Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 54


__ADS_3

Luna pulang dengan langkah kaki gontai setelah berbincang dengan senyum palsunya di depan Ibu Juan selama kurang lebih 40 menit kemudian pamit dengan alasan adiknya sendiri di rumah.


Sedih, bingung, marah. Semua bergemulung tak mau mengalah dalam hatinya. Sakit. Itu yang paling Luna rasakan saat ini. Sebenarnya apa salahnya? Dosa besar apa yang sudah dia lakukan sampai menerima masalah yang tiada habisnya ini.


Ya Tuhan.... Benarkah ini bentuk kasih sayang-Mu padaku? Jika benar berikanlah aku lebih banyak kekuatan...


Drrttt


Luna mengangkat dan melirik layar ponselnya malas. Disana Yana menelepon.


"Kak..." Yana merintih dari balik telepon. Luna seketika terbelalak takut.


"Kamu kenapa Yan?" Luna buru-buru bertanya sedikit teriak.


"Kak perut Yana sakit, gak ada siapa-siapa dirumah"


"Kakak pulang sekarang" Secepat mungkin Luna mematikan sambungan teleponnya kemudian segera melambaikan tangan memberhentikan sebuah taksi yang melintas di jalan raya.


"Jalan Cendana nomor 1, ngebut Pak" Perintahnya begitu masuk ke taksi tersebut. Sambil bergantian melirik deretan tepi jalan, rumah-rumah, dan segala macam bangunan di kiri dan kanannya yang berlalu begitu cepat Luna sudah keringat dingin dibuatnya. Waktu seakan lambat sekali sekarang. Ia ingin segera sampai. Entah bagaimana kondisi adiknya sekarang.


Dokter Rey! Tiba-tiba ia teringat nama pria itu. Di ambilnya gelagapan ponsel miliknya, Luna lantas mencari kontak Rey dan langsung menekan tombol hijau di layarnya. Hanya melalui dua nada sambungan telepon itu sudah diangkat.


"Assalamu'alaikum-"


"Walaikumsalam dok saya lagi di perjalanan pulang dan mau bawa Yana ke rumah sakit tolong saya carikan Ayah dan dokter kandungan ya dok, Yana perutnya sakit" Cepat Yana menyambar salam Rey.


"Iya Lun, tenangkan diri kamu, dan jangan panik. Biar saya yang urus disini"


"Makasih dok" Tak lama setelah sambungan telepon mereka terputus Luna sudah dapat melihat pagar rumahnya dari jarak tiga rumah dari posisinya. Belum sampai betul dan berhenti taksinya. Luma sudah cekatan membuka pintu.

__ADS_1


"Tunggu disini ya Pak" Katanya berteriak pada supir taksi tersebut sambil berlari masuk.


Dari arah ruang tamu Yana sudah tertatih berjalan pelan sambil bertumpu pada tembok, sedangkan tangannya memegang perutnya sambil meringis kesakitan. Luna langsung menggapai tangan Yana dan menautkannya di balik lehernya. Ia papah adiknya perlahan menuju taksi.


"Rumah Sakit Harapan Pak" Perintah Luna setelah ia dan adiknya masuk. Yana terlihat pucat dengan keringat yang mengucur sedikit di dahinya. Ia menggigit bibir bawahnya berusaha mengurangi sakit dari perutnya. Luna menyeka keringat sang adik sambil gelisah melirik jalanan.


Sampai. Rey ternyata sudah menunggu bersama seorang dokter wanita muda di sampingnya serta Edi Ayahnya depan UGD. Mengetahui taksi itu membawa Luna dan Yana. Rey dan Edi lantas bergegas membantu membukakan pintu dan mendudukan Yana di kursi roda.


- - -


Setelah kejadian menegangkan tadi, akhirnya Luna sekarang cukup lega setelah dokter menyatakan kondisi Yana dan baiknya baik-baik saja meskipun masih dalam keadaan lemah. Di sebuah ruangan VIP. Yana terbaring pucat disana. Luna disampingnya menatap iba pada sang adik. Setelah itu masuklah Edi yang langsung menarik pergelangan tangan Luna dengan kasar. Begitu diluar, Edi seret paksa tubuh Luna melingkar hingga beralih berdiri berhadapan dengan dirinya.


"Kenapa Yana!" Tanya nya dingin. Luna bergetar takut sekarang.


