Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 40


__ADS_3

Setelah mengakhiri pesannya dengan Juan, Luna menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur, banyak hal yang ia pikirkan saat ini. Mulai dari sidang skripsinya… pekerjaannya… konsidinya saat ini membuat Luna dilemma, jika ia tidak bekerja siapa yang akan menanggung keperluannya. Namun jika bekerja, keadannya pun masih belum memungkinkan. Masih dengan mata terpejam, Luna memijit pangkal hidungnya


Tringg!


Luna Kembali duduk mendengar ponselnya yang berbunyi lagi, terlihat nomor tidak dikenal mengiriminya sebuah pesan


Nomor tidak dikenal : Assalamu’alaikum… Luna?


Luna : Wa’alaikumsalam, maaf ini dengan siapa ya?


Nomor tidak dikenal : Ini saya Rey, bagaimana keadaan kamu sekarang? Apa saya ganggu?


Luna : Ohh dokter Rey. Gak kok dok, gak sama sekali gak. Saya lagi istirahat aja sekarang dan Alhamdulillah saya baik kok. Maaf sebelumnya, tapi ada apa ya dok?


Rey : Alhamdulillah kalau begitu, saya hanya mau kasih informasi mengenai ini


(Rey mengirimkan sebuah poster berisi pengumuman lomba menulis puisi)


Luna : Dokter mau saya ikut itu?


Rey : Dengan kondisi kamu sekarang, kamu gak bisa kuliah apalagi kerja dulu untuk sementara waktu, jadi saya pikir kamu bisa ikut event – event menulis seperti ini untuk mengisi waktu kamu. Kebetulan penyelenggaranya itu teman saya dulu di luar negeri, dia juga seorang sastrawan dan puisinya udah terkenal disana dan sekarang dia lagi di Indonesia mengadakan lomba ini. Lagi pula kamu juga berpotensi menjadi seorang penulis hebat


Luna : Ah.. dokter berlebihan, saya gak sehebat itu kok. Masih harus banyak belajar lagi


Rey : Iya justru itu, kamu gunakan kesempatan ini untuk belajar, saya hanya menyarankan. Kalau kamu mau saya bisa bantu daftarkan bahkan mengenalkan teman saya itu ke kamu, siapa tau kamu berminat belajar dengan dia juga mengenai kepenulisan

__ADS_1


Luna : Baik dok, biar saya pikirkan dulu ya. Kalau ada inspirasinya nanti saya coba ikut dulu deh sebagai pengalaman. Terima kasih banyak sebelumnya


Rey : Bagus. Baik saya Cuma mau menyampaikan itu, cepat sehat. Assalamu’alaikum


Luna : Aamiinn… Wa’alaikumsalam


Setelahnya Luna pun memandangi poster yang dikirimkan dokter Rey tadi, sudah lama sekali rasanya ia tidak ikut serta dalam lomba menulis begini. Beberapa saat kemudian Luna beranjak dari tidurnya, membuka laci kemudian mengambil secarik kertas beserta sebuah pulpen biru


Tampaknya jemari, hati dan pikiran Luna sedang sangat seiras, tanpa jeda ia menuliskan rangkaian sajak yang begitu indah di atas selembar kertas putih nya, sebuah kegiatan yang sebenarnya memang sudah menyatu dalam diri Luna. Sebuah sarana dimana Luna bisa menuangkan segala suka duka, tawa, dan tangis yang dirasakannya. Seperti kali ini yang dia tuliskan sebagai bentuk kerinduannya pada sang Ayah dan Bunda


…Pada sepasang merpati yang setia dalam cinta


Emosiku sudah berfilososfi di atasnya


Sajakku sudah menggebu dalam rindu


Ku kabarkan pada angin yang memenuhi segala ruang gegana


Bahwa kasihku ada di setiap udara


Tanpa jeda… tanpa henti…


Dan tiada habisnya…


Begitulah kira bunyi potongan puisi yang Luna tuliskan hari ini, kedua orang tua nya tetaplah segudang inspirasi di kepala Luna apapun situasi dan konsidinya

