
Hoammmm. Vani menutup mulutnya dengan tangan kanan yang sedang menguap sambil tangan kiri mendorong pintu kaca sebuah mini market. Begitu masuk ia berjalan pelan sambil mengedarkan pandangannya dengan teliti, entah apa yang gadis itu cari. Sampai kepalanya tertuju pada sebuah etalase di ujung Lorong, ia tersenyum mendapati sebuah tulisan “Coklat Happy 1kg diskon + gift Special 10th” dengan ukuran cukup besar jika dilihat dari jarak jauh dan di bawahnya terdapat satu buah coklat happy berukuran 1kg.
“Yes akhirnya ada mini market yang masih punya” Vani bicara dan kegirangan sendiri. Bukan tanpa alasan, hal tersebut karena coklat kesukaannya yang tengah ulang tahun ke-10 itu memberikan diskon sekaligus hadiah untuk coklat ukuran 1kg. Rasanya sudah lebih dari 5 tempat perbelanjaan yang ia datangi sejak sore tadi hingga semalam ini, tak juga ia menemukan diskon coklat yang tersisa. Tanpa pikir Panjang, Vani langsung melangkahkan kakinya menuju kesana. Dengan perasaan Bahagia, Vani langsung memegang ujung kotak coklat tersebut. Tapi!
“Eh?” Katanya spontan mendapati ujung lain kotak coklat yang ingin ia beli ternyata ditarik juga oleh orang lain secara bersamaan. Vani pun menoleh dan mendapati seorang pria bertopi dan memakai masker
“Maaf ya ini saya dulu yang dapet” Kata Vani masih dengan nada normal tapi wajahnya sudah terlihat ketus.
“Tapi gue dulu yang pegang” Kata pria itu dengan santai
Nah loh? Vani sepertinya mengenali suara ini.
“Juan ya?” Kata Vani lebih keras.
Pria yang di duga Juan itu tidak menjawab, membuat Vani semakin yakin lalu ia Kembali menarik coklat tersebut.
“Ihhh ini gue dulu yang dapet, loe cari di tempat lain aja” Pinta Vani pada Juan dengan kesal
“Loe aja sana cari tempat lain, gue udah keliling nyari ini” Juan menjawab dan itu semakin menyulut kekesalan Vani
“Ehh gue jugaa kali, seharian guee keliling Cuma buat nyari ini doang. Lagian ngapain sih loe beli ini, Luna kan gak bisa makan coklat”
“Buat gue bukan buat Luna” Jawab Juan
Tragedi Tarik – menarik itu masih berlangsung, tampak keduanya tak ada yang ingin menoleh, orang – orang yang juga tengah berbelanja disana pun menatap mereka heran.
“Loe tuh ngalah dong sama gue, sini gakk coklatnya. Gue udah kepengen bangett huhu, apalagi hadiahnya gemess banget boneka kecil itu” Ucap Vani
“Udah sih buat gue aja. Lagian loe gak modal banget beli coklat diskonan sama hadiah gratisan” Ucap Juan masih dengan nada datarnya.
Wah Wah Wahh… mendengar itu, seluruh darah Vani rasanya naik ke kepala
“Hehh! Ngaca dong! Loe pikir sekarang elo lagi ngerebutin apa sama gue!” Ucap Vani dengan emosi yang memuncak.
Karena aksi rebutan antar Vani vs Juan yang tak selesai – selesai itu akhirnya menarik perhatian petugas mini market hingga menghampiri mereka. Melihat seorang Wanita berseragam pegawai disana Juan dengan cepat melepas coklat tersebut dan mengeluarkan sebuah dompet. Vani yang melihat coklat yang mereka perebutkan di lepas Juan sudah senang duluan, tapi belum sempat ia mengungkapkan kesenangannya, telinganya sudah menangkap bunyi menyebalkan lagi.
__ADS_1
“Ini mbak saya bayar duluan ya, jadi ini coklat saya kan?” Kata Juan sambil menyerahkan uang pecahan seratus ribu Rupiah 2 lembar dan selembar uang dua puluh ribu Rupiah.
Baik Vani dan pegawai tersebut masih planga plongo sebentar.
“Mbak! Gimana?” Kata Juan mencoba menyadarkan si pegawai mini market yang masih terdiam.
“Ha? E-e Iya.. Iya mas” Jawabnya dengan intonasi ragu dan bingung.
“Loh gak bisa gitu dong!” Kata Vani tak terima.