"Luna gak tau yah.. ta-tadi Luna lagi diluar" Rahang Edi mengeras mendengar itu.


"Jadi kamu keluyuran ninggalin dia sendirian? Omong kosong kamu bilang mau jagain dia. Dan mana pacarnya itu. Mana yang katanya mau tanggung jawab. Harusnya saya gak usah dengerin kamu dan percaya dengan pria brengsek itu. Kamu benar-benar gak bisa dipercaya!" Dari arah samping. Rey melepaskan cengkraman tangan Edi dan berdiri membentengi Luna.


"Rey-"


"Tolong Om, Luna juga terpukul sekarang atas kondisi Yana. Ini rumah sakit. Sebaiknya kita fokus ke kesehatan Yana saja sekarang" Pintanya yang tanpa sadar sambil menggenggam tangan Luna. Sedangkan Luna di belakangnya hanya bisa menunduk takut. Seperti biasanya Edi. Dia hanya diam dan pergi masih membawa bara di hati dan matanya.


"Kamu gak apa-apa?" Tanyanya lembut setelah berbalik dan posisinya kini menghadap Luna. Luna tidak menjawab. Dia malah menyorot tangannya yang belum juga dilepas oleh Rey.


Sadar. Rey lantas melepas cepat genggamannya dan menjadi canggung.


"Ah maaf saya gak sengaja" Kata Rey sambil mengusap tengkuknya.


"Dokter Rey" Seru suara seorang wanita dari belakang Rey. Baik Luna dan Rey menoleh.

__ADS_1


"Makan siang bareng yuk" Kata gadis berjas putih yang menandakan ia juga seorang dokter sambil tersenyum dan merangkul tangan kanan Rey semaunya. Rey sontak menjauh dan menahannya. Luna melihat itu juga jadi ikut canggung. Apa dia sedang mengganggu sekarang? Pikirnya.


"Ehh saya masuk dulu kalau begitu" Pamit Luna tapi ditahan oleh Rey.


"Kamu pasti belum makan juga kan. Kamu mau makan apa biar saya bawakan kesini" Tawar Rey.


Dokter wanita tadi lantas melunturkan senyumnya dan memandang Luna remeh. Menerka-nerka siapa gadis itu. Saudara sudah pasti bukan. Dia tau Rey tidak memiliki siapa-siapa lagi. Luna sudah membuka mulutnya ingin menjawab namun kalimatnya tertelan kembali karena dokter wanita yang tidak ia tau namanya itu mengulurkan tangannya pada Luna.


"Haii saya Vera" Luna tentu menyambut baik niat baik dokter cantik di depannya itu.


"Saya Luna dok" Saling menarik kembali jabatan tangan mereka. Dokter bernama Vera itu mengangguk dan kembali bertanya.


"Kamu siapanya Rey ya?" Tanyanya tanpa basa-basi. Tersentak Luna malah terdiam sambil melirik Rey.


"Apa-apaan sih kamu?" Sahut Rey tidak suka pada Vera.


"Aku kan cuma tanya" Balasnya kemudian kembali menengok arah Luna "Ngomong-ngomong aku dokter kandungan yang tadi menangani adik kamu" Oh benar. Karena terlalu panik, Luna sampai lupa wajah dokter ini tadi.


"Ohh iya saya tadi terlalu panik dok jadi gak terlalu sadar sama sekitar" Jawabnya masih dengan senyum canggung.


"Jadi kamu mau makan apa?" Tanya Rey lagi.


"Hmn dokter makan aja sama dokter Vera. Saya belum lapar" Mengalihkan pandangannya pada dokter Vera.


"Dan dok, saya cuma pasiennya dokter Rey kok" Jelasnya.


"Saya masuk lagi ya, permisi" Rey mencoba mencegah tapi dirinya tertahan karena tidak tau ingin bicara apa.


"Ayo" Kata Vera masih memaksa.

__ADS_1


"Kamu aja, saya masih ada urusan" Jawab Rey cuek meninggalkan Vera. Di tempatnya, Vera memandang belakang Rey yang mulai menjauh dengan kesal. Kenapa sulit sekali menaklukkan laki-laki itu. Pikirnya.


Tapi obsesi dan keinginannya tidak akan berhenti sampai disini.


__ADS_2