
Setelah menunaikan salat subuh, Luna beku di tempatnya. Ia tak tau harus apa. Keluar terlalu takut, di dalam saja pun untuk apa.
Sudah beberapa jam berlalu. Jika melihat bayangan sinar matahari dari jendela gudang, Luna menebak – nebak bahwa sekarang mungkin sekitar 10 / 11 pagi. Luna merasa lapar sejak tadi. Tapi Luna bingung harus apa, ia benar – benar takut.
Tak lama pintu terbuka lebar. Luna seketika merasa suasana jadi mencekam, sorot mata itu belum berubah. Masih seperti semalam.
“Ayah…” Seruan Luna terdengar lirih dan penuh takut.
Edi tidak menyahuti seruan Luna, kepalanya tampak memberi kode seseorang untuk masuk. Setelah itu datanglah Bi Narti membawa nampan berisi sepiring makanan dan segelas minuman.
“Hari ini saya izinkan kamu makan dari makanan rumah saya. Tapi besok dan seterusnya cari makan sendiri dan penuhi kebutuhan kamu sendiri” Edi bicara dengan menoleh ke arah lain. Suaranya tidak mengeras, nadanya tidak membentak. Tapi kalimat itu menambar batin Luna begitu keras. Mendengar nya Luna hanya bisa diam terpaku menatap sang Ayah di depan pintu, air matanya lolos begitu saja.
Edi akhirnya pergi. Setelah merasa Tuannya jauh, Bi Narti langsung meletakkan nampan di tangannya ke lantai dan berjalan cepat merentangkan tangan berniat memeluk tubuh kecil Luna. Mereka berpelukan erat dengan tangis yang masing – masing pecah dari keduanya.
Bi Narti ingat tadi malam ia terbangun karena suara berisik seperti orang bertengkar. Bi Narti akirnya mencoba memastikan apa yang sedang terjadi, keluar kamar secara hati – hati dan mendapati bahwa majikannya lah yang tengah bertengkar hebat. Barang – barang bahkan banyak yang pecah berserakan di lantai. Tapi yang lebih mengejutkan bagi Bi Narti lagi adalah Ketika matanya menangkap perlakuan Edi ke Luna tadi malam.
Bi Narti ingin menolong Luna, tapi ia merasa takut sekaligus bingung untuk ikut campur atau tidak. Tubuhnya hanya sanggup bersembunyi di balik tembok. Saat Edi sudah menutup pintu, Bi Narti pun langsung berbalik dan mencoba buru – buru ingin pergi Kembali ke kamar.
“Narti!” Tapi sayangnya ia sudah ketahuan. Edi memanggil nama Bi Narti tanpa menghentikan langkahnya hingga mendekat ke tempat Bi Narti berpijak.
“Jangan ikut campur. Kembali ke kamar kamu, biarkan Luna disana. Kalau kamu melanggar, saya pecat kamu, dan saya usir juga si Luna” Ancam Edi.
Mendengar hal tersebut Narti buru – buru mengangkat wajahnya panik dan spontan menggeleng cepat menolak ancaman Edi.
“Saya permisi balik ke kamar saya lagi” Bi Narti pun akhirnya Kembali ke kamarnya, selama menuju kesana, kepalanya sudah 3 kali menoleh ke belakang menatap pintu gudang yang ia ketahui ada Luna di dalamnya.
Keesokan paginya. Bi Narti menyiapkan sarapan seperti biasa, gelagatnya menunjukkan ia tengah khawatir dan gelisah. Bu Narti khawatir bagaimana keadaan Luna saat ini.
__ADS_1
“Kak Luna mana ya Bun?” Tadi Yana ke kamarnya kok gak ada, kak Luna lagi pergi ya? Kemana?” Tanya Yana dengan polos yang memecah keheningan di meja makan sejak tadi.
Tapi tidak ada yang menjawab. Edi fokus dengan korannya dan Lia tampak menunduk dengan tatapan yang tidak dapat di artikan.
Yana yang merasa tidak diperdulikan pun merasa heran kemudian Kembali bersuara
“Bundaa, Yana nanya kak Luna kemanaa. Kan anak kelas 3 libur” Tanya Yana lagi lebih keras.
Brakk!!
Yana tersentak kaget menoleh pada sang Ayah yang baru saja memukul meja tepat setelah ia bertanya ke Bunda nya tadi.
“Makan itu jangan sambil bicara. Habisin sarapan kamu ceoat” Edi mengucapkannya pada Yana dengan nada tegas.
Yana pun seketika merasa nyalinya menciut takut. Tangannya lalu mengambil sendok di piringnya dan menyelesaikan sarapannya sambil menunduk.
Bi Narti yang melihat kejadian barusan hanya menghela nafas lemah.
Setelah Yana menghabiskan sarapannya. Ia pun bergegas berangkat ke sekolah diantar Lia, Bunda nya. Tak lupa Yana pun mencium tangan Edi sebelum berangkat.
Edi masih di meja makan, masih di kursinya memegang sebuah koran yang sebenarnya tidak ia baca. Pikirannya berterbangan ke masalah lain yang entah itu apa.
“Permisi Pak”
Edi yang mendengarnya langsung tersadar dan bicara.
“Udah siap Lun?” Katanya. Tapi untuk beberapa detik berikutnya ia kebingungan dan menoleh ke sampingnya. Ternyata disana ada Bi Narti, dia juga tadi yang memanggil Edi.
__ADS_1
Untuk sebentar Edi lupa jika Luna sudah ia asingkan di gudang dengan tangannya sendiri.
“Kenapa” Ucapnya dingin.
“Pak maaf saya mohon izin mengantar makanan pada non Luna. Kasihan Pak nanti dia kelaparan” Mohon Narti dengan suara lirih.
Edi menoleh dengan mata yang menyorot tajam Bi Narti. Bi Narti mampu menerjemahkan arti tatapan itu. Ia pun tampak akan menangis dan tak mampu bicara lebih banyak lagi. Kemudian Edi beranjak dari duduknya dan pergi menuju kamarnya.
Bi Narti memutuskan akan tetap membawakan makanan pada Luna jika Edi sudah pergi. Tapi sayangnya, sudah berjam – jam ia menunggu sejak pagi tadi tapi ia terheran karena Edi belum juga berangkat dan masih duduk di ruang TV.
Sekitar pukul setengah 11 Edi bangkit dari duduknya dan menghampiri Narti.
“Siapkan makanan dan minuman untuk Luna” Ucap Edi dengan dingin.
Mendengar itu Bi Narti senang bukan main dan langsung meninggalkan pekerjaan nya sekarang untuk bergegas menuju dapur menyiapkan makanan untuk Luna.
Setelah siap, Edi memimpin jalan menuju gudang, Edi membuka pintu terlebih dahulu, barulah mempersilahkan Bi Narti masuk.
Maka disinilah Bi Narti sekarang, memeluk erat tubuh sang anak sulung majikannya dengan iba.
“Non Luna gapapa?” Tanya Bi Narti sambil menangis dan tangannya menangkup kedua pipi Luna.
Luna mengangguk kemudian memeluk Bi Narti Kembali. Selang beberapa lama, perlahan Bi Narti melepas pelukannya dan menarik nampan berisi makanan dan minuman yang tadi di bawanya.
“Non makan dulu ya “ Ucap Bi Narti.
Luna mengangguk dan dengan lahap menyantap makanan di depannya.
__ADS_1
Sedangkan Edi sendiri segera pergi dengan mobilnya, tidak tau kemana.