
Sakit. Sedih. Bingung. Dan.............. Rindu. Semua emosi itu saling beradu pilu di hati Luna. Apakah cinta memang tidak ditakdirkan untuk menetap abadi dalam hidupnya? Batinnya menangis. Seiring semua orang di sekelilingnya yang pernah hadir dengan nama cinta sekarang menjauh satu persatu.
Kegundahan itu akhirnya berhasil membawa langkah Luna hingga kesini. Apartemen Juan. Entah mengapa setelah berhadapan langsung dengan pintu. Luna malah merutuki kebodohan nya sendiri, dimana pikirannya?Malam-malam bertamu ke apartemen seorang pria, meskipun disini Juan tinggal bersama Mamanya tapi tetap saja... Huffttt Luna merasakan ragu dan takut yang sangat besar.
Sebaiknya urungkan niatnya itu dan pulang. Begitu pikirnya. Sudah sedikit menggerakkan tubuh untuk berbalik tapi pintunya malah terbuka. Luna menoleh dan melongo tegang.
"Kenapa gak jadi?" Itu bukan suara Juan. Tapi Nia, Mama Juan yang Luna panggil Mama juga.
"Ehh i-itu tante.. ehh maksudnya mama, tiba-tiba Luna takut ganggu aja soalnya udah malam makanya Luna mau pulang aja. Maaf ya" Luna berujar gugup.
"Masuk" Nia mengajak singkat tanpa basa-basi. Luna masuk perlahan dan membungkuk sopan. Tak lupa salam ia ucapkan setelah masuk.
Nia pun menjawab salam Luna.
"Duduk Lun" Nia tampak berbeda hari ini. Tapi Luna tidak menyimpulkan yang lebih. Mungkin Nia hanya sedang lelah saja. Luna tak sengaja menoleh ke meja panjang di sana. Ada yang berbeda juga. Seingatnya meja itu berisi banyak foto termasuk foto dirinya. Tapi kenapa hanya tinggal beberapa saja? Tidak. Lebih tepatnya foto dirinya sendiri atau bersama Juanlah yang tidak ada. Nia ikut menoleh pada arah mata Luna bertuju. Ia tidak tampak terkejut, ia sepertinya tau apa yang Luna pikirkan saat ini.
"Foto kamu memang sengaja disisihkan dari sana" Luna menoleh cepat, ada gurat tanya di sorot matanya, Nia mengerti itu.
"Di kamar Juan juga, sepertinya memang harus begitu" Sekarang Luna yakin. Memang ada yang berbeda dari Nia.
"Tante--hmm maksudnya Mama-"
__ADS_1
"Cukup tante saja, kalau memang itu lebih nyaman. Dan saya pun sepertinya lebih nyaman begitu juga" Hati Luna mencelos. Perkataannya tertelan kembali. Untuk sesaat ia terdiam.
"Luna mau bicara dengan Juan... Boleh?" Luna bertanya dengan sangat hati-hati.
"Dia gak ada. Gak tau juga ada dimana" Luna menunduk, sedikit menarik bibir melengkungkan senyumnya tipis.
"Kalau begitu Luna pamit dulu ya, maaf udah ganggu malam-malam begini" Ia pun lebih memilih pamit dan bangkit dari duduknya. Nia hanya mengangguk dan mata tetap melihat ke bawah, sejak tadi Nia memang menghindari untuk bertatap mata langsung dengan Luna.
"Luna pamit. Assalamu'alaikum..." Nia menjawabnya, masih dengan posisi yang sama.
"Sehat-sehat ya. Tante" Barulah Nia menoleh, mendongak dan menatap mata Luna langsung. Disana gadis itu tersenyum tulus. Sedikit menghangatkan sudut hati Nia. Kemudian Luna pun benar-benar pergi dari sana.
Tidak ingin pulang dan terlihat rapuh oleh Yana. Luna pun mengulur sedikit waktunya untuk pulang ke rumah. Danau. Itu satu-satunya tempat yang ia pikirkan dan satu-satunya tempat yang bisa ia gunakan untuk menenangkan dirinya. Danau malam ini terasa begitu dingin seiring gerimis kecil yang turun menyentuh tubuhnya. Langkahnya tertahan. Keningnya mengerut sendu. Juankah yang ada di depannya itu?