__ADS_1


---


“Apa? Kamu sadar gak apa yang lagi kamu bilang ini?” Tanya Edi pada Lia


“Aku sadar mas, sangat sadar. Sampai kapan mas aku harus diam liat anak aku menderita karena kesalahan yang gak pernah ia perbuat. Sampai kapan Luna harus menanggung dosa aku? Disini aku yang salah, kamu cukup hukum aku jangan dia, aku tau kamu juga sayang sama dia. Kamu juga tau betapa sayang nya Luna ke kamu, mungkin aku ga tau diri tapi aku mohon sayangi dia lagi seperti dulu dan hukum saja aku” pinta Lia sambil berlutut


“Jadi kamu pikir aku gak sanggup gitu usir dia dari sini? Hah?” Kata Edi menantang, Lia mendongka dan menggeleng


Edi memandangnya tajam lalu menghempaskan lampu meja di dekatnya dengan keras


Prangg!!!


Bunyi barang jatuh yang terdengar bersama suara pertengkaran samar dari kedua orang tuanya membuat jantung Luna berdebar, seketika ada perasaan tidak enak yang memeluk Luna, perlahan ia berjalan menggapai gagang pintu memastikan apa yang sdang terjadi. Begitu pintu berhasil ia buka, tampak Edi sudah berada tepat di depan kamar nya dengan nafas yang memburu dan disusul oleh Lia yang terlihat ketakutan sambil menarik – narik tangan Edi. Dengan gugup Luna memberanikan diri untuk bertanya meski takut dan terbata – bata


“A-ayah ada a- apa?” Kata Luna dengan takut – takut. Bukannya suara Edi yang terdengar namun malah Lia


“Mas aku mohon aku minta maaf, aku akan lakuin apa aja kamu tenang dulu, jangan begini mas aku mohon.. Sekarang kita Kembali ke kamar ya, kita bicarain baik – baik. Ayo mas” Mohon Lia dengan sangat pada suaminya itu sambil menarik – narik tangan Edi. Hal itu membuat Luna semakin bingung tanpa mengurangi rasa takutnya. Dan Edi disana pun masih hanya terdiam.


Cukup lama mereka berada dalam ketegangan yang tidak diketahui Luna apa sebabnya, Edi kemudian tampak memejamkan matanya menghela nafas cukup dalam, tanpa bersuara ia menyentak tangan Lia dan pergi begitu saja dari sana, Lia langsung melemas lega melihat suaminya pergi


“Ada apa Bun? Bunda sama Ayah kenapa?” Tanya Luna pelan namun lancar, ia lebih berani membuka suaranya pada Lia dibandingkan pada Edi Ayahnya, Lia tampak menoleh sebentar menanggapi pertanyaan Luna namun sedetik kemudian ia Kembali menyusul Edi tanpa meninggalkan sedikit pun penjelasan pada Luna, meski sudah biasa tidak diperdulikan namun setiap detiknya Luna merasakan sakit yang sama dengan pertama kali ia di asingkan oleh Edi.


Sesak di dadanya membawa ia kesini di malam hari yang dingin ini, ke danau tempat yang sering dia kunjungi bersama Juan ataupun sendiri, entah apa yang dipikirkan Luna saat ini, ia duduk sendiri dengan tas berisi beberapa baju dan barang – barang nya lain di sisi kanan nya, selama ini dia selalu membujuk dirinya sendiri untuk tetap kuat dan bertahan apapun yang terjadi di tengah keluarganya, namun Luna tetaplah manusia biasa yang bisa merasakan lelah. Terlebih setelah melihat kejadian tadi, Luna bisa menerka jika itu karena dirinya, ia tak ingin terus menjadi duri dalam kelurganya apalagi hubungan kedua orang tuanya. Mungkin dengan pergi dari sana memanglah sebuah pilihan yang tepat. Entah sudah berapa kali Luna mengotak – atik ponselnya, tapi rasanya taka da satupun yang bisa ia hubungi atau di pintai tolong, ia pasti akan sangat merepotkan siapapun


Namun pada akhirnya, Luna berhenti pada kontak bertuliskan (Vani dengan symbol hati biru setelahnya). Dengan ragu Luna menekan tombol hijau di layar ponselnya. Hanya memakan waktu 3 detik saja untuk Vani sudah menjawab telepon dari Luna

__ADS_1


__ADS_2