
Flashback Off
Luna berlari sekencang kencangnya setelah tadi mengirim pesan pada Juan dan sedikit berdebat dengan Rey dan Yana.
Memandangi selembar foto yang baru saja Rey serahkan dengan buram karena genangan air matanya, Luna merasakan sesak yang tiada tara mengepung dadanya.
"Awalnya saya kaget, shock sekali. Niat saya hanya ingin membantu kamu mencari kebenaran atas sikap Ayah 7 tahun lalu. Tapi yang saya dapatkan ternyata diluar dugaan. Saya justru khawatir ini hanya akan membunuh kamu lebih dalam lagi, jika saja Juan bukanlah orang yang kamu kenal"
Luna menggeleng tanpa memalingkan matanya ke foto tersebut. Berusaha mengusir kenyataan pahit yang baru ia ketahui saat ini.
"Jadi Bunda.. "
Luna bahkan tidak sanggup mengatakan lebih lanjut.
"Nggak. Saya gak tau sejauh itu, hanya ini yang saya tau. Kita masih harus mendengar penjelasan dari Om Arief dan Bunda dulu. Kita gak bisa asal menebak"
Kata Rey mencoba menjelaskan. Sedetik kemudian Luna bangkit dan meraih ponselnya di meja dapur.
"Nggak. Jangan kemana-mana dalam keadaan seperti ini"
Rey melarang karena melihat Luna seperti akan pergi setelah mengetikan sesuatu dengan cepat melalui ponselnya.
"Saya harus pergi"
"Nggak"
"Saya harus pergi"
Kekeh Luna dengan semakin menekankan kata per katanya. Rey menghela nafas.
"Biar saya antar"
__ADS_1
Ucap Rey mencoba sedikit menuruti Luna.
"Gak. Saya harus pergi sendiri"
"Kenapa nih?"
Tiba-tiba suara Yana datang bersamaan bunyi pintu kamar yang terbuka. Yana semakin heran begitu melihat Rey dan Luna yang sedang berdiri dengan raut wajah yang cemas apalagi mata Luna yang terlihat basah serta sedikit memerah. Makanan di atas meja pun tampaknya belum tersentuh.
Tanpa menjawab Luna langsung meneroboskan langkahnya untuk keluar.
"Ehh mau kemana kak?"
Yana refleks menahan tangan Luna yang baru saja melintasinya dengan tergesa-gesa. Disana pun Yana tampak ikut cemas dan khawatir meski tidak tau apa-apa.
"Kakak pergi sebentar. Kamu disini aja ya. Mas jaga Yana ya"
Pesan Luna sebelum akhirnya langsung berlari keluar. Gerakan cepat Luna membuat Yana hanya melongo heran dan beralih menatap Rey yang juga tergagap bisu.
Luna akhirnya sampai dengan kedua tangan ia letakkan di kedua lututnya membungkuk lelah. Ia mencoba menetralkan nafasnya sehabis berlari barusan, namun sesak itu terasa semakin menjadi hingga membuatnya jadi mendadak terisak bersama nafas yang semakin terengah.
"Aku tunggu di danau sekarang juga. Aku gak akan kemana mana sampai kamu datang."
"Ma..Pa.. Juan pamit pergi sebentar ya"
Katanya dalam kegiatan sarapan bersama kedua orang tuanya yang bahkan belum terlaksana. Apalagi ini adalah sarapan lengkapnya dengan Ayah dan Ibu setelah bertahun-tahun lama sejak perceraian mereka.
"Hah?"
Hanya itu yang pertama kali Papanya, Nia ucapakan sebagai respon.
Mendapatkan pesan seperti itu membuat Juan tidak bisa untuk menghiraukannya. Ditambah lagi tanda baca titik yang Luna sematkan di akhir pesannya adalah pertanda bahwa gadis itu sedang marah atau sedang sangat serius saat ini.
__ADS_1
"Sebentar aja"
Juan pun segera merampas kunci motornya. Dan pamit dengan terburu-buru pada kedua orang tuanya dari meja makan. Juan sampai lupa jika perang dingin antara Papa dan Mamanya itu akan semakin dingin lagi bahkan bisa semakin membeku jika tanpa kehadiran dirinya. Juan yang bergerak dan pamit dengan tergesa-gesa membuat Ibu nya tidak dapat bicara banyak apalagi menahan Juan.
Menyusuri perjalanan dengan hawa dingin yang menusuk kulitnya karena hari memang masih sangat pagi itu. Juan melajukan motornya dengan kecepatan rata-rata. Entahlah apa yang sedang terjadi sekarang. Yang jelas perasaannya sangat tidak enak.
Begitu sampai. Hatinya mencelos melihat gadis yang tadi mengiriminya pesan sedang bersimpuh di sisi danau sambil menangis dengan tangan mengepal yang pukulkan berkali-kali ke dadanya.
Juan pun mendekat. Dengan ragu tangannya tergerak untuk merangkul Luna. Tapi tiba-tiba Luna menyadari keberadaan Juan. Ia pun menoleh dengan keadaan wajah begitu hancur.
"Aku udah tau. Aku udah tau semuanya. Kamu.. Aku.."
Begitu menyebutkan dirinya dan Juan, isak tangis Luna tidak tertahan lagi untuk menjadi semakin keras.
Juan pun terpaku di tempatnya mendengar pengakuan Luna.
Di tempatnya. Luna masih terisak dengan terus mengatakan.
"Aku udah tau"
Dengan samar dan sesekali tersendat. Tidak tahan melihat Luna, Juan akhirnya menarik tangan Luna mendekat dan memeluknya erat. Air matanya yang jarang sekali tumpah itu pun ikut lolos bersama atmosfer pilu mereka disana.
Luna tidak menolak. Jari-jari Luna ikut membalas pelukan Juan. Luna mencengkram bahu lebar itu dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Mereka saling merangkul kuat, melepaskan segala emosi yang meluap dan tidak terungkapkan dalam diri mereka.
Takdir seperti apa ini Tuhan? Apa semua orang dan cinta yang Engkau hadirkan hanyalah sebuah alat untuk aku jatuh dalam kehancuran
-Luna
Cinta itu anugerah. Jika aku tidak bisa mencintaimu sebagai pendamping hidupku, maka aku akan mencintaimu sebagai adikku
-Juan
__ADS_1