Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 63


__ADS_3

Juan berbalik lagi.


"Gak perlu makasih. Harusnya yang gue lakuin sekarang cukup buat ngehapus tentang dulu" Luna menggeleng.


"Nggak, dulu... sekarang... dan nanti. Semuanya beda dan waktu yang udah lewat itu gak bisa diubah. Mau kamu sejahat apapun sekarang, tetap gak akan merubah kalau kamu pernah sebaik itu ke aku dulu"


Ya Tuhan! Juan melemah. Sudah seperti ini Luna masih mengingat dirinya. Dia tidak kuat, tidak ingin runtuh disini. Secepatnya ia memaksakan dirinya untuk menjauh dari sana. Terlalu lama bersama Luna tidak akan baik bagi dirinya. Luna pun tertinggal disana sendirian. Memandangi Juan yang semakin menjauh menaiki motornya. Setelah suasana benar-benar sepi, barulah air mata itu tumpah. Tubuhnya merosot lemas di tanah. Dadanya begitu teremas oleh kenyataan ini. Cukup lama Luna begitu. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.30 malam. Astaga, sudah begitu larut. Luna pun bangkit. Ia harus kuat, masih ada Yana dan keponakannya yang belum lahir yang harus ia perhatikan. Setidaknya ia tidak boleh egois soal itu. Sekitaran danau itu begitu sepi, tidak ada kendaraan yang melintas, Luna sekarang jadi bingung sendiri. Harap-harap cemas ia melihat sekeliling, taksi online pun tidak ada yang berhasil ia dapatkan. Mungkin karena sudah hampir tengah malam ditambah lagi cuaca yang tidak terlalu baik. Tak lama, lampu kekuningan dari sebuah mobil mendekat menyoroti Luna. Ia mengangkat tangannya ke depan wajah, berusaha menahan silau ke matanya.


Pemilik mobil itu keluar. Luna kaget begitu menyadari siapa yang sedang berjalan ke arahnya dan menyodorkan sebuah payung hitam.


"Dokter kok bisa disini?" Luna bertanya heran. Lagi-lagi Rey. Pikirnya. Entah kenapa pria itu selalu hadir di waktu yang tepat untuk Luna.


"Harusnya saya yang nanya, ngapain kamu malam-malam disini sendirian. Hujan-hujanan lagi" Rey malah balik bertanya kesal sambil mengusap-usap samar bahu Luna untuk menunjukkan baju gadis itu sudah dibasahi oleh air hujan.


"E-ee itu saya hmm-" Luna tergagap kaku, tidak tau ingin menjawab apa.


"Sudahlah. Yang penting kamu gapapa, sekarang mari saya antar kamu pulang" Ajak Rey yang mencoba menghentikan kegugupan Luna. Tanpa pikir panjang Luna pun mengiyakan, mengingat hari memang sudah malam dan dia juga sudah kedinginan. Sebelum masuk, Rey terlihat melirik kesana kemari seperti mencari seseorang. Hal itu tak lepas dari pengawasan Luna yang ikut melihat ke sekeliling juga menuruti Rey.

__ADS_1


"Dokter cari apa?" Luna bertanya dan seketika menyadarkan Rey.


"Gak nyari apa-apa kok. Yaudah ayo" Mereka pun masuk ke mobil dan pergi dari sana. Tanpa mereka sadari, sepasang mata tengah menatap pergerakan mereka dari balik pohon di atas sebuah motor yang dinaiki, cukup jauh dari sana tapi masih cukup untuk dapat dijangkau oleh mata. Siapa lagi kalau bukan Juan. Ternyata pria itu tidak benar-benar meninggalkan Luna sendiri disana. Tentu saja tidak. Ia tidak akan tenang dan tega saat tau Luna sendirian di tempat seperti ini di malam hari. Sementara itu, Luna dan Rey saling membisu sepanjang perjalanan. Rey yang fokus menyetir dan Luna yang menatap kosong ke arah jendela dengan tangan yang ia posisikan di pintu mobil sebagai penyangga kepalanya.


