Hati Lunara

Hati Lunara
Bab 37


__ADS_3

Luna dan Vani saat ini tengah menuju sebuah restoran Jepang karena Yana yang sedang mengidam di rumah sakit dan ditemani Dira selagi Luna mencari makanan yang diinginkan adiknya itu bersama Vani. Luna dengan semangat memesan berbagai macam menu begitu sampai disana. Mengingat ini adalah ngidam pertama Yana, tentu Luna akan berusaha memenuhinya.


"Wihhh abis tuh?"


Vani melongo melihat orderan Luna. Tapi sedetik kemudian ia gelagapan sendiri melihat sekitar tubuhnya.


"Kenapa?"


Tanya Luna heran.


"Bentar ya, dompet gue ketinggalan di mobil kayaknya"


"Yaudahlah gapapa. Mobil juga udah di kunci kan, itu biar gue aja yang bayar"


Kata Luna menahan Vani.


"Uuuuu lagi banyak duit nih" Ejeknya dengan bersorak. Tapi tunggu. Ia diam sebentar "Loe kerja lagi Lun?"


Vani yang mulanya antusias malah mendadak berubah iba jika benar Luna berkerja seperti dulu lagi.


Luna tersenyum melihat kekhawatiran sahabatnya itu. Ia rangkul bahu Vani.


"Alhamdulillah... Gue udah gak kerja serabutan kayak dulu lagi. Gue jadi penulis tetap di salah satu penerbit baru"


"Whatt!!! Loe nulis lagi. Ya Allah kenapa gak dari dulu sihh"


Sahut Vani lebih antusias.


"Dulu gue gak percaya diri aja, kayaknya karya gue masih jauh dari kata layak untuk di cetak. Ini semua berkat Dokter Rey. Dia yang bantuin gue. Penerbit itu juga foundernya teman dia. Dan Alhamdulillah mereka suka karya gue dan jadiin gue penulis tetap"


Jelas Luna penuh syukur.


"Ohhh Alhamdulillah dong kalau gitu, yaudah kita duduk di sana aja ya sambil nunggu pesenannya jadi"


Ajak Vani menunjuk meja yang berada di teras restoran itu. Luna pun mengangguk mengiyakan.


Sampai disana. Vani duduk terlebih dahulu, tidak dengan Luna. Gadis itu sekarang menahan kegiatannya untuk duduk dan malah menatap lekat ke belakang Vani. Kepalanya pun memutar ingin tahu apa yang sedang menarik perhatian Luna itu.


Vani melotot. Dengan cepat dia memutar kembali kepalanya berniat mengajak Luna pergi saja. Tapi terlambat. Luna sudah tidak disana. Tubuhnya sudah bergerak mendekat ke arah Juan sekarang. Astaga... Vani ingin pingsan saja, sudah dianugerahi mata hingga sepasang tali bagaimana ia bisa tidak sadar Luna sudah pergi.


Buru-buru ia bangkit menyusul Luna.


"Juan"


Seru Luna. Lelaki itu menoleh dengan raut wajah kaget. Ia tidak menjawab dan malah pergi dengan jemawa.

__ADS_1


"Kita perlu bicara"


Luna menahan lengan Juan.


"Gue buru-buru"


Kilahnya tanpa mau menatap Luna.


Luna menyerngit. Gue? Sejak kapan Juan mengubah panggilan seperti saat pertama kali mereka kenal dulu. Hati Luna jadi tambah sakit saja mendengarnya.


"Ka-kamu kenapa sih belakangan ini"


"Gue udah bosan sama loe. Di Bandung gue nemu cewek yang lebih cantik dari loe, dan gue udah gak butuh loe. Lagian udah lama juga kita bareng emang loe gak bosen juga apa?"


Plak!


Satu tamparan tidak terelakkan di pipi kanan Juan. Siapa lagi pelakunya jika bukan Vani.


Dengan wajah yang sudah memerah. Vani tidak bisa menahan dirinya.


"Sakit? Itu gak ada apa-apanya sama hati Luna. Berengsek!!"


Vani siap untuk menghajar yang lebih lagi tapi di tahan oleh Luna.


Juan berdecih. Mengusap sedikit pipinya yang terasa kebas tanpa meringis sedikitpun.


