
Tak lama dokter Rey datang dengan setengah berlari. Ia datang bersama seorang suster dan menyuntikkan sesuatu pada Yana.
"Itu apa dok?"
"Obat penenang"
"Apa itu perlu?"
"Jadi kamu lebih memilih Yana akan seperti ini terus sampai tenaganya habis?" Luna terdiam.
"Selain itu, dia harus lebih tenang demi bayinya juga"
Ahh benar! Bayi itu. Luna sejenak melupakan ada nyawa lain yang belum terlihat di dalam perut Yana. Selang beberapa waktu pergerakan Yana mulai berkurang dan semakin melemah. Matanya yang sejak tadi terpejam dengan mengerut sekarang mulai rileks. Mulutnya yang sejak tadi memangis histeris. Sekarang hanya menyisakan isak-isak kecil. Luna membaringkan Yana perlahan setelah memastikan gadis itu sudah tenang dalam pengaruh obat penenang.
Setelahnya Luna menghempaskan dirinya kasar di kursi samping ranjang itu. Belum semenit. Ia bangkit lagi dengan cepat dari sandaran duduknya. Ia teringat sesuatu.
Ponsel Yana. Siapa yang menelpon Yana sampai membuat adiknya seperti ini. Luna bangun dan mencari-cari di sekitaran ranjang Yana dengab gelisah.
"Kamu cari apa? Rey bertanya heran.
"Ponsel Yana yang tadi" Katanya masih tanpa berhenti mencari. Rey lantas ikut mencari dengan mengedarkan pandangannya ke seluruh sisi ranjang. Mengunci matanya di satu titik. Tangan Rey bergerak mengambil sebuah ponsel yang terselip oleh tangan kiri Yana. Ia tarik alat komunikasi itu dan diserahkannya ada Luna. Tanpa pikir panjang Luna pun mengambil ponsel itu dari tangan Rey. Ia buka dan ia lihat bahwa Yudha lah yang baru saja menelponnya. Memang apa yang sudah kekasih sekaligus ayah bayi mereka itu katakan hingga Yana seperti ini. Ia tekan tombol hijau di kontak Yudha itu untuk mencari tau. Cukup lama panggilan itu tersambung barulah terdengar suara seorang wanita yang mengangkat.
Luna mulai berspekulasi tidak baik.
__ADS_1
"Siapa ini? Kenapa kamu yang angkat? Mana Yudha?" Kata Luna dengan nada tidak suka.
"Saya suster di rumah sakit cahaya mbak"
Ehh suster? Kenapa HP Yudha bisa di rumah sakit. Luna mulai berkeringat dingin. Nafasnya yang semula memburu karena menahan amarah dengan pikiran negatif tentang Yudha yang berselingkuh kini berubah menjadi kekhawatiran yang besar. Suster itu menceritakan hal yang sama seperti yang ia katakan pada Yana tadi dengan hati-hati. Setiap kata yang Luna dengar seperti suara gemuruh dan petir yang menyambar langsung ke dadanya. Setelah saambungan teleponnya terputus. Luna meletakkan ponsel itu sembarang di atas nakas samping ranjang Yana. Dengan lesu iya menangkup kepalanya yang serasa akan pecah. Rey masih diam tapi tetap mengawasi Luna. Bahu Luna terlihat bergetar. Menandakan gadis malang itu sedang menangis. Hal itu pun menarik diri Rey untuk mendekat.
"Luna... " Panggilnya lirih. Tak juga disahut. Rey pun mengangkat tangannya ragu dan menepuk-nepuk pelan punggung Luna. Bahunya semakin bergetar setelah merasa ada tangan yang menepuk lembut punggungnya. Dengan posisi seperti itu Luna terus menangis begitu lama. Rey tidak berusaha menghentikannya. Mungkin menangis bisa sedikit melegakan Luna sekarang. Pikirnya.
- - -
Sore harinya, datanglah Vani dan Dira setelah mendapat kabar dari Luna. Sungguh... Luna sangat menyayangi mereka. Mereka benar-benar malaikat yang Allah turunkan dalam hidupnya. Mereka masuk dengan wajah datar tanpa adanya keceriaan atau kehebohan seperti biasa. Dapat mereka lihat dengan jelas kesedihan Luna saat ini dari matanya yang bengkak juga lembab. Menandakan gadis itu baru saja menangis. Mereka meringis melihat keadaan Luna. Entah apa yang bisa mereka lakukan untuk membantu masalah Luna yang tiada habisnya itu. Setelah mengucapkan salam. Luna mempersilahkan keduanya untuk duduk.
Tanpa suara, Vani dan Dira duduk di kedua sisi tempat duduk Luna. Mereka mengusap punggung tangan Luna. Baik Vani dan Dira sudah tau apa yang terjadi. Tentang Yana hingga tentang Yudha.
"Apapun yang loe butuhin. Kita akan bantu sebisanya" Vani mulai bicara serius, tidak seperti dirinya yang biasa.
"Loe berdua ada disini aja, itu udah nolongin gue banget. Udah banyak banget yang kalian lakuin buat gue. Sampe gue gak tau lagi caranya terimakasih itu gimana"
"Itulah gunanya keluarga. Kita itu keluarga loe" Ucap Dira dan diangguki kepala oleh Vani. Mereka pun memeluk Luna dengan erat.
"Ayah loe udah tau tentang Yudha?" Tanya Vani setelah pelukan mereka terlepas. Luna mengangguk lemah.
"Ayah akan tetap minta dokter Rey untuk nikahin Yana" Sahutnya kemudian sambil menunduk.
__ADS_1
"Kalo menurut gue ya Lun. Serahkan semua ke Yana. Dia udah terguncang hebat. Kalau dia gak mau nikah yaudah jangan dipaksa. Gue khawatir sama kesehatan mentalnya dia" Luna memejamkan matanya. Kepalanya sakit. Apa yang diucapkan Dira barusan memang benar. Sangat benar. Luna pun mengkhawatirkan hal yang sama. Luna berdiri. Vani dan Dira mendongak seiring pergerakan Luna.
"Mau kemana loe?" Tanya Vani.
"Gue mau ke ruangan Ayah bentar. Tolong jagain Yana sampai gue balik ya" Jawab Luna sambil melangkah keluar. Luna berjalan pasti menuju ruangan Edi tanpa takut sