
Akkhhhhhhhh!!!
Kedua orang itu saling berteriak bersamaan tangan Yana yang menyodorkan sebuah pisau namun melangkah mundur sambil terus meneriakkan kata apapun yang terlintas di kepalanya dengan mata terpejam. Yana semakin mundur kata orang di hadapannya ini berusaha mendekati dan menyentuhnya. Merasa sudah tidak ada yang mendekatinya, Yana pun perlahan membuka matanya, tapi keadaan begitu gelap, dia tidak bisa melihat apapun. Tiba-tiba.
Clingg!
Uhh rasanya silau sekali, Yana sampai menutup matanya sebentar untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya itu. Ehh. Tunggu, tapi siapa yang menyalakan lampu? Yana pun membuka matanya lagi namun masih dalam keadaan menyipit dan setelah dirasa lebih baik, ia pun membuka matanya sempurna dan tampaklah Rey berdiri tegak dan menyoroti Yana dari samping pintu kamarnya.
Hufftt, ternyata Rey yang menyalakan lampu. Dan berarti penjahat yang ia kira tadi itu adalah Rey?
"Kamu kenapa sih?” Rey akhirnya bersuara, suaranya terdengar nada malas dan sedikit kesal. Mungkin karena tadi ia cukup panik karena Yana menodongkan pisau ke arahnya. Sedangkan Yana yang sedang ditanya malah mengerjap cepat dan matanya menggeliar kesana kemari bingung ingin menjawab apa. Rey menghela nafas.
"Kamu perlu sesuatu?" Tanyanya lagi seraya mendekat. Yana menggeleng dan masih menunduk.
"Kenapa belum tidur?" Yana mendongak canggung, lalu menoleh dan menunjuk ke arah dispenser galon bawah berwarna silver di samping kulkas yang juga berwarna senada.
"Yaudah kamu duduk disana, biar saya ambilkan" Kata Rey menunjuk meja makan. Uhh... Padahal Yana bisa mengambil air putih sendiri, tapi kenapa kepalanya malah mengangguk sendiri sih. Yana tidak menjawab, tapi seperti biasa ia tetap menurut. Yana duduk di kursi sebelah kanan, sambil memperhatikan Rey yang berjalan mengisi air ke dalam gelas kaca putih yang cukup besar. Kemudian menuju kulkas mengambil sebuah wadah tertutup yang entah berisi apa.
"Ini" Rey meletakkan gelas berisi air tepat di meja depan Yana yang diterima secara baik oleh gadis itu. Rey sendiri duduk di kursi yang berhadapan dengan Yana seraya tangannya sibuk membuka wadah yang ia bawa dari kulkas tadi.
"Kamu lapar? Ini ada salad buah kalau kamu mau" Ujar Rey kemudian menggeser salad buah itu ke arah Yana. Namun aroma yoghurt yang menyeruak saat salad buah itu di dekatnya tiba-tiba membuat perutnya bergejolak dan mual. Yana pun sontak menutup mulut dan hidungnya menahan rasa mual.
"Kenapa?" Tanya Rey panik. Ia langsung menarik kembali salad buah itu dan menutupnya lagi.
__ADS_1
"Kamu gak bisa makan ini ya?" Yana mengangguk pelan. Padahal dulu ia sangat menyukai yoghurt tapi entah kenapa semenjak hamil Yana malah membencinya bahkan membayangkannya saja ia mual. Ahh, hatinya mendadak sakit. Itu karena dia ingat bahwa yoghurt adalah makanan yang paling tidak disukai oleh Yudha.
"Ada apa? Ada yang sakit?" Rey banyak sekali bertanya malam itu. Pertanyaan kali ini disebabkan karena Yana yang terlihat murung. Seakan tersadar, Yana mendongak bingung disusul gelengan kepala lemah.
"Hmm" Rey menoleh karena deheman pelan Yana yang masih sedikit terdengar di telinga Rey.
"Ma- ehmm" Ucapannya tertahan sebentar karena tenggorokannya terasa tercekat.
"Makasih" Itu adalah kata pertama yang Yana ucapkan pada suaminya itu hari ini. Begitu pun Rey, itu adalah suara pertama Yana yang ia dengar setelah kurang lebih 2 minggu gadis itu sangat lah berhemat dalam bersuara.
"Sama-sama, jangan sungkan, apartemen ini juga milik kamu" Yana tersenyum kecil mendengar itu. Bagaimana mungkin ia bisa menganggap apartemen ini adalah miliknya sedangkan ia saja merasa asing dengan keberadaannya sendiri di tempat ini.
Hening
Hening
Hening
"Belum mau tidur?" Rey selalu yang menjadi pemecah kebisuan mereka. Memandang gugup Yana lantas mengangguk lalu berdiri kaku. Rey pun ikut berdiri.
"Biar saya yang bawa, kamu langsung istirahat aja. Gak baik Ibu hamil begadang" Rey pun mengambil alih gelas dari tangan Yana. Gadis itu pun melirik sebentar kemudian masuk kembali ke kamarnya. Dan begitulah malam pertama pernikahan mereka terlewati.
__ADS_1
Tringg Tringg Tringg Tringg!
Yana menggeliat dalam balutan selimut yang menggulung tubuhnya begitu terdengar alarm yang memenuhi kamar itu. Menggosok matanya sebentar, ia pun menggeser tubuhnya mendekati nakas bertujuan mematikan alarm dari ponselnya. Duduk dengan lesu, ia pandangi layar ponsel yang menunjukkan pukul 05.00. Hufttt. Rasanya matanya baru saja terpejam tapi sudah jam 5 saja.
Berusaha melawan kantuknya, Yana pun bangkit untuk berwudhu. Setelah salat subuh Yana memutuskan untuk tidur lagi, entah kenapa badannya terasa sangat lelah. Tidak perlu waktu lama ia pun kembali tertidur dengan masih mengenakan mukenah putih miliknya.
06.00
Rey yang tengah sibuk berkutat dengan wajan dan kompor sesekali melirik jam tangannya dan pintu kamarnya yang ditempati Yana. Menyajikan nasi goreng dengan telur dadar di atas meja yang masih panas. Rey tak lupa membuatkan susu hamil untuk istrinya itu. Istri? Ahh kenapa setiap teringat kata "istri" hatinya terus saja meringis. Sebegitu sulitnya kah Rey menerima itu? Atau mungkin sebegitu besarkah cintanya pada Luna? Entahlah. Memikirkannya hanya membuatnya pusing. Kembali melirik jam tangan. Sudah jam 07.00.
Rey mendesah frustrasi menunggu di meja makan. Bukan karena sedang kelaparan, tapi ia khawatir dengan Yana. Apa Yana memang memiliki kebiasaan tidur sampai siang atau bagaimana? Rey sama sekali tidak mengetahui apapun tentang Yana. Setelah berdiskusi dengan dirinya sendiri, Rey pun akan mencoba untuk memanggil Yana.
Tok tok tok!
Tidak ada sahutan.
Tok tok tok!
Kegelisahan kini berkelabat di kepalanya.
"Yana" Serunya cukup keras. Karena takut terjadi sesuatu, Rey pun meraih gagang pintu dan mendorongnya. Hah.. Syukurlah tidak di kunci. Matanya langsung tertuju pada tubuh terlentang Yana yang masih berbalut mukenah dengan nafas teratur.
"Yan... Yana" Panggil Rey pelan sambil menepuk pelan bahu Yana. Menggeliat sebentar, Yana melirik ke arah Rey kemudian terbelalak kaget dan berteriak. Bukan itu saja, sebuah bantal di sampingnya sudah mendarat tepat di wajah Rey. Sadar akan kesalahannya, Yana malah melotot dan menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua tangan.
__ADS_1