Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 61


__ADS_3

Tepat seminggu lagi, Pernikahan Yana dan Rey akan dilangsungkan. Malam ini Rey mengatakan akan berkunjung bersama keluarganya.


Keluarga? Mereka semua yang mendengarnya cukup terkejut. Karena sejauh yang mereka tau, Rey adalah yatim piatu dan hidup sebatang kara selama ini. Ternyata saat di Jerman, Rey tak sengaja bertemu dengan sahabat sang Ibu yang ia ketahui bernama Rina. Adalah sahabat rasa saudara bagi ibunya. Meski tidak pernah bertemu, Rey cukup tau itu dari cerita-cerita yang disampaikan oleh Ibunya semasa hidup dulu.


"Silahkan masuk" Edi dan Lia menyambut hangat kedatangan Rey dan sepasang suami istri yang mana suaminya terlihat warga asing karena berasal dari Jerman.


"Om, Tante ini orang tua angkat saya di Jerman sekaligus sahabat dekat Ibu saya, mereka yang akan mendampingi saya saat pernikahan nanti" Rey memulai percakapan antara mereka, Bu Rina terlihat setengah hati karena jauh dalam hatinya ia tidak terima jika Rey yang sudah ia anggap putranya sendiri itu harus menikahi wanita yang sudah hamil. Wajar saja, Rey adalah anak sahabat yang sangat Rina sayangi. Rina serasa mengemban sebuah amanah secara tidak langsung untuk menjadi Ibu ditambah ia dan suaminya tidak dikaruniai anak. Tapi kehadiran Rey sudah cukup bagi mereka. Edi dan Lia masing-masing mengulurkan tangan mereka ke arah suami istri yang disebut sebagai orang tua angkat oleh Rey.


Rina tampak menyambut dengan malas. Mereka saling menyebutkan nama dalam jabatan tangan itu. Berbeda dengan suaminya yang bernama Bardolf. Dia membalas jabatan tangan mereka dengan tersenyum. Dia juga cukup mengerti bahasa Indonesia. Sehingga perbincangan malam ini tidak akan menjadi kendala baginya. Edi dan Lia tampak lesu melihat sikap Rina. Tapi mereka juga mengerti dan memaklumi.


"Ehh iya. Kenalkan ini putri saya, Yana" Lia memperkenalkan Yana yang duduk di sofa lain bersama Luna. Yana hanya menunduk, tidak merespon apapun.


"Sebelahnya ini siapa?" Bardolf bertanya penasaran dengan logat yang sedikit berbeda. Itu karena dia adalah warga negara asing. Bisa berbahasa Indonesia saja sudah sangat bagus.


"Ee i-itu" Lia terbata-bata, bingung ingin menjawab karena takut dengan Edi.


"Itu Luna, putri pertama kami" Edi menyambar dengan lancar. Hati Luna begitu menghangat, ia memandang haru pada Edi. Membuat Rey tersenyum samar melihatnya. Sepertinya Edi benar-benar menepati janjinya.


"Udah berapa bulan?" Suara Rina baru terdengar kali ini. Tapi pertanyaan membuat suasana jadi tidak enak.


"Ma..." Rey menegur pelan disertai gelengan kecil.


"Loh kenapa? Salah mama nanya? Itu kan bakal jadi anak kamu secara gak langsung, dan jadi cucu mama juga" Bahu Rey merosot, ia merasa tidak enak dengan keluarga Luna.


"Permisi, makan malamnya sudah siap Pak Bu" Seorang asisten rumah tangga datang.

__ADS_1


"Hmm mari Pak Bu kita makan dulu" Ajak Lia antusias mencoba menteralkan suasana. Rina pun mencebikkan bibirnya. Saat berdiri ia mencekal dan menarik tubuh Rey sedikit untuk berbisik.


"Mama lebih suka Luna" Bisiknya begitu. Oh Mama Rina... Kalau saja Rey bisa jujur diapun ingin bilang begitu dan menikah dengan Luna saja.


"Ma jangan gini dong, gak enak" Rinapun semakin mengerucutkan bibirnya. Di sela makan malam yang begitu hening dan mencekam bagi Edi, dia pun bersuara mencoba mencairkan suasana ruang makan itu.


"Hm Bu Rina dan Pak Bardolf ini sudah lama kenal dengan keluarga Rey?" Rina enggan menjawab, tapi pertanyaan itu cepat dijawab oleh suaminya.


