Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 48


__ADS_3

"Siapa kak?" Tanya Yana sambil menyeka sisa air mata nya melihat kakaknya menutup ponsel dengan sedikit kesal


"Itu Vani sama Dira nanyain Juan" Jawab Luna seraya meletakkan kembali ponselnya


"Emang kak Juan kenapa?"


"Dia gak ada kabar semingguan ini, dan nomornya udah gak aktif, udah gitu kakak gak ada kontak keluarganya lagi, jadinya kan khawatir, udahlah sekarang yang terpenting itu masalah kamu sama Yudha"


"Yana akan coba bilang ke Mas Yudha kak, tapi masalahnya Yana gak berani jelasin ke Ayah soal dokter Rey" Luna memundurkan badannya, sesaat ia lupa ada Ayahnya yang sudah pasti sulit untuk ditolak jika sudah memutuskan sesuatu, ditambah lagi hubungannya dengan sang Ayah yang akan semakin mempersulit Luna untuk membantu Yana lebih jauh


"Biar kakak yang ngomong sama Ayah" Kata Luna kemudian dengan serius, Yana kaget dan menoleh


"Ka.. Kakak serius?" Tanya Yana takut dan Luna hanya mengangguk tersenyum lembut


"Kamu gak perlu mikirin itu, cukup kasih tau Yudha dulu, sisanya kakak akan berusaha ngurusnya, kamu juga jangan terlalu banyak pikiran, gak baik orang hamil terlalu banyak mikir" Yana pun menangguk lemah, ia memang tak ada pilihan lain saat ini


Malam harinya


Luna tengah mondar-mandir cemas menunggu sang Ayah tiba di rumah, sudah hampir tengah malam namun belum juga terlihat tanda-tanda Edi akan pulang. Jantungnya kini semakin berdebar begitu deru mesin mobil terdengar di tengah kesunyian malam, Luna siap apapun respon sang Ayah padanya, baginya Yana adalah yang terpenting saat ini melebihi dirinya. Dengan gugup di bawanya kedua kaki kecil miliknya berjalan pasti menuju ruang tamu, menanti kedatangan Edi yang pasti akan masuk melewati pintu utama itu


ceklek


Edi tampak masuk dengan guratan lelah di wajahnya namun secepat cahaya merambat air mukanya berubah acuh dan sinis melihat sosok Luna di hadapannya sedang berdiri takut. Seperti biasa Edi tak menanggapi dan mencoba masuk tanpa menganggap keberadaan Luna namun dengan keberanian yang entah dari mana, tangannya bergerak pasti menahan lengan Edi. Kaget. Itulah yang dirasakan Edi, ditatapnya tajam sepasang tangan kecil yang dulu selalu ia genggam dengan penuh kasing sayang sedang melingkar di lengannya, Luna memasok oksigen lebih banyak dengan menarik nafas sedalam-dalamnya untuk bisa berbicara


"Yahh... Luna mohon batalkan pernikahan Yana dengan dokter Rey, kasihan mereka berdua, tolong pertimbangkan Ayah dari bayinya dan juga perasaan Yana..." Luna berhasil mengatakannya dengan lancar walau hatinya kini tengah bergemuruh. Edi menyentak cukup keras lengannya hingga kedua tangan Luna terlepas dan tubuhnya pun tersentak sedikit ke belakang

__ADS_1


"Jangan ikut campur!" Kata Edi tegas. Luna tak berhenti, ia berlutut memegang persendian lutut sang Ayah memohon lebih keras lagi


"Luna mohon Yahh...Luna mohon... tolong Ayah bersedia untuk ketemu sama pacar Yana dulu, baru setelah itu Ayah menilai" Dengan suara bergetar Luna memohon dengan sangat


"Saya bilang jangan ikut campur "


"Masuk Luna" Perintah Lia yang tiba – tiba datang


"Luna gak akan masuk sampai Ayah mau mempertimbangkannya Bun" Jawab Luna yang tak menyerah


