Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 11


__ADS_3

Seperti biasa Luna dijemput sekolah sang Ayah.


“Yah, ayo buruan. Luna ikut ke Rumah Sakit” Kata Luna dengan antusias yang baru saja membuka pintu mobil Ayahnya.


“Ehh semangat banget, biasanya males kalau Ayah ajak ke Rumah Sakit” Sahut Edi menanggapi Luna yang tidak seperti biasanya.


“Ada apa emangnya disana sampe kamu semangat gini?” Tanya Edi.


“Ada deh…hehee” Luna menjawab dengan nada meledek.


Edi pun hanya memasang wajah masam mendengarnya, setelah itu ia melajukan mobilnya ke Rumah Sakit. Sesampainya disana.


“Yah Luna mau ke ruangannya Bu Jihan ya” Katanya bergegas turun dari mobil sang Ayah. Saking buru – burunya belum sempat Edi bertanya lebih lanjut tapi Luna sudah berlari masuk.


...***...


Tok tok tok! Ceklek


Tepat setelah mengetok, suara pintu terbuka terdengar dari luar dan disusul salam.


“Assalamu’alaikum” Ucap Luna


Wa’alaikumsalam. Secara bersamaan Rey dan Ibunya disana menjawab.


“Ehh Luna udah datang, ayo masuk sayang” Sambut hangat Jihan mengetahui bahwa Luna lah yang datang.


Tanpa basa basi, Luna membuka tas nya dan mengeluarkan sekotak sedang perlengkapan menyulam. Jihan pun dengan sabar mengajari Luna beberapa teknik sulam yang indah, Luna yang menikmati kegiatannya tersebut cukup cepat menangkap apa yang Jihan ajarkan.


Dan hasilnya… sebuah tas kain cantik bermotif beberapa daun kecil di sisi kanannya. Tak lupa sulaman berbentuk huruf L yang menandakan inisial dari nama si pemilik, yaitu Luna.


Dari kursi yang berbeda, disana Rey memperhatikan Luna dan sang Ibu yang asik menyulam, sesekali bibirnya tertarik untuk membentuk lekuk senyum halus.


“Wahh cantik banget tas nya” Ucap Luna yang puas dengan hasil sulaman di tas kain miliknya.


“Iyaa cantik banget, kamu pinter loh nyulamnya. Rapi juga” Kata Jihan ikut memuji.


“Makasih ya Bu udah mau ajarin Luna” Ucap Luna bersama senyum mengembangnya.


Dua hingga tiga hari ke depan pun Luna terus dengan semangat mengunjungi Jihan dan menyulam bersama sepulang sekolah. Kebetulan juga Edi pun memang ada pasien yang bertepatan dengan jam pulang Luna, sehingga tidak sempat untuk mengantar Luna ke rumah dulu dan membawanya untuk ikut bersamanya ke Rumah Sakit.


Luna sangat menikmati proses demi proses menyulamnya bersama Jihan. Hari ini dia membuat sapu tangan dengan motif hati. Belum selesai sulaman di sapu tangannya. Pintu ruangan Jihan di ketuk dan masuklah Edi yang bertujuan mengajak Luna pulang.


“Gapapa Luna, kamu pulang dulu, istirahat. Ini tinggal aja dulu disini, kan masih ada besok buat lanjutin sapu tangannya. Ya?” Tutur Jihan dengan lembut. Luna yang mulanya sedikit cemberut pun akhirnya menurut dan tersenyum tipis.

__ADS_1


KEESOKAN HARINYA DI SEKOLAH


Hari ini, Luna datang cukup pagi ke sekolah karena Ayahnya mendadak ada urusan di rumah sakit sepagi ini, sekolah pun masih sangat sepi. Ia berjalan menuju kelas sambil membaca sebuah buku, karena tidak memperhatikan jalan ia bertubrukan dengan seseorang yang juga berjalan sambil membaca, sama seperti dirinya.


Prakk!


Masing – masing buku yang mereka baca terjatuh.


Aduhhh. Juan ternyata.


“Jalan tuh liat – liat dong” Kata Juan.


“Hehh orang loe juga tadi gak liat – liat kok jalannya” Sahut Luna tak mau kalah.


Juan yang merasa salah juga tapi gengsi hanya terdiam dan tampak menunduk untuk mengambil bukunya, Luna yang merasa tidak dijawab akhirnya ikut memungut buku miliknya juga. Dan…


Tuk!


Karena mencoba bangkit bersamaan, kepala mereka malah terbentur. Belum sempat Luna ingin mengeluh, matanya malah menangkap sesuatu yang menarik perhatiannya.


