Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 81


__ADS_3

Juan


“Ngapain?” Tanya Juan dingin begitu sampai di samping kursi taman di daerah apartemen miliknya.


“Duduk dulu lahh” Balas seorang gadis yang sudah lebih dulu disana dan duduk manis di kursi taman tersebut.


“Gak perlu, to the point aja ada apa” Balasnya semakin jutek.


“Yaelahh duduk dulu dong. Masa iya gue baru nyampe udah mau balik lagi. Mager tau” Tidak menjawab, Juan hanya melirik kesal kemudian memutar bolanya malas.


“Gue mau ngomongnya yang santaii… Gak buru-buru. Udah ayo duduk” Merasa gemas. Akhirnya gadis yang tak lain adalah Vani itu menarik lengan Juan hingga ia terduduk tepat di samping Vani. Yahh.. ada jarak sedikitlahh. Lagi pula kursi taman disana memang tidak terlalu panjang dan mungkin memang hanya untuk kapasitas dua orang dewasa.


Hening


“Buruan dong” Kata Juan meninggi mulai tak sabaran.


“Iya iyaa sabar dongg. Oke pertama…” Vani mengatakan itu dan kemudian menggantungnya karena matanya malah mendapati sebuah gerobak kecil penjual es doger.


Sialan. Kenapa mesti ada es doger segala sih disitu, malah kayak enak banget lagi di tengah hari begini. Bikin gue ilang konsentrasi aja mau ngomong apa. Gue juga kenapa bego banget sih ngajak ketemuan di luar tanpa atap begini. Vani membatin.


Buru-buru ia menggelengkan kepala mencoba melanjutkan kalimatnya. Mencoba untuk mengusir pikiran tentang es doger. Tentang bagaimana nikmatnya jika minuman manis itu mengalir lancer dan segar dari lidah menuju tenggorokannya kemudi-. Ahh Vani malah semakin membayangkan. Setelah meyakinkan dirinya sendiri bahwa es doger tidaklah lebih penting dari pembicaraannya hari ini. Vani pun menghela nafas cepat dan kembali bersuara dengan pasti.


“Oke pertama…” Vani kembali menggantung kalimatnya sambil menggigit tepi sisi bibir bawahnya.

__ADS_1


“Gue mau beli es doger bentar ya” Lanjutnya dengan raut wajah yang berubah mendadak datar. Juan langsung menoleh cepat dengan kernyitan di dahinya. 30 menit kemudian mereka sudah pindah ke sebuah meja yang tersedia di teras sebuah mini market yang berseberangan dengan taman tadi. Disini Juan hanya duduk sambil melipat kedua tangannya melirik kesal pada Vani yang sedang melahap semangkuk mie instan.


30 menit yang lalu.


Setelah segelas es doger sudah berada dalam genggamannya. Vani langsung berjalan kembali menuju kursi taman dimana Juan sedang bersidekap memicingkan mata ke arah Vani. Sedetik kemudian hujan tiba-tiba turun cukup lebat ke atas mereka. Refleks Vani menarik tangan Juan menuju mini market yang tak jauh dari sana. Merasa cuaca sedang mendukung, Vani malah memesan mie instan kuah dengan berbagai cemilan.


“Gue disini bukan buat nemenin loe makan ya” Kata Juan di tengah suapan Vani.


“Gue laper Juan, tadi kesini gue gak makan dulu, lagian juga masih hujan kok” Jawabnya memelas.


“Emangnya kalo hujan ngaruh apa sama loe yang mau ngomong?” Vani mengerjap lambat. Benar juga ya, pikirnya. Memang apa hubungannya hari hujan dengan ia yang mau ngomong.ia lalu menyengir yang terlihat menyebalkan jika dilihat.


“Hehe, oke-oke ini udah mau habis kok” Tambahnya yang langsung menyeruput mie miliknya lebih cepat.


“Pertama…” Menggantung lagi sebentar. Tapi kali ini bukan karena makanan atau minuman melainkan lebih kepada sebuah perasaan yang mengandung sedikit penyesalan.


“Gue mau minta maaf soal tamparan dan umpatan gue buat loe di café waktu itu” Tambahnya. Juan hanya menoleh tanpa menjawab, tapi raut wajahnya menjadi tidak sedingin tadi.


“Tapi gue gak semenyesal itu, kalau bisa gue ulang mungkin gue bakal tetap nampar loe, baru minta maaf deh” Tambahnya lagi bernada santai. Oke seserius-riusnya Vani. Tetap kekonyoloan sedikit menyelip dalam setiap tingkah dan perkatannya.


Hening lagi sebentar.


“Kita memang gak sedeket itu. Tapi kita berdua punya orang terdekat yang sama. Ya loe pasti tau lah siapa yang gue maksud” Juan tidak masih terdiam, menoleh pun tidak. Tapi memang benar, Juan tau siapa yang dimaksud Vani. Pastilah Luna. Bahkan sejak membaca pesan Vani yang mengajaknya untuk bertemu pun Juan sudah tau tujuannya adalah tentang masalah Luna dan dirinya.

__ADS_1


“Dan karena itu gue cukup mengenal siapa dan bagaimana loe” Juan masih mendengarkan.


“Luna dan Dira lebih dari sahabat gue wan. Dia adalah keluarga. Apapun masalahnya gue disini bersedia bantu wan. Asal Luna gak tersakitin” Juan langsung menoleh.


“Maksud loe?” Tanya Juan.


“Gue tau ada yang loe sembunyiin. Gue juga tau loe tulus sama Luna, tapi ada sesuatu yang harus memaksa loe untuk nyakitin dia gini padahal loe sendiri gak mau. Luka paling sakit itu adalah luka yang dibuat sama orang tersayang. Setelah 7 tahun Luna merasakan itu dari orang tuanya, sekarang berkat loe luka itu bakal kebuka lebih lebar lagi”


Astaga. Juan merasa tertohok.


“Bener kan ada sesuatu?Loe bisa sharing ke gue Juan, jangan dihadapi sendiri. Gue disini siap bantu loe. Terlebih ini juga buat Luna” Tanya Vani lagi karena Juan tak juga menjawab.


“Loe gak akan bisa bantu Van-“ Terdiam sebentar.


“Meski dengan cara apapun” Tambahnya lirih. Terdengar ada helaan nafas berat dalam kalimat yang Juan ucapkan.


“Setidaknya loe jelasin yang sebenarnya ke Luna. sesakit apapun kenyataan yang harus Luna terima, seenggaknya ada ruang lega di hati dia karena tau alasan yang sesungguhnya”


Anjiir! Keren banget gue hari ini. Ungkap Vani dalam hatinya


Iya sih. Vani kalo udah serius keren juga


“Biar Luna bisa lupain gue, dia harus benci sama gue” Vani berdecih dengan tersenyum miring.

__ADS_1


“Loe pikir dengan dia benci sama loe adalah jalan terbaik? Nggak, itu kejauhan kalo gitu. Emang loe pikir Luna bakalan bisa benci sama loe? Lupa ya dia aja masih bisa belain loe. Dan juga, kalaupun Luna bisa benci sama loe, yaa walaupun gak mungkin sih. Itu bisa buat dia lupa sama loe? Atau malah sebaliknya, kebencian itu akan terus dia kenang dalam duka yang gak bisa dia hentikan”


__ADS_2