“Bisa lah, itu punya gue, balikin” Pinta Juan pada Vani untuk menyerahkan coklatnya
“Nggak!” Vani tetap kekeh.
“Mbak ini gimana ya, saya udah bayar padahal” Juan berkata pada pegawai mini market yang masih betah disana tanpa melerai
“O-Oh iya mbak tolong di kasi ke mas nya, itu coklat punya dia, karna dia udah bayar duluan, maaf ya” Kata pegawai tersebut dengan sopan
Vani mencebikkan bibirnya dan menatap coklat itu lagi yang ada ditangannya, kemudian ia mengangkat kepalanya lagi menghadap si Wanita pegawai mini marke
Dengan senyum tak enak, pegawai tersebut pun menjawab
“Hehe maaf ya mbak, itu yang terakhir. Lagi pula satu tempat itu cuma dibatasi 2 promo itu” Tuturnya dengan pelan.
Vani pun dengan pasrah dan cemberut menyerahkan coklat itu pada Juan yang masih dengan wajah tanpa ekspresinya
“Oo iya, mari mas ke kasir dulu biar saya scan coklatnya dulu lalu saya kasih giftnya”
Juan pun mengikuti Wanita si pegawai mini market itu dari belakang menuju kasir
SEMENTARA ITU, LUNA DAN REY
“Sekarang ayo turun” Rey mengulurkan lengannya lagi. Syukurnya Luna mengangguk dan meraih uluran tangan Rey. Namun tanpa di duga, Luna kehilangan keseimbangannya dan terpeleset hingga jatuh. Nasib baik Rey masih sempat memegang kedua tangan Luna
“Jangan lihat ke bawah, tetap pegang tangan saya. Saya gak akan lepaskan kamu” Kata Rey mencoba menenangkan Luna agar gadis itu tidak takut, padahal Luna tampaknya pasrah dan tak takut, ia hanya tampak sedikit terharu akan kegigihan pria asing yang sedang berjuang menarik tubuhnya itu.
__ADS_1
Untuk beberapa menit, Rey berusaha sekuat tenaga menarik Luna Kembali ke atas. Dan… syukurnya berhasil.
Baik Rey maupun Luna tampak terduduk ngos – ngosan, Rey membiarkan Luna mengatur nafasnya dulu sambil ia pun juga turut mengatur nafasnya, setelah beberapa menit, Rey merasa nafasnya sudah jauh lebih baik tapi Luna masih terlihat susah bernafas. Rey yang melihat itu mengira bahwa Luna masih syok dan terpukul dengan kejadian barusan. Rey pun menaikkan tangannya dan menggosok punggung Luna untuk membantu gadis itu. Bukannya membaik, Luna malah semakin kelihatan sulit bernafas, barulah Rey perlahan sadar dan mulai khawatir
“Luna… Kamu kenapa?” Tanya Rey mulai khawatir. Sayangnya Luna tidak menjawab, ia hanya memegang dadanya dan membuka mulutnya seperti mencari oksigen
“Luna! Luna apa yang sakit, bilang sama saya, Luna!” Rey semakin panik sambil menepuk pipi Luna
Luna semakin kesulitan bernafas dan sudah tak sanggup duduk, namun Rey mencegah Luna terbaring dan berusaha tetap mendudukkannya sambil menggosok belakang Luna, namun setelah beberapa saat Luna malah tidak sadarkan diri.
“Lun… Luna” Luna terpejam tak menjawab, tubuhnya pun sudah lemas
Dengan panik Rey akhirnya membopong tubuh Luna dan berlari menuju lift, Rey susah payah menekan tombol lift berkali – kali tapi tidak terbuka, ia melihat ke angka lift yang masih jauh. Rey yang tak bisa menunggu lagi pun memutuskan turun dengan tangga darurat, ia berlari secepat mungkin namun masih dengan menjaga baik Luna di gendongannya.
“Suster!!!” “Suster!!” “Suster bawa brankar” Rey berteriak kesana kemari begitu sampai, dua orang suster jaga pun kaget lalu langsung berlari membawa brankar begitu melihat dokter Rey keluar sambil menggendong seorang gadis pingsan berpakaian pasien.
Rey membaringkan Luna ke brankar dengan hati – hati
.
.
.
Waduh waduh waduhh Luna kenapa yaa hua
Ada yang tau gak kira – kira Luna kenapa?
Penasaran kan???
Pantengin terus ya hehe
Dan juga buat yang udah baca
Makasih banyak
__ADS_1