“Ehhh itu” Ucapnya menunjuk pelan pada buku yang di pegang Juan. Juan pun menoleh sebentar ke buku di tangannya. Ternyata buku yang mereka pegang sama. Judul yang sama, dan penulis yang sama.


“Iya. Gue juga suka Muf In Rosas” Katanya lalu langsung pergi.


Tapi tunggu. Apa maksud Juan? Juga? Berarti maksudnya Juan tau Luna suka penulis bernama Muf In Rosas. Kok dia tau sihh…


Ihhh! Luna menggedik ngeri, tiba – tiba Juan jadi menakutkan baginya. Tapi di sisi lain kok Luna merasa senang ya ada yang suka dengan penulis yang sama dengan yang ia suka juga. Jarang ia temui teman sekolahnya yang menyukai puisi seperti dia apalagi sampai penulis favoritnya.


Sepulang sekolah Luna dan Vani berjalan menuju gerbang sekolah. Tak sengaja, ia melihat Juan yang sudah berjalan mendahuluinya. Spontan Luna berteriak.


“Juann” Teriak Luna sambil senyum dengan melambaikan tangan ke arah Juan.


Menyebalkan juga seperti biasanya, Juan tampak menoleh dan menatap Luna balik, tapi Luna malah hanya terdiam dan tetap tersenyum, mungkin Juan yang merasa Luna hanya iseng pun malah langsung menaiki sepedanya dan pergi.


Luna terdiam melongo konyol.


“Hehh! Loe ngapain?” Tanya Vani heran.


“Ngapain?” Luna mengikuti perkataan terakhir Vani.


“Sejak kapan loe sedekat itu sama tuh si cowok gila ampe sapa – sapaan gitu” Tanya Vani lagi dengan heran dan tidak suka.


Luna menggeleng pasrah dan menjawab.

__ADS_1


“Cuma sapa Van, gak sapa – sapaan. Karna yang nyapa cuma gue dan gak ada timbal balik dari dia” Jawab Luna dengan wajah tersenyum pasrah. Beberapa detik kemudian, raut wajah tiba – tiba berubah kesal.


“Ishhh!” Ucapnya tiba – tiba sambil menghentakkan kakinya dengan kesal, dan berjalan cepat menuju gerbang sekolah.


Vani yang terheran hanya diam dan menyusul Luna dari belakang.


...***...


Luna sudah berada di dalam mobil Ayahnya.


“Kita ke rumah sakit kan yah?” Tanyanya pada Edi.


“Nggak sih, Ayah antar ke rumah dulu aja. Gak buru – buru juga soalnya hari ini” Jawab Edi sambil fokus menyetir.


“Yahhhh… jangan dong, mau ke Rumah Sakit, sapu tangan Luna belum selesai kemarin. Ya?” Rengek Luna mencoba membujuk Edi.


“Seneng banget ya kayanya nyulam. Udah jago nih kayaknya” Ucap Edi.


“Seneng dongg… Luna udah bikin hiasan di tas, di baju, terus di sapu tangan. Nanti kali sapu tangannya udah beres Luna liatin semua hasil sulaman Luna 3 hari ini ya” Sahut Luna dengan semangat. Edi tersenyum dibuatnya.


“Jadi? Ke Rumah Sakit kan kita?” Tanya Luna meyakinkan.


“Iyaaaa” Edi menjawab panjang sambil mencubit gemas pipi Luna. Mereka pun saling melempar tawa. Harmonis sekali.


SAMPAI.


Dari kejauhan Luna melihat pintu kamar Jihan sedikit terbuka. Entah kenapa Luna merasa tidak enak hati dan semakin penasaran, membuat ia berlari kesana. Matanya membulat dan keningnya mengerut. Disana tampak beberapa tenaga medis memacu jantung Bu Jihan yang tampak terbaring tidak sadarkan diri. Luna panik, Edi sudah bergegas menyusul masuk sedangkan Luna tetap berdiri menunggu dari luar dengan perasaan khawatir.


Setelah beberapa lama berusaha, semua tenaga medis di dalam sana termasuk Edi, Ayahnya mulai berhenti, perasaan Luna makin tidak karuan kemudian langsung syok begitu mendengar dengan samar Edi mengatakan


“Innalillahiwainnailahiraji’un” Kemudian menutup tubuh Jihan menggunakan selimut hingga ke kepalanya.


.


.


.


Aduhh sedihh dehh. Yang sabar ya Reyy. Sekarang dia sendirian..


Author juga mau kok nemenin Reyy (Waduh 🙄)


Jangan lupa untuk selalu tinggalkan like dan komen di akhir bacaan ya. Karna dukungan kalian adalah semangat menulis aku. Terimakasih ☺

__ADS_1


__ADS_2