit menghangat.


"ayo masuk"


Ajaknya semangat.


"Assalamu'alaikum"


Salam Luna begitu langkahnya melewati pintu.


"Wa'alaikumsalam"


Jawab wanita berna Nia yang merupakan Ibu Juan itu.


Menuntun Luna duduk di sofa. Bu Nia setelahnya bergerak menyibak gorden disana agar cahaya bisa masuk dan membuat ruangan itu serasa ikut bernafas.


"Kamu mau minum apa sayang?"


Tolak Luna secara halus merasa tidak enak.


"Kok gitu sih. Ibu bikinin jus aja ya"


Luna tetap menolak dengan mencegah namun Bu Nia bersih keras tetap pergi ke dapur.


Luna mengedarkan pandangannya ke sekitar. Berhenti pada meja panjang berisi banyak sekali bingkai-bingkai foto kecil. Luna tergerak untuk mendekat. Ia tersenyum haru. Disana ada juga foto-fotonya yang kebanyakan dirinya saat masih SMP. Membawa memori Luna pada masa lalu seiring foto-foto yang ia lihat sekarang. Mengingat-ingat kejadian-kejadian asli yang terjadi pada saat itu. Membuat Luna sedikit melupakan kegundahan yang mencekiknya dalam beberapa minggu ini.


Mungkin aku hanya salah paham. Pikirnya.


"Lucu ya"


Suara Bu Nia menyusul dari belakang bersama tangannya yang berisi nampan dan segelas jus. Menaruhnya di meja, Bu Nia duduk disana dan tangannya bergerak mengisyaratkan Luna untuk ikut duduk dan meminum jus buatannya.


"Hm... Enak banget. Ini jus apel ya dan gak terlalu manis kayak kesukaannya Luna banget "


Ungkap Luna memuji.


"Iya dong. Juan bilang kamu tuh gak suka manis dan kamu pencinta apel"


"Tapi meskipun gak suka makan manis. Kamunya manis banget kok"


Kata Bu Nia menggoda.


"Tante bisa aja, tante juga cantik banget. Maaf ya Luna baru kali ini bisa berkunjung"

__ADS_1


Bu Nia mengangguk


"Panggilnya Ibu aja jangan tante"


Luna menunduk tersipu malu.


"Oh iya, foto itu"


Bu Nia menunjuk meja panjang berisi kumpulan foto tadi, Luna mengikut arah telunjuk Bu Nia sambil mengangguk.


"Kalau lagi ada arisan disini, teman-teman Ibu suka ngira kamu anak Ibu "


Luna menaikkan kedua alisnya.


"Soalnya kan itu dari kecil kan foto-foto kamu sampe gede. Ibu jawab aja iya calon mantu"


Luna semakin tersipu.


"Ngomong-ngomong Juan kemana tante"


Bukan menjawab, Bu Nia malah menekuk wajahnya menatap Luna. Mulanya Luna tidak mengerti.


"Ehh maksudnya Ibu"


Barulah Bu Nia tersenyum.


"Juan ya di Bandung lah. Jagain Ayahnya baru keluar rumah sakit"


Luna merosot lega. Berarti selama ini benar Juan masih di Bandung. Meskipun tidak masuk akal karena Luna sempat bertemu di apotek rumah sakit tapi Luna dengan mudahnya menganggap ia hanya salah lihat.


"Malah tadi subuh itu hujan kan. Jadi rada cemas juga sebenarnya tadi pas Juan berangkat"


Ehh? Sebentar. Tadi Subuh? Berarti Juan pernah pulang sebelumnya dan baru berangkat lagi tadi subuh?


"Kenapa sayang?"


Tanya Bu Nia melihat Luna mulai kebingungan.


"Maksud Ibu Juan berangkat ke Bandung itu tadi subuh?"


"Iyalah. Emang dia gak ngabarin kamu?"


"Berarti sebelumnya Juan pulang dong ya bu. Kapan dia pulang kesini bu sebelum akhirnya berangkat lagi tadi subuh?"


Tanya Luna dengan dadanya yang bergemuruh.


"Hmm dua minggu lalu. Ya.. sekitaran gitulah"


Deg!


Luna kembali lemah. Ketakutan yang sempat hilang tadi sekarang datang lagi, bahkan lebih besar.


"Emang Juan gak ngabarin kamu? Kalian kenapa emang? Lagi berantem?"


Luna masih shock hanya menggeleng lemah.


"Hmm gak kok bu. Cuma Luna jarang megang HP aja karna disuruh banyak istirahat"


Sedikit aneh dengan pernyataan Luna. Bu Nia mendekat mengusap kepala belakang Luna.

__ADS_1


"Kamu tuh bikin Ibu khawatir aja, ayo minum lagi"


Luna tersenyum tapi jauh di hatinya ia sedang menangis histeris. Sekuat mungkin ia menahan air matanya agak tidak jatuh.


__ADS_2