Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 71


__ADS_3

"Udah siap?" Tanya Rey yang sedang duduk di sofa begitu mendapati tubuh Yana sudah keluar dari kamar. Yana mengangguk.


"Yaudah ayo" Di perjalanan, seperti biasa mereka hanya saling berperang dalam keheningan. Rey memperlambat kecepatan mobilnya sebelum akhirnya berhenti di parkiran rumah sakit. Mereka langsung sama-sama melepas sabuk pengaman dan keluar mobil.


"Loh udah lama?" Tanya Yana kaget begitu ia Luna datang menghampiri mereka dari belakang.


"Nggak kok, baruuu banget sampenya, pas banget barengan kalian. Tuh taksinya aja masih kelihatan" Jawab Luna seraya menunjuk taksi yang ia tumpangi tadi baru akan melewati gerbang rumah sakit.


"Assalamu'alaikum, apa kabar Luna?" Rey datang menyela.


"Wa'alaikumsalam, baik kok mas"


Eh?? Mas? Yana menoleh Rey setelah mendengar sapaan Luna. Sejak kapan kakaknya itu memanggil Rey dengan sebutan "Mas".


"Gimana? Ada keluhan gak? Ada yang sakit? Tidur kamu nyenyak kan?" Pertanyaan beruntun itu membuat Yana terkekeh.


"Tenang, Yana sehat wal afiat"


"Kamu gak berpikir saya nyiksa dia kan" Rey menyela dengan jenaka.


"Eh nggak kok, aduhh maaf saya gak maksud gitu, cuma baru sehari pisah aja rasanya udah kangen sama nih anak" Ucap Luna sambil mengapit gemas hidung Yana dengan jari telunjuk dan tengahnya.


"Yaudah ayo kita masuk" Di pertengahan jalan mereka tak sengaja berpapasan dengan Dokter Vera. Luna yang masih mengingat Dokter itu pun langsung tersenyum dan menyapa.


"Halo Dok" Tapi secepat itu pula senyum Luna memudar disusul dengan lipatan di dahinya karena bukannya membalas sapaan Luna, Dokter Vera malah memutar matanya tidak suka dan melewati mereka begitu saja. Yana yang pun ikut heran bertanya.

__ADS_1


"Kenapa kak? Ada masalah sama Dokter itu?"


"Gak tau juga, ketemu juga cuma waktu kamu masuk Rumah Sakit karena dia yang periksa kamu, terus waktu nikahan kalian kemarin dia kan dateng juga tapi cuma bentar kakak liat dia setelah itu gak tau kemana" Luna menjawab sambil mengingat-ingat. Hanya pernah berbicara sekali, memang bisa ada masalah apa di antara mereka.


"Mungkin dia lagi ada masalah lain, terus jadi gak mood gitu. Yaudahlah gak perlu dipikirin" Rey lagi-lagi menengah dengan santai. Ia bukan tidak tau apa penyebab Dokter Vera seperti itu. Namun Rey juga tidak menjelaskan apapun karena menurutnya itu tidak penting. Merekapun setuju dan lanjut menuju ruang pemeriksaan. Setelah cukup lama mengantri akhirnya masuk juga pada giliran Yana.


"Ibu Yanara Ustman" Seorang perawat menyeru nama Yana sebagai pasien terakhir. Mereka pun segera beranjak dari duduknya. Setelah melakukan rangkaian pemeriksaan, mereka duduk berhadapan di meja Dokter kandungan tersebut.


"Oh iya Dok, kaki saya semalam itu sempat bengkak sedikit. Itu bahaya gak ya Dok?" Luna yang duduk di samping Yana langsung menoleh khawatir, begitupun Rey yang sedang berdiri juga menoleh pada kaki Yana.


"Ohh gapapa itu biasa kok untuk Ibu hamil. Cuma nanti Ibu jangan terlalu lama berjalan atau berdiri. Tidur juga usahakan kakinya di ganjel bantal, Rey juga pasti tau kok ya Rey ya?" Jelas Dokter kandungan yang sudah cukup berumur itu sambil mendongak ke arah Rey.


