Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 35


__ADS_3

Kasih sayang tidak selalu ditunjukkan dengan kehadiran.


.


.


.


Ceklek!


Vani membuka pintu dari luar bersama Dira di belakangnya dengan senyum untuk bertemu Luna namun melihat adegan yang ada di depannya senyum Vani mendadak meluntur namun seperkian detik ia menyadarkan dirinya dan mengembalikan senyum itu di wajahnya sambil berkata dan bertingkah jenaka seperti biasa


“Waduhh panggilin dokter Dir…” Kata Vani sambil memejamkan mata memegang dadanya berlagak sakit hati


“Butuh dirawat juga nih buat pemulihan jiwa jomblo gue habis ngeliat yang romantis – romantis begini” sambung Vani


“Dokter apa? Dokter kejiwaan?” Tanya Dira datar kemudian berlalu melewati Vani yang termangu kesal menuju ranjang Luna


“Kalian juga disini? Tau dari mana sih sebenarnya?” Tanya Luna penasaran dan bergantian menoleh pada Juan Vani dan Dira menanti jawaban ketiganya


“Gak penting tau dari mana, yang penting kita udah ketemu sekarang” Jawab Vani sambil menghambur memeluk Luna, namun selang beberapa lama ia melepas dan mengganti mimik wajahnya dengan raut kesal


“Kita hampir gila gara – gara loe gak akan telpon sama sekali” Ucap Vani


“Udah – udah… Kita tau dari Yana, dia ngabari Vani tadi, dan Vani juga sempet ke rumah loe subuh subuh” Dira mendekat dan menjawab sambil menahan tangis di suaranya, Luna yang menyadari itu pun berkata


“Jangan gitu dong mukanya, kalian semua kesini mau nyenengin gue apa tangisin gue?”


Tak! Vani menjitak kening Dira yang tengah bersedih


“Akhh! Gila loe ya!” Bentak Dira yang meringis kesakitan menyentuh keningnya yang baru saja dijitak cukup keras oleh Vani.


Sedang yang dibentak hanya diam menggeser posisi Dira tanpa dosa untuk bergantian lebih dekat lagi dengan tempat Luna


“Udah Lun, gak usah diliatin mukanya Dira, drama emang itu anak. Sumber penderitaan emang tampangnya dia” Dira sampai mangap memutar bola matanya mendengar apa yang baru saja diutarakan oleh temannya itu, baru saja akan menarik nafas untuk membalas ucapan Vani. Vani langsung menoleh dan meletakkan jari telunjuk kanannya ke depan bibir sebagai isyarat untuk menyuruh diam


“Shuttt, ada orang sakit disini” Katanya santai


Luna tampak tertawa kecil melihat tingkah kedua sahabatnya, melihat Luna begitu Juan pun ikut tersenyum .


“Kapan operasinya?” Kali ini Kembali ke mode serius, Juan bertanya di tengah gelak tawa kecil mereka

__ADS_1


“Malam ini” Luna menjawab singkat


“Sekarang happy happy aja, jangan mikir macem – macem karena sahabat gue ini pasti bakal baik – baik aja, kan cewek Tangguh. Iya nggak?” Ucap Vani dan meminta tanggapan Dira dan Juan, keduanya tampak sigap menjawab dan mengangguk mengiyakan


“Pasti dongg, Luna gitu loh”


Keempatnya pun kemudian mengobrol dengan suka cita, tampak jelas Luna menikmati kebersamaan dan kehangatan dari sahabat – sahabat dan kekasihnya disana.


Begitu besarnya dampak sebuah kasih sayang…


 


Tok tok tok!


“Masuk” Sahut Edi dari dalam ruangannya setelah mendengar suara ketukan, tampak sosok Rey masuk dengan memegang sebuh map biru dan meletakkannya ke meja Edi, Edi pun tanpa bersuara langsung membuka dan membacanya dengan seksama.


Dan masih tanpa mengatakan sepatah kata pun Edi mengambil bolpoin dan membubuhkan tanda tangannya di bagian bawah kanan surat tersebut sebagai bukti dirinya setuju untuk memberi Tindakan operasi hepatektomi untuk Luna kemudian langsung menutup map itu Kembali dan membiarkan Rey sendiri yang mengambilnya lagi


“Terima kasih Om, saya izin langsung pamit. Saya akan mengabari Om setiap proses dan perkembangannya” Kata Rey


“Saya gak minta” Sahut Edi datar


“Akan tetap saya lakukan, Permisi” Edi pun terdiam dan memandang punggung Rey hingga pergi


 


“Ayahh..” Terdengar suara Luna yang terdengar ragu bahkan untuk melanjutkannya. Rey pun akhirnya jongkok menyetarakan tingginya dengan Luna yang duduk di kursi roda