Katanya sinis sambil menunjuk pipinya yang meninggalkan sedikit warna merah akibat tamparan tadi.


"Sialan!"


Vani berteriak memberontak melepaskan tangan Luna tanpa memperdulikan tatapan orang sekitar yang sudah tertarik perhatiannya oleh aksi mereka bertiga. Tapi Luna semakin memperkuat genggamannya.


Juan pun pergi setelah mengatakan itu.


Luna disana diam terpukul. Dia lebih merasakan pilu dibanding marah. Ia sudah tidak ada tenaga lagi untuk itu.


"Emmm.. Pe-permisi mbak, pesanannya udah siap di meja kasir"


Seorang pelayan menghampiri mereka mereka dengan gugup. Mungkin karena merasa tidak enak setelah kejadian tak mengenakkan yang sempat dilihatnya tadi.


Luna tersenyum ramah menanggapinya.


"Iya mbak, mari"


Mereka pun mengikuti langkah pelayan itu dari belakang menuju meja kasir.

__ADS_1


Hening


Tidak ada yang berbicara di dalam mobil. Luna hanya melempar pandangannya ke sisi jendela mobil. Vani di sampingnya fokus menyetir dan juga tidak berani bicara apapun.


Mobil Vani sudah terparkir rapi di parkiran rumah sakit. Mereka keluar, tapi Vani merasa tangannya di tahan. Ia pun menoleh, dilihatnya Luna yang sedang menatap nya lesu.


"Anggap gak terjadi apa-apa di depan Yana"


Vani sudah meraup udara hendak menyampaikan sesuatu tapi tertahan lagi oleh suara Luna.


"Gue mohon"


Hufftt... Kalau sudah begini Vani tentu akan mengiyakan. Alhasil kepalanya pun mengangguk.


Mereka pun melangkah menuju ruang inap Yana. Begitu sampai Yana menyambut kehadiran mereka dengan mata berbinar-binar menatap bungkusan makanan jepang itu. Luna memaksakan sekuat tenaganya untuk ikut tersenyum riang. Hampir tidak terdeksi oleh Yana, tapi tidak dengan Dira.


Dira melihat Luna tertawa sambil terus mendesah nafas berat beberapa kali. Begitupun Vani yang terlihat lesu dan tidak banyak bicara seperti biasa.


- - -


"Ada apa?"


Dira mulai menyelidiki. Mereka sekarang sudah di apartemen Vani. Dira membuntuti Vani hingga kesini meski sudah di tolak dengan alasan lelah oleh Vani.


Tidak menjawab. Vani malah menutup mukanya dan menangis.


"Ehh kenapa?"


Dira menggosok-gosok bahu Vani sedikit panik.


Setelah cukup tenang, Vani menurunkan tangannya.


"Tadi kita ketemu Juan... "


Dira menaikkan kedua alisnya. Vani pun menceritakan semua yang terjadi dan semua yang keluar dari mulut Juan.


Dira terkesiap tidak percaya.


"Apa itu bener? Maksud gue, apa menurut loe ini gak janggal?"


Vani menggeleng tidak tau. Yang jelas ia sangat kesal dan marah dengan perlakuan Juan terhadap sahabat tersayangnya.


"Gue tau perasaan loe. Perasaan Luna, gue pun rasanya mau marah... ngamuk. Tapi gue rasa ada sesuatu yang gak beres. Gue gak bermaksud ngebela Juan. Tapi jujur... Selama gue kenal mereka gue ngeliat ketulusan dan cinta yang kuat banget di mata mereka masing-masing. Gue rasa kita disini harus lebih peka dan gak mudah kemakan ego. Sebelum tau yang sebenarnya. Kita cukup hibur Luna semampu kita dulu"


Jelas Dira. Vani tampak berpikir. Benar juga apa yang dikatakan Dira. Ia sendiri pun merasa bahwa kasih sayang Juan selama ini bukanlah suatu rekayasa.

__ADS_1


Tapi mendengar kata-kata pria itu tadi membuat Vani tidak bisa menahan diri. Terlepas itu benar atau tidak. Dia pikir tidak akan ada satupun wanita yang tidak sakit di perlakukan seperti tadi.


__ADS_2