
Setelah berbincang – bincang sedikit mengenai pekerjaan yang akan Luna lakukan, jam kerja, gaji dan sebagainya di café milik Laras. Mereka akhirnya menuju café coffee yang dimaksud untuk meninjau tempat sekaligus Laras juga sedikit demi sedikit serta pelan – pelan mengarahkan Luna dalam mengoperasikan mesin kasir dan hal lainnya yang akan Luna kerjakan ke depan.
Luna termasuk anak yang cerdas, tidak butuh waktu lama untuk mengajarkan hal baru padanya.
“Terima kasih banyak ya bu. Terima kasih sekali” Ungkap Luna penuh syukur dengan pertemuannya dengan Laras hari ini.
“Sama – sama, sampai ketemu besok ya”
“Baik Bu Laras, saya permisi dulu-“
“Ehh kamu pulang sendiri? Mau saya antar?”
“Ohh gak usah Bu, Luna bisa sendiri, makasih sebelumnya”
“Hmm yaudah, kamu hati – hati ya”
Luna tersenyum.
“Assalamu’alaikum” Luna tak lupa mengucap salam sebelum pergi.
“Wa’alaikumsalam” Laras langsung menjawab. Ia tatap lekat Luna yang semakin menjauh dari teras café tempat ia berdiri. Ada tatapan yang sulit diartikan dari mata Laras, entah apa yang ia pikirkan atua yang ia tau mengenai Luna.
Berikutnya, Luna pun menjadi resmi menjadi karyawan di café coffee tersebut, hari demi hari ia lalui untuk berkerja disana dan membuat Luna menjadi salah satu karyawan terbaik karena ketelatenannya selama bekerja disana.
Mengerti dengan kondisi Luna yang masih sekolah, Laras dengan kebijaksanaannya memberikan keleluasaan bagi Luna untuk menyesuaikan jam kerjanya dengan waktu sekolah. Sekali lagi, Luna sangat bersyukur dan berterima kasih atas perhatian bos nya ini.
Kehidupan baru Luna yang mandiri pun ia lewati dengan tegar, hingga waktu terus berputar dan membawanya ke tahun ketiga dalam kesendiriannya.
Di sebuah taman di tepi danau yang teduh, seperti biasa Luna dan Juan duduk bercengkrama hangat disana. Tak terasa juga persahabatan Luna dan Juan sudah terikat selama dan sedekat ini.
“Aku akan ke Bandung untuk waktu yang cukup lama di liburan kali ini” Ucap Juan di tengah keheningan mereka.
Luna menoleh “Berapa lama?” Tanyanya cepat.
“Mungkin lebih dari 2 minggu, gak pasti juga sih” Jawabnya.
Luna pun mengangguk mengerti secara pelan.
“Soalnya Papa sakit lagi, jadi selagi ada waktu ya aku temenin Papa disana, Mama juga katanya lagi sibuk banget akhir – akhir ini, dan mau keluar kota kisaran semingguan” Juan menjelaskan tanpa Luna bertanya dulu.
__ADS_1
“Iya gapapa, bagus dong. Kasian juga papa kamu, pasti beliau kesepian sendirian. Kesepian tuh gak enak” Sepertinya pembahasan kali ini tak sengaja membuat Luna terhanyut dengan kisahnya sendiri.
“Emang kamu ngerasa kesepian?” Tanya Juan.
Luna mengerutkan dahi sambil tersenyum heran ke arah Juna.
Ya ampun, pertanyaan apa sih itu. Jelas Juan tau masalah yang dihadapi Luna selama ini, tentu saja dia merasa kesepian. Gumam Luna di hatinya.
“Gak usah nanya kalo udah tau jawabannya” Jawab Luna.
“Loh, kalo tau ya gak mungkin ditanya” Sahut Juan.
Luna Kembali menoleh tak percaya.
“Ya jelas kesepian lahh… aku bisa dibilang gak punya siapa – siapa secara gak langsung, kamu tuh seolah kaya gak tau aja masalah aku apa” Ungkap Luna sedikit kesal.
“Ehh mpus” Panggil Luna.
“Ck! Nama aku Luna! Seneng banget sih ngubah nama orang, mending bagus. Ini kayak kucing” Luna menggerutu.
“Kalau kamu bilang udah gak punya siapa – siapa lagi, terus kamu anggap aku selama ini apa? Setan?”
Mendengar itu, lagi – lagi Luna menoleh heran, kali ini diakhiri senyum tipis sambil menggeleng samar.
Deg!
Luna kaget dengan penuturan Juan barusan, ia spontan saja mendongak ke arah pria di depannya itu untuk mencari tau keseriusan dari kalimat yang baru saja ia dengar.
FLASHBACK OFF
“Terus diterima gak?”
Tanya Vani antusias
Tuk!
Dira menoyor pelan pucuk kepala Vani.
“Aduhh apaan sih loe, gue salah apa!” Kata Vani sambil mengelus pucuk kepalanya.
__ADS_1
“Kalau gak diterima ya gak mungkin Luna jadi pacar gue sekarang” Itu bukan suara Dira, melainkan Juan yang menjawab pertanyaan Vani. Ternyata tadi Vani terhanyut dengan cerita flashback Juan dan Luna hingga membuat ia merasa sedang mendegar kisah orang lain.
“Iya juga ya hehe” Vani menjawab dengan cengiran khasnya.
“Lagian loe pasti tau lah cerita mereka, loe kan udah sahatan sama Luna jauh sebelum kenal Juan” Sambung Dira.
“Iya iyaa maaf, gue lupa. Kebawa aja tadi ama ceritanya Panjang amatt”
Dari arah dalam restoran, Luna datang menghampiri mereka.
“Cerita apa sih asik banget kayaknya gue liat dari jauh” tanya Luna sambil duduk di samping Juan
“Nyeritain kisah putri cantik dan pangeran tampan” Dengan menebar senyum ke Luna , Juan menjawab
Vani langsung memasang raut wajah seolah ingin muntah.
“Hah? Gimana tuh ceritanya?” Luna jadi ikut penasaran.
“Ehh udah yuk, udah malam nih. Kita makan nasi goreng di dekat rumah Luna aja yaa, gue udah laper banget nih”
Vani tiba – tiba memotong pembicaraan Luna dan terlihat tidak sabaran.
Merekapun menyetujui saja dan langsung menujud tempat yang dimakud Vani.
- - -
SAMPAI.
“Bang nasi gorengnya 4 ya makan disini, 2 pedes 2 enggak, yang pedes gak usah pake sayur” Dengan fasih dan hafal luar kepala, Juan langsung memesan dalam satu tarikan nafas
“Oke mas” Tukang nasi goreng menjawab tanpa mengalihkan pandangannya pada wajan besar berisi nasi dan pelengkap yang tengah di masaknya.
Juan lantas berjalan menuju meja dimana Luna, Vani, hingga Dira sudah duduk terlebih dahulu
“Ayah loe apa kabar wan?” Vani bertanya seraya Juan tengah akan duduk.
“Alhamdulillah udah mendingan” Jawabnya langsung
“Maaf ya selama ini aku belum pernah jenguk Ayah kamu, ketemu juga belum pernah” Kata Luna mengungkap penyesalannya.
__ADS_1
“Gapapa kok” Kata Juan sambil tersenyum lembut pada Luna.
Tak lama pesanan nasi goreng tadi akhirnya tersaji di meja mereka. Keempatnya pun makan tanpa banyak bicara.