“Om Edi ada, dia lagi menangani pasien lain juga makanya gak bisa kesini. Tapi operasi ini juga saya siapkan atas bantuan dan persetujuan Om Edi langsung kok, beliau pasti juga lagi berdo’a untuk keselamatan kamu” Tutur Rey dengan lembut. Luna hanya terdiam dengan kerut halus di keningnya bersama mata yang sedikit berkaca, kemudian ia alihkan pandangan itu ke bawah dimana jari jarinya tengah meremas ujung bajunya


“Luna” Seru Rey pelan. Luna pun mendongak


“Kali ini saya gak bohong” Ucap Rey yang sepertinya mengerti keraguan Luna akan perkataannya mengenai Edi, Luna pun tampak tersenyum meski hanya sedikit, itu memuat Rey lega


“Kasih sayang gak selalu ditunjukkan dengan kehadiran. Mungkin ini cara Ayah kamu dalam menyayangi kamu, sekarang kita langsung ke ruang operasi ya. Bismillah” Luna mengangguk


Luna menyempatkan untuk menoleh sebentar pada kedua sahabat dan kekasihnya di kursi tunggu depan ruang operasi.


“Kita disini terus kok, jangan khawatir dan jangan lupa berdo’a” Ucap Juan yang menyadari Luna memandangi mereka, Luna pun tersenyum dan mengangguk mengiyakan


Dan disinilah Luna berada…

__ADS_1


Terbaring dalam ruangan berkelilingkan oleh orang – orang berpakaian hijau steril dengan masker warna senada di wajah mereka, Luna mulai merasakan kantuk yang teramat berat sampai pandangannya mulai mengabur dan gelap. Para tim medis mulai mensterilkan area perut, pinggang, dan dada Luna dengan menggunakan antiseptic


Bismillahirahmanirrahim…


Juan, Vani, dan Dira menunggu dengan harap harap cemas di hati mereka. Berdzikir lewat satu per satu ruas jari mereka mengharap keselamatan dan kelancaran operasi Luna


Tak jauh berbeda dengan Edi di ruangannya, hingga Lia dan Yana di kamar mereka masing – masing pun turut menengadahkan kedua tangan mereka memohon pada Allah Swt.


 


Kurang lebih 3 sampai 4 jam ruang operasi yang tertutup itu akhirnya mulai tampak dibuka juga dari dalam. Juan, Vani, dan Dira sontak berdiri meski pintu ruang operasi tersebut belum terbuka sempurna, mereka menghampiri dokter yang keluar


“Gimana dok?” Tanya mereka tidak sabar


Dokter yang ternyata adalah Rey itu membuka maskernya terlebih dahulu, senyum tipis di bibir Rey seperti merupakan sebuah pertanda baik.


“Alhamdulillah operasinya berjalan dengan lancar, sekarang Luna akan kami pindahkan ke ruang rawat”


Alhamdulillah…. Ucap syukur Juan, Vani dan Dira dengan serentak


Rasanya seperti ada bunga mekar di hati mereka masing – masing mendengar kabar baik tersebut


Tak lama, Luna yang masih belum sadarkan diri pun di bawa oleh perawat menggunakan brankar menuju ruang rawat


Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh…


Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh…


Rey mengakhiri salatnya dengan dua salam dan di lanjut dengan berdzikir dan berdo’a , tak lupa rasa syukur juga ia haturkan pada Allah SWT sebanyak – banyak nya atas kelancaran operasi Luna barusan. Setelah menyelesaika salat dan do’anya, Rey mengambil ponselnya, terlihat jari jemarinya yang begitu lincah mengetikkan sebuah pesan


Drrttt Drrttt Drrttt


Edi mengalihkan pandangannya pada ponsel miliknya di atas meja kerja, dari notifikasi sudah tampak nama Reyhan sebagai pengirim pesan


“Alhamdulillah operasinya berjalan lancar, Luna sudah dipindahkan ke ruang rawat yang lama” begitulah isi pesan yang diterima Edi dari Rey, Edi tampak menghembuskan nafasnya Panjang setelah itu, Edi hanya membuka pesan tersebut tanpa ada niat untuk membalasnya, dia pun segera membereskan ponsel serta tasnya kemudian mengambil kunci mobil lalu pulang


Hampir 03.00 dini hari, mobil Edi baru sampai ke garasi rumah, segera ia menuju kamarnya. Begitu lampu ia nyalakan, pandangan Edi sudah tertuju pada sosok Lia yang duduk menunduk di tepi ranjang


“Kamu kebangun? Atau… gak tidur?” Tanya Edi sambil meletakkan tas nya


“Gimana Luna? Kenapa aku telfon gak diangkat?” Lia bertanya dengan pelan dan takut – takut

__ADS_1


“Operasinya berhasil. Aku mau mandi dulu habis itu langsung tidur. Capek”


Huftttt… Syukur Alhamdulillah, Lia begitu lega luar biasa hingga meneteskan air matanya


__ADS_2