Hati Lunara

Hati Lunara
Bab 75


__ADS_3

Tingkat tertinggi dalam cinta adalah merelakan.


.


.


.


Berpisah dan merelakan.


Dan kedua hal tersebut adalah usaha yang sedang Arief dan Lia jalani. Merelakan cinta mereka dengan perpisahan untuk kedua kalinya. Berat? Tentu saja. Namun, bagi mereka masih ada dua hati yang lebih penting untuk mereka jaga dan pertahankan. Dua hati yang seharusnya mereka pikirkan sebelum terjerumus begitu jauh dalam pengkhianatan.


“Kamu masih marah?”


Arief bertanya di tengah kegiatan Nia yang sedang mencuci piring sehabis makan malam mereka. Nia tidak menanggapi. Sudah sebulan, tapi Nia masih saja diam. Arief mengerti, pasti tidak mudah untuk memafkan kesalahannya. Tapi kabar baiknya, Nia mau menerima Arief kembali dengan syarat ini adalah kali pertama dan terakhir. Apa lagi alasannya jika bukan karena Nia memikirkan sang calon bayi. Meski begitu, Nia tetap menjalankan kewajibannya sebagai istri dengan baik. Memasak, menyiapkan keperluan Arief, semuanya.


“Nia”


Kali ini Arief mendekat dengan menyentuh kedua bahu Nia dari belakang. Nia tampak mengedikkan bahunya. Lalu dengan cepat ia mematikan keran, mengeringkan tangannya kemudian melangkah menuju kamar mereka. Arief merenung sebentar di tempatnya sampai beberapa saat kemudian ia menyusul Nia. Membuka pintu kamar dengan perlahan. Arief mendapati tubuh mungil Nia yang terduduk lesu di tepi ranjang. Arief mendekat dan berjongkok menghadap Nia dengan memegang kedua tangannya.


“Aku memang berengsek dan gak pantas kamu maafkan. Tapi meski begitu aku gak akan pernah berhenti bilang maaf setiap hari… setiap saat”


Arief mengatakan itu dengan memandang Nia secara intens. Genggaman tangannya pun semakin erat. Nia masih terdiam menghadap ke samping.


“Berhenti bilang maaf”


Ucap Nia yang masih menghadap kepalanya ke samping. Setelahnya ia perlahan membalas tatapan Arief yang masih mendongak memperhatikannya.


“Dengan kamu bilang maaf terus sama aja kamu terus mengingatkan aku dengan pengkhianatan kamu”


Nia tampak diam sebentar untuk menarik nafas dalam kemudian kembali bersuara.


“Aku sudah memaafkan kamu”


Ucapnya dengan mata yang kembali berkaca-kaca. Tapi ada segaris senyum halus di bibirnya membuat sudut hati Arief menghangat. Selanjutnya, yang Arief lakukan adalah berterimakasih lalu mencium kedua tangan istrinya yang sangat mulia baginya ini.

__ADS_1


Sejak itu, Nia kembali seperti sebelumnya, ia benar-benar memaafkan Arief secara utuh. Tidak pernah sekalipun Nia menyinggung kesalahan yang pernah Arief lakukan. Begitupun Edi dan Lia yang benar-benar memutus kontak antara mereka. Hari-hari itu Arief lalui dengan berat hati, tidak pernah sekalipun ia lupa dengan anaknya yang dikandung oleh Lia. Tapi ia tidak punya kuasa untuk bisa memantau apalagi melihat anaknya itu. Seperti apa rupanya, apa jenis kelaminnya, siapa namanya. Arief benar-benar tidak tau.


Masing-masing dari mereka menjalani hidup yang baik. Arief dan Nia bersama anaknya yang bernama Juan. Begitupun Edi dan Lia bersama dua putri cantik bernama Luna dan Yana. Edi mencintai Luna dan Yana secara penuh dan adil tanpa tau bahwa Luna bukanlah darah dagingnya. Selama itu pula, Lia hidup dengan rasa bersalah dan perasaan tidak tenang yang selalu mengusiknya.


15 tahun kemudian.