"Iya Dok, saya gak tau kakinya bengkak karena dia juga gak bilang semalam"


"Baik sih ini pemeriksaannya gak ada masalah. Ini resep vitaminnya ya silahkan di tebus" Kata Dokter Dian seraya menggeser secarik kertas resep.


"Ada pantangan atau apa gak gitu Dok?" Kali ini Luna yang bertanya.


"Gak ada sih, namanya hamil kan bukan penyakit jadi gak ada lah pantangan. Ya perbanyak istirahat aja, gizi makanannya dicukupi" Jelas Dokter Dian sambil tersenyum dan bergantian menoleh pada Luna, Yana, dan sesekali juga pada Rey.


"Oh iya satu lagi" Mereka yang disana sudah terlihat bersiap akan berdiri pun terdiam sebentar menunggu Dokter Dian berbicara.


"Soal berhubungan badan itu ya boleh cuma hati-hati aja dan jangan terlalu sering"


Freeze

__ADS_1


Beku di tempatnya. Yana dan Rey menelan ludahnya kelat tidak berani saling memandang satu sama lain. Lagipula kenapa juga Dokter Dian harus membahas itu sih ya ampun. Malu sekali rasanya. Tak hanya Yana dan Rey, Luna disana pun ikut merasakan kecanggungan. Entah kenapa dia mendadak seperti sedang berada di tengah-tengah rumah tangga orang lain. Ahhh... Kenapa sih dari semalam pikirannya aneh-aneh begini.


"Iya Dok" Bukan Yana apalagi Luna yang menjawab. Tapi itu Rey seraya menampilkan senyumnya dengan santai, padahal dia pun merasa canggung juga.


"Kalau gitu kita permisi Dok. Terima Kasih" Merekapun pamit dan keluar.


"Kakak bareng kita aja ya" Yana meminta dengan nada manja. Ehh, dia mendadak diam lalu menoleh takut-takut pada Rey.


"Boleh gak?" Tanyanya dengan senyum takut.


"Boleh dong, memang harusnya kamu sama kita aja. Ngapain juga harus pakai taksi kayak tadi sih" Luna menggaruk tengkuknya.


"Hmm saya cuma gak mau ngerepotin aja, lagian saya habis ini mau ke apartemennya Vani, gak langsung pulang ke rumah"


"Ya gapapa saya antar sekalian, lagian kita itu kan keluarga, gak ada lah yang namanya ngerpotin. Udah ayo saya gak mau dengar penolakan lagi" Akhirnya mau tidak mau Luna pun setuju. Di dalam mobil Luna duduk di belakang dan Yana di samping Rey. Mulanya adiknya itu sudah akan ikut masuk ke bangku belakang bersama sang kakak, namun Luna melarang. Memangnya suaminya itu supir apa. Karna merasa tidak enak juga, Yana pun mengurungkan niatnya dan duduk di sebelah Rey seperti sebelumnya. Setelah setengah perjalanan mereka hanya saling terdiam. Akhirnya Yana yang menjadi pemecah kebisuan disana dengan bertanya kepada Luna.


"Kak" Serunya sambil memutar posisinya agar dapat melihat Luna di belakang. Rey hanya melirik sebentar karena mendengar suara Yana.


"Hmm?" Luna berdehem ingin tau dan ikut menoleh. Bukannya menjawab, ia malah melirik Rey takut-takut lagi.


"Kenapa?" Rey bertanya heran karena menyadari Yana meliriknya.


"Boleh gak ikut kak Luna ke apartemennya kak Vani?" Ia bertanya pelan sekali. Yana lebih terlihat seperti anak kecil yang izin dengan takut pada Ayahnya dibanding pada suaminya.


"Boleh, asal jangan kecapean, tapi harusnya yang kamu tanya Luna, kan yang mau kamu intilin dia" Jawab Rey sedikit melucu. Luna tersenyum. Uhhh. Yana yang diperhatikan tapi kenapa dia yang tersanjung melihat keuwuwan yang terjadi di depannya ini.

__ADS_1


__ADS_2