Pria bertubuh tinggi dan berkulit putih persis seperti Luna itu tengah berdiri membelakangi Luna. Menghadap langsung ke danau tanpa bergeming sama sekali. Luna tatap lekat tubuh itu dari belakang hingga matanya berhenti pada tangan Juan yang menggantung di samping tubuhnya. Diperban? Luna gatal sekali ingin menyentunya dan bertanya apa yang membuat tangan Juan yang selama ini selalu terulur padanya dalam situasi apapun itu sampai terluka? Luna tak berniat bergerak apalagi menyapa Juan. Ia ingin seperti ini dulu, sudah lama ia tidak sedekat ini dengan Juan.
Cuaca yang mulanya hanya gerimis, sekarang perlahan mulai sedikit deras dari sebelumnya. Tapi deraian hujan itu tak cukup kuat untuk menggerakkan keduanya dari tempatnya berpijak sekarang. Baik Juan maupun Luna begitu betah dalam lamunannya masing-masing. Entah berapa lama waktu yang sudah mereka habis untuk itu. Hingga akhirnya Luna dapat melihat kedua bahu Juan yang berjengit cukup tinggi. Sepertinya ia baru saja menarik nafas begitu dalam, memasok oksigen untuk masuk lebih banyak. Ia berbalik membuat Luna menegang. Begitupun Juan.
Mereka terdiam, saling melempar pandang yang menyimpan bongkahan kerinduan yang begitu besar. Juan pun sama. Seperti enggan beranjak. Ia juga sudah lama tidak memandang Luna secara langsung dalam jarak sedekat ini. Ia ingin sebentar lagi saja begini. Tidak, ia ingin terus disana. Jika bisa. Hujan sudah perlahan meredup, tiba-tiba suara dering telepon memecah kebisuan antara mereka. Luna tersentak merogoh ponselnya yang ia simpan di saku celana jeans yang ia kenakan. Sedangkan Juan mengerjap pelan dan kesadarannya kembali. Setelahnya, ia usap kasar wajahnya sedikit menyisihkan bulir-bulir air akibat hujan tadi. Kemudian melangkah cepat tak berniat untuk bicara sedikitpun.
"Juan" Secepat kakinya melangkah. Secepat itu pula tangan Luna mencekal lengannya. Tubuh Juan menurut. Merasa lumpuh seketika oleh sentuhan Luna. Merasa tak ada penolakan. Luna mendekatkan diri tanpa melepas cekalan tangannya.
__ADS_1
"Aku gak akan memaksakan apapun keputusan dan pilihan kamu. Tapi satu, tolong jangan pergi tanpa kejelasan" Ia jeda sebentar "Jangan mengulang kejadian Ayah dan Bunda ke aku" Sekarang dapat Juan dengan suara Luna mulai bergetar di kalimat terakhirnya.
Astaga. Juan benci situasi ini. Hatinya sakit memperlakukan Luna seperti ini. Di tariknya lagi nafas dengan begitu dalam, kemudian memposisikan tubuhnya untuk menghadap Luna.
"Gue bukannya udah bilang ya kemarin?" Bicara dengan intonasi se dingin mungkin. Tapi jauh dalam batinnya Juan mencelos. Luna tersenyum sayu. Tapi itu malah membunuh Juan lebih dalam lagi.
"Lalu kenapa kamu bisa disini? Di tempat kita" Luna bertanya dengan tenang.
"Ini tempat umum Lun. Siapa aja bisa kesini" Dalihnya.
"Tapi untuk aku nggak, ada cerita dan alasan yang berbeda tentang tempat ini kalau itu menyangkut aku atau kamu" Menyentak pelan. Juan jauhkan lengannya hingga tangan Luna terlepas dari sana.
"Terserah lah, gue gak peduli sama pendapat loe tentang danau ini. Dan sekedar mengingatkan, gue yang lebih dulu tau tempat ini sampai akhirnya gue bawa loe kesini" Jelasnya dan mencoba kembali pergi setelah tadi sempat tertahan oleh Luna.
"Kalau gitu, apa perempuan baru yang kamu bilang itu akan dibawa kesini juga?"
Ahh Sial! Kenapa dengan Juan hari ini. Kakinya kembali lumpuh oleh suara Luna.
"Lupain tentang itu. Apapun yang mau kamu lakuin sama dia, aku hanya berharap kamu bisa bahagia dan makasih untuk selama ini"
"Makasih untuk semuanya" Luna menambahkan kalimat itu setelah memberi jeda sebentar dari kalimat sebelumnya.
__ADS_1