
Setelah membersihkan dirinya dan berganti pakaian dengan baju rumahan, barulah Rey bisa merasa segar kembali. Ia pun merebahkan dirinya di sofa panjang di sebuah ruang kerja yang cukup sempit. Maksud perkataan Rey pada Yana bahwa ia akan tidur di tempat lain itu dimaksudkan ke ruang kerjanya ini. Karena apartemen ini hanya memang memiliki satu kamar, apartemen yang ia beli memang hanya untuk dirinya sendiri, tapi justru sekarang ia harus berbagi apartemennya dengan orang lain. Eitss, istri maksudnya. Hufftt mengingat itu Rey masih merasa tidak menyangka, hatinya masih saja meringis dengan takdir yang sedang dijalaninya sekarang.
Sedangkan Yana dikamarnya hanya meringkuk sambil terus menangis dengan isakan yang ia tahan sekuat tenaga agar tidak terdengar oleh siapapun. Ia bahkan belum mengganti kebaya putih yang sudah ia kenakan sejak pagi. Hingga akhirnya tubuh dan pikirannya yang memang lelah pun membawa Yana perlahan masuk ke dunia mimpi.
Plak!
Tamparan itu cukup keras mengenai pipi Yana, membuat ia bangkit dan terduduk. Bukan! Tamparan itu tentu bukan dari orang lain apalagi Rey, Yana sedang menampar pipinya sendiri karena merasakan seekor nyamuk yang hinggap disana. Ia melihat ke dinding bagian atas di hadapannya, ternyata AC di kamar itu belum menyala, pantas saja ia merasa kepanasan. Ia pun turun dari ranjang berniat menyalakan AC disana kemudian memutuskan untuk mandi. Hanya 15 menit waktu yang diperlukan Yana untuk mandi dan mengganti pakaiannya dengan baju tidur yang lebih nyaman. Menutup pintu kamar mandi, matanya tertuju ke tas selempang kecil yang tadi dibawanya. Ia pun mengambil tas itu dan mengeluarkan HP nya. Disana sudah ada notifikasi dari berbagai media sosial miliknya. Semua tak jauh dari ucapan "Happy Wedding" tapi satu yang membuatnya tertarik adalah pesan dari "Kak Luna 💗"
__ADS_1
"Jangan lupa vitamin dan susu kamu. Dan jangan tinggalkan salat ya" Ahh. Kakaknya itu perhatian sekali. Padahal adik kecilnya itu sudah menikah bahkan sudah mengandung sekarang, tapi ia masih saja diingatkan seperti ini layaknya seorang anak kecil. Yana pun mengetikkan pesan balasan pada kakaknya.
"Iyaaa kakakku sayangg.... Yana kan bukan anak kecil lagi" Begitu kira-kira pesan Yana, tak lupa di akhir kalimat juga ia sisipkan satu emot mengejek.
Tring!
Luna yang sedang menulis novel terbarunya langsung menoleh ke sumber suara dari ponselnya yang berdering. Luna tersenyum semangat, lalu melirik jam dinding di kamarnya. Oh iya, mengenai kamar, sekarang Luna sudah menempati kamar lamanya dulu tepat di malam saat sang Ayah pergi ke gudang yang menjadi kamarnya selama 7 tahun, setelah beberapa saat Lia yang datang kesana dan menyuruh Luna pindah ke kamar lamanya atas perintah Edi. Tentu hal itu membuat Luna benar-benar bahagia. Dengan dibantu Bi Ida (asisten rumah tangga) dan Yana, Luna pun membereskan dan membopong barang-barang miliknya dari gudang itu menuju kamar lamanya. Malam pertama ia kembali kesana, Luna nyaris tidak tertidur hanya untuk menatap lekat seluruh ruangan yang menjadi saksi kasih sayang Edi dan Lia padanya hingga terenggut sampai sekarang, ia juga takut jika ia tertidur dan terbangun mendapati semua hanya mimpi. Tapi keeseokan harinya ia tidak mimpi, ini kenyataan dan Luna sangat-sangat bersyukur untuk itu. Meski Edi masih tidak bicara padanya, tapi setidaknya Edi tidak terlalu menghindar dari Luna. Itu sudah cukup.
__ADS_1
Apa jangan-jangan? Ia melotot diselingi senyum licik tapi buru-buru ia menggeleng dan menepak kepalanya sendiri.
"Kesambet apa gue Astagfirullah kenapa jadi kotor gini pikiran" Luna mengusir pikiran-pikiran yang tidak sepantasnya ia bayangkan meskipun Yana sudah menikah. Ia pun kembali beralih ke laptopnya untuk kembali menulis dan memutuskan untuk tidak membalas Yana, takut adiknya itu keasikan bicara dengannya dan membuat Yana lupa untuk beristirahat.
Sementara itu
"Ihh kok gak dibales sih malah cuma dibaca doang lagi, padahal kan aku mau ngajak ngobrol, hmm lagi capek kali ya" Yana pun mencebikkan bibirnya kesal lalu kembali meletakkan ponsel itu ke nakas dan ia sendiri akhirnya salat. Ya Allah berdosa sekali rasanya dia baru akan salat isya' di jam 2 pagi. Maafkan Ya Allah... Begitu katanya seraya mengenakan mukenah. Setelah salat Yana merasakan tenggorokannya kering. Diapun berniat keluar untuk mengambil minum. Membuka pintu kamarnya pelan-pelan. Yana menoleh kiri dan kanan, dapat ia lihat seluruh ruangan yang gelap. (Ya berarti gak ada yang dilihat dong thor ahh!) Oo iya yaa hehe maap-maap. Lanjuttt.
__ADS_1
Sedang dalam masa mempersulit diri sendiri, Yana akhirnya lebih memilih kembali masuk mengambil ponselnya kembali untuk menggunakan senternya dibanding langsung menyalakan lampu ruang tengah saja. Berjalan pelan dengan mengendap-endap seperti maling. Yana akhirnya mulai dekat dengan dapur, tapi langkahnya tercekat. Jantungnya berdebar dan perutnya terasa mulas seketika. Yana melihat reremang cahaya oren dan itu dari arah kulkas. Tunggu! Pintu kulkas nya berarti terbuka. Tiba-tiba bayangan penjahat yang akan menodongkan pisau ke arahnya dan berakhir di kuburan membuat Yana seketika pias. Ia turunkan ponselnya yang memancarkan cahaya senter, dan menilik ke sekitar, beruntung ada pisau di meja makan di sampingnya. Tanpa pikir panjang, Yana pun mengambil itu dan berjalan perlahan mendekati kulkas yang terbuka itu, setelah hampir sampai disana pintu kulkas tampak ditutup dan disusul sosok kekar yang sedang beranjak berdiri.
Akkhhhhhhhh!!!