
PULANG SEKOLAH
“Juan pinjem”
“Juan pinjem”
“Juan pinjem”
Ck! Juan ngerem mendadak.
“Daripada loe bengong, mending loe bawa nih temen loe jauh – jauh dari gue” Ucap Juan. Bukan pada Luna tapi pada Vani yang hanya diam tapi ikut berjalan di samping Luna yang tidak berhentinya mengganggu Juan sejak pagi tadi.
“Dia kalo udah kaya gini gak bisa dilarang. Yaudah sih pinjemin aja. Pelit banget juga” Jawab Vani, Juan serasa pusing. Belum lagi di sebelah nya Luna tidak berhenti menghujamnya dengan dua kata yang sama “Juan pinjem” sejak tadi. Entah sudah berapa ratus kali Luna mengucapkan itu tanpa lelah, dan ributnya sama seperti suara kicauan puluhan ekor burung yang berisik.
Tinn!
“Luna”
Mereka bertiga menoleh. Ayah Luna sudah sampai ternyata, Luna melemas dan berjalan dengan malas menuju mobil sang Ayah
“Duluan Van” Vani mengangguk. Juan yang diam merasa lega.
“JUAN PINJEM” Teriak Luna setelah beberapa langkah berjalan.
Juan dan Vani hanya berdiri diam dengan wajah lesu melihat tingkah Luna. Saat Luna sudah pergi, mereka pun masih disana. Tak lama secara bersamaan mereka saling melirik, kemudian masing – masing pergi dengan salah tingkah. Ehh Cuma Vani kok yang salah tingkah, Juannya mah pergi pake muka datarnya aja kayak biasa.
DI PERJALANAN PULANG
“Kamu kenapa?” Tanya Edi pada Luna yang sejak tadi wajahnya tampak sendu.
“Gapapa” Jawabnya malas. Tak lama Luna melihat ke samping jendela hingga kepalanya memutar karena matanya yang terpaku oleh satu objek.
__ADS_1
“Yahh tamannya udah jadi ya, udah boleh di kunjungin ya.. Wahhh cantik banget tamannya ada danau” Ucap Luna yang terpukau oleh sebuah taman baru yang baru saja ia lintasi dan kebetulan tidak terlalu jauh dari rumahnya.
“Iya, dari kemarin deh kayanya” Jawab Edi.
“Hahh?! Dari kemarin? Kok Luna bisa – bisanya gak tau sihh” Katanya tak sangka.
Edi hanya mendengkus senyum kecil mendengar rengekan Luna.
“Kesitu bentar yuk” Ajak Luna memasang wajah memohon dan mendekat pada sang Ayah yang sedang memutar setir perlahan memasuki pagar rumah mereka.
“Maaf yaa jangan hari ini. Ayah lagi banyak pasien” Jawab sang Ayah yang baru saja mematikan mesin mobil begitu sampai memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya.
Luna seketika menekuk wajahnya kecewa.
Melihat itu Edi mengangkat tangannya untuk mengelus lembut kepala sang anak.
“Besok deh ya InsyaAllah Ayah temenin kesana, kan besok hari minggu” Ucap Edi mencoba menghibur.
“Hmm kalo Luna kesana sendiri boleh gak? Kan gak jauh Yah, bisa jalan kaki juga” Kata Luna lagi.
“Haa Ayahh boleh ya deket kok, ya ya ya” Rengeknya.
Hufftttt… Edi menghela nafas menyerah.
“Yaudah tapi jangan lama – lama dan hati hati dan harus makan dulu”
Secepat kilat Luna menjawab dengan semangat
“SIAP BOS!” Dengan tangan kanan yang memperagakan gerakan hormat.
Edi menggeleng samar dengan tingkah sang putri.
__ADS_1
Luna langsung membuka pintu mobil, melangkahkan kaki keluar dan berlari masuk ke rumah. Ia langsung ganti baju. Pergi ke kamar mandi mengambil air wudhu untuk melaksanakan salar zuhur.
SALAT ZUHUR BERES
Setelah menunaikan ibadah salat zuhur, Luna lantas keluar untuk makan siang bersama keluarganya. Disana ia kembali meminta izin untuk ke taman baru dekat rumahnya, tapi bukan kepada Edi, Ayahnya. Melainkan pada Lia, Bundanya, dan karna Edi sudah mengizinkan, maka Lia pun juga setuju. Luna semakin senang mendengarnya. Luna juga mengajak sang adik, Yana.
“Kamu mau ikut gak Yan?” Tanya Luna di tengah suasana makan siang mereka.
“Boleh” Jawab Yana.
“Oke” Sahut Luna menanggapi.
MAKAN SIANG BERES
Kembali ke kamar, Luna menyelesaikan PR nya dulu untuk besok, agar pikirannya tidak terganggu saat ke taman nanti.
Sekitar kurang lebih 2 jam Luna mengerjakan kedua PR nya. Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, artinya sebentar lagi akan terdengar suara adzan. Belum smeenit ia berpikir begitu, suara adzan sudah berkumandang. Ia langsung bergegas mengambil wudhu untuk salat ashar.
SALAT ASHAR BERES
Ganti baju udah, Makan siang udah, Salat Ashar juga udah. Setelah dirasa siap, Luna pun tak sabar ingin ke taman dan langsung merampas jaket miliknya yang tergantung di paku belakang pintu kamarnya kemudian bergegas pergi ke taman.
Ehh sebelum itu, ia ke kamar Yana dulu. Niatnya sih mau ngajak Yana juga, tapi melihat Yana yang tertidur pulas di kasur di kamarnya dengan masih menggunakan mukenah pink miliknya. Luna memutuskan pergi sendiri saja dan membiarkan sang adik beristirahat.
Dengan bahagia Luna berjalan langkah demi langkah menuju taman baru tersebut. Sesampainya disana Luna dibuat takjub dengan taman yang sejuk, tidak begitu dekat dengan biruk pikuk kota, ada juga danau kecil yang terjaga kebersihannya menambah kesejukan dan ketenangan di hati Luna memandangnya. Apalagi sore ini sepertinya cukup sepi, Luna yang tidak begitu suka keramaian semakin dibuat senang dengan suasana ini, berniat menuju tepi danau Luna dihentikan oleh sekaleng minuman bekas yang tergeletak di rumput taman disana
“Ishhh orang – orang ya, baru juga jadi tamannya. Bukannya dijaga malah di kasih sampah kayak gini” Luna yang kesal pun menggerutu sendiri sambil memungut sampah kaleng tersebut.
Kepalanya memutar ke kiri dan ke kanan mencari tempat sampah. Dapat. Luna melihat ada tempat sampah besar di dekat danau. Iseng – iseng menguji kemampuan, Luna mencoba membuang kaleng itu dengan cara melempar dari jarak jauh. Siapa tau masuk. Namanya juga iseng. Dannn…
Plak!!! Yahh meleset.
__ADS_1
“Awww”
Ehh? Kok ada suara orang kesakitan sih. Jangan – jangan…