“Kenapa kamu gak mau? Ini kan bagus untuk karir kamu. Lagian aku kan memang mau buka cabang juga di Jakarta ya gak ada salahnya lah kita pindah kesana”


Jelas Nia mencoba membujuk Arief yang menolak untuk ditugaskan di Jakarta. Tentu Arief menolak, karena Jakarta adalah kota tempat Lia tinggal. Bukan ia takut akan kembali berkhianat, tapi ia takut tidak bisa menahan diri untuk bertemu anaknya dari Lia. Jujur saja sampai detik ini Arief sangat merindukan anaknya yang meski belum pernah ia temui sekalipun.


“Mas”


Seru Nia karena Arief malah melamun.


“Yaudahlah, nanti aku cari apartemen aja ya untuk tempat tinggal kita”


Kata Arief dengan pasrah.


“Oke. Ehh biar nanti aku suruh sekretaris aku aja mas untuk cari apartemen yang bagus dan deket sama cabang butik aku disana. Ya?”


Setelah semua siap, Arief, Lia dan Juan pun akhirnya benar-benar pindah ke Jakarta. Mereka tinggal di salah satu apartemen yang mereka beli disana.


“Harusnya tuh kita berangkat dari jum’at kemarin. Jadi ada waktu untuk kamu istirahat. Kita berangkat hari minggu, bebenah hari ini juga dan besok kamu udah harus masuk kerja.tapi gara-gara aku ada kerjaan malah jadi ketunda. Kamu kan jadi capek, maaf ya”


Ucap Nia di malam pertama mereka pindah.


“Sssttt. Gapapa kok, lagian gak capek juga. Kan Bandung ke Jakarta gak terlalu jauh. Barang-barang kita disini juga gak banyak tadi yang perlu diberesin”


Jawab Arief. Nia tampak tersenyum mendengarnya.


“Yaudah tidur mas, besok kita sama-sama harus pergi pagi-pagi banget”


Arief mengangguk dan tersenyum. Kemudian mereka tertidur sambil berpelukan hangat seperti biasanya. Sungguh sebuah rutinitas indah dan sederhana namun sangat menghangatkan hubungan mereka.


* * *

__ADS_1


“Kamu nanti pulang jam berapa mas?”


Tanya Nia sambil meletakkan secangkir kopi panas di dekat Arief.


“Hmm belum tau, kan hari pertama masih banyak penyesuaian”


Arief menjawab dengan jelingan mata yang sedikit gelisah.


Setelah menghabiskan sarapannya, Arief berangkat ke kantor barunya dengan jabatan baru yang lebih tinggi. Arief mempelajari segala sistem kerja kantor barunya dengan cepat. Sebenarnya Arief pulang kantor sama saja seperti biasanya di Bandung. Namun, ketakutannya benar. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak mencari tau tentang Lia juga anaknya.


Maka disinilah dia sekarang, menepikan mobilnya di bawah pohon besar yang tidak jauh dari kediaman Lia dan Edi. Berjam-jam ia disana, tapi tidak ada yang dapat. Rumah yang ia pandangi itu terlihat sepi dan tertutup rapat, sampai akhirnya sebuah mobil masuk ke pekarangan rumah tersebut. Arief memperhatikan dengan seksama hingga satu persatu orang keluar dari mobil itu. Dapat Arief lihat dengan jelas Edi, Lia bersama dua orang putri cantik yang masing-masing mereka gandeng masuk ke rumah.


Jadi anaknya itu perempuan? Arief memperhatikannya sambil tersenyum sayu. Ponselnya bergetar, begitu matanya menangkap notifikasi pesan Nia di layar ponselnya, Arief sudah menduga Nia akan menghubunginya, ia melihat jam yang sudah menunjuk pukul 9 malam.


Aku lagi di jalan pulang. Kejebak macet. Maaf ya


Begitu pesan balasan yang ia tulis untuk Nia. Dan tentu saja Nia percaya.


.


.


.


Bosen yaa guys???


Hehe sabar yaa, setelah ini tinggal satu part lagi kok untuk cerita flashback nya


Kemudian kita lanjut ke cerita anak-anaknyaa dehhh


Udah pada kangen ya sama Luna dan tokoh muda lainnya?


Sama. Author juga wkwk


Nahh buat nambah semangat nuliss akuu ayooo like, komen, vote dengan poin dan rating bintang 5 nya yaa setelah membaca

__ADS_1


Makasihh 😘😘😘


__ADS_2