"Masuk!!!!!" Bentak Lia, ini kali pertamanya mendengar sang Bunda meninggikan suaranya karena selama ini Lia hanya banyak diam, tidak membela Edi maupun Luna, semua hanya dibiarkan seperti air mengalir. Luna pun memandang Bundanya takut, sedangkan Edi melirik bingung ke arah Lia yang baru saja membentak putri sulungnya


"Luna mohon Ayahh" Masih tak bergeming dari posisinya, Luna tetap memohon yang menyulut amarah Edi kali ini


"Kamu itu cuma benalu di rumah ini, setelah Yana menikah dan tinggal dengan suaminya saat itu juga kamu pun harus pergi dari rumah ini" bentak Edi pada Luna. Dengan segala luka yang sedang menyayat dihatinya Luna memberanikan diri untuk menjawab


Setelahnya Edi kembali menyentak kakinya melepaskan tautan tangan kecil Luna, Lia yang ada disana seperti sedang di ambang pilihan berat namun seperti sebelum-sebelumnya Lia hanya memejamkan mata, menutup telinga dan mulutnya lalu menyusul Edi di kamar meninggalkan Luna dengan kerapuhannya saat ini


- - -


"Apa-apaan itu tadi hah! Kamu lupa sama janji kamu?" Kata Lia dengan emosi begitu sampai menyusul Edi di kamar mereka


"Hehh!!! Jangan berani-berani kamu marah gini ke aku, harusnya aku yang marah "


"Cukup!!!!" Teriak Lia sambil memegang kedua telinganya, ia sudah tidak tahan dengan semua ini

__ADS_1


"Iya cukup!!! Aku muak liat muka anak kamu! " Teriak Edi tak mau kalah


"Dia gak tau apa-apa, kenapa kamu harus limpahkan semua ke Luna, dia gak berdosa, bahkan jauh di dalam hati kamupun kamu masih menyayangi dia sebagai anak sulung kamu" Ungkap Lia sambil menunjuk-nunjuk Edi


"Gak ada waktu untuk aku menyayangi anak orang lain" Sahut Edi tajam dan langsung masuk ke kamar mandi kemudian membanting pintu begitu keras dari dalam


Lia menangis terduduk lemas di lantai, istananya yang telah retak kini sudah semakin hancur baginya


Di lain tempat


Juan tengah duduk di balkon apartemen nya bersama sebuah ponsel yang layarnya terpampang foto dirinya bersama Luna tampak sangat bahagia, dipandanginya lekat namun dengan raut wajah yang berbanding terbalik dari ekspresi dalam ponselnya, merasa tak tahan ia banting ponsel itu hingga hancur menjadi beberapa bagian


Tak terasa air mata mengalir dari mata kirinya seiring rasa sesak yang begitu kuat tengah menahan udara dalam dadanya hingga semakin kesulitan untuk bernafas lega


Kenapa ini harus terjadi antara aku dan Luna


Suara hatinya berkata lirih pada Sang Pencipta yang dirasanya telah membolak balikkan kehidupannya saat ini. Dengan emosi yang menggebu Juan bangkit dan mengacak-acak kamarnya hingga benar-benar berantakan


ceklek


Sang Mama yang mendengar keributan dari kanar Juan secepatnya masuk dan memeluk erat tubuh Juan di tengah aksi mengamuknya


"Kenapa nak... Istighfarr. Juan... Juann" Kata Nia mencoba menenangkan sambil sekuat tenaga menahan pergerakan Juan. Juan pun mulai melemah dan menangis dalam pelukan mamanya. Di usapnya lembut punggung Juan


"Ada apa? cerita sama Mama... jangan seperti ini, Mama jadi takut"

__ADS_1


Juan tidak menjawab, malah isak tangisnya ssmakin keras terdengar seiring pelukannya juga pada Nia


__ADS_2