"Luna sendirian di danau jalan merdeka" Kalimat itu tak lain adalah sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal yang sampai pada Rey. Pesan itu juga yang membuat Rey tanpa curiga ataupun pikir panjang lagi untuk bergegas menjemput Luna. Padahal bisa saja itu hanya sebuah tipuan atau semacamnya. Tapi membaca nama Luna membuat otaknya tumpul dan hanya penuh oleh kekhawatiran, ditambah lagi ia melirik jam dinding kamarnya yang sudah menunjukkan waktu sudah cukup larut. Pesan itu juga sampai sekarang masih berkelabat di kepalanya. Siapa yang mengirim pesan itu? Keingintahuan itu juga yang menjadi alasan Rey melirik sekitar danau tadi sebelum mereka memasuki mobil. Di tengah lamunannya. Luna tersadar. Ia pun menegakkan duduknya kemudian melihat Rey.


"Dok" Sapanya yang terdengar begitu jelas di telinga Rey, karena situasi jalan memang sangat hening sekarang. Hanya ada suara deru mobil dan angin dari luar yang melingkupi mereka.


"Hmm?" Rey berdehem menyahuti singkat.


"Kan saya udah bilang yang terpenting itu kamu baik-baik aja sekarang sama saya" Luna tampak mengerucutkan bibirnya tidak puas dengan jawaban Rey. Tapi melawan pun tidak. Rey melirik sebentar dan tertawa kecil dengan gemas melihat tingkah Luna.


"Dan satu lagi" Rey menjeda kalimatnya menunggu Luna merespon dulu. Luna sudah menoleh. Karena Rey belum juga bicara Luna pun bersuara lagi tidak sabaran


"Satu lagi apa?" Luna bertanya cepat dengan jantung bergemuruh menunggu jawaban Rey.


"Jangan panggil saya dokter terus dong, kamu kan bukan pasien saya lagi"

__ADS_1


Huffttt, bahu Luna merosot. Ia pikir Rey ingin menjawab pertanyaan pertamanya tadi. Sedetik kemudian ia berjengit.


"Ohh iya yaaa, sebentar lagi kan mau jadi adik saya juga" Luna mengejek jenaka mengingat Rey yang akan menikah dengan Yana dan menjadi adik iparnya. Mendengar itu, giliran Rey yang bahunya merosot lemah. Sampai detik ini Rey masih dalam usaha untuk mengikhlaskan hatinya dari Luna dan menerima Yana. Menurunkan lengkung senyumnya, Luna memperhatikan perubahan air muka Rey. Salah bicarakah dia?


"Kenapa? Saya ada salah bicara ya Dok? Tanya Luna dengan nada menyesal. Mengerjap pelan. Rey menoleh salah tingkah.


"E-Enggak kok, ia bener. Lucu juga ya, saya jauh lebih tua dari kamu, tapi kamu bakal jadi kakak saya" Ujarnya menghilangkan rasa canggung. Luna kembali tersenyum.


"Hehe iya. Jadi maunya dipanggil apa nih? Nama doang gak sopan, karena saya bakal jadi kakak ipar, masa dipanggil dek Rey sih" Luna bergidik geli membayangkan panggilan terakhir yang ia pikirkan.


"Gimana kalau mas?" Rey menyarankan. Luna melongo sebentar.


"Hmm i-iya boleh" Luna sedikit gugup mengiyakan. Mas? Kenapa ia jadi merasa sedikit malu dan mendadak agak canggung begini. Panggilan itu terdengar cukup intens baginya.


"Coba dong" Ucap Rey, membuat Luna mengerjap ragu.


"I-iya ma..s" Tak sadar senyuman langsung terukir di bibir Rey setelah Luna menyematkan panggilan Mas pada dirinya untuk pertama kali.

__ADS_1


__ADS_2