"Kami gak sengaja bertemu di bandara. Rey sedang menanyakan alamat. Kemudian kami saling memperkenalkan diri. Rina kaget mendengar nama lengkap dan tempat Rey berasal. Setelah tau Rina pun segera berhambur memeluk Rey, wajar jika Rey tidak mengenali. Karena terakhir kami bertemu Rey masih berusia 3 tahun dan kami pindah ke Jerman. Lalu kami kehilangan kontak dengan Rey dan keluarganya. Kami juga tidak punya anak, jadi saat tau siapa Rey dan teman kami juga sudah meninggal, kami memutuskan akan menjadi orang tua untuk dia" Jelas Bardolf.


"Rey beruntung bisa memiliki orang tua sebaik Bapak dan Ibu" Lia menambahi.


"Kami yang beruntung bisa diberi kesempatan menjadi orang tua untuk anak sebaik Rey" Bardolf membenahi perkataan Lia.


"Iya benar. Itu sebabnya saya ingin yang terbaik untuk putra semata wayang saya ini" Kali ini Rina yang bicara, dan siapapun yang ada disana mengerti maksud dari ucapan Rina yang sebenarnya sedang menyinggung itu.


"I-iya tante" Luna terkesiap gugup.


"Kamu umur berapa sayang. Udah punya pacar belum? " Hah? Luna melongo mendengar pertanyaan Rina.


"Sa-saya 22 tahun tante" Hanya itu yang bisa Luna jawab. Mengenai pacar Luna tidak ingin menjawab lebih jauh. Wajahnya pun mendadak murung. Semua itu tak lepas dari pengawasan Rey. Membuat dadanya bergemuruh saja. Teringat dengan pertengkaran dan penuturan Juan saat itu.


"Kata Rey kamu penulis hebat ya? Wahh tante mau dong baca karya kamu" Luna tersenyum tidak enak.


"Dokter Rey berlebihan tante, saya hanya penulis biasa"

__ADS_1


"Tapi itu hebat loh, tante suka" Melihat itu wajah Edi memerah menahan amarah ke arah Luna. Sadar dengan raut wajah sang Ayah membuat Luna khawatir dan menunduk. Akhirnya makan malam itu berjalan setengah baik, Sepanjang disana Rina hanya memperhatikan Luna.


- - -


"Mama gak setuju, gak suka!" Gerutu Rina di tengah perjalanan mereka di dalam mobil disusul sentilan kecil dari Bardolf di tangannya.


"Kenapa?Kamu pasti mau suruh sabar sabar sabar kan kayak Rey" Tanya Rina dalam bahasa Jerman ke arah samping dimana suaminya sedang menyetir.


"Bukan. Jangan ngomong tiba-tiba gitu, aku kaget tadi" Astaga Rina pikir kenapa. Ihhhh. Suaminya itu memang menyebalkan.


"Ma, lain kali Mama jangan gitu dong, Rey gak enak sama mereka, Mama harus ingat Rey tuh punya hutang budi sama Om Edi dan Luna" Rey menimpali.


"Yaudahh, balas budinya nikah sama Luna dong. Masa kamu disuruh tanggung jawab sih padahal kamu gak tau apa-apa"


"Tapi-"


"Ntar ntar... Mama belum selesai. Terus kamu liat gak adiknya itu. Gak sopann, nunduk terus masa gak ada nyapa sama sekali"


"Harusnya dia inisatif dong ambil hati Mama"


"Mama tuh lebih setuju kamu sama Luna. Keliatan banget dia anak baik-baik, cantik lagi. Gak kalah cantik kok dari Yana. Ya memang gak secantik Mama, kalau mau cari secantik Mama sih susah. Udah gak ada kayaknya" Ohh... Masih sempat-sempatnya Mama Rey itu memuji diri sendiri di sela omelannya.


"Ngapain juga sih Ayahnya itu minta kamu yang tanggung jawab"


"Kamu juga kenapa mau aja"

__ADS_1


Rey ingin menjawab tapi mulut Rina sepertinya masih ingin melaju jauh seiring mobil mereka.


Seperti biasa, Rey dan Bardolf hanya diam. Bicarapun akan sia-sia, jika dijawab, balasan dari Rina akan sepuluh kali lipat lebih panjang dari sebelumnya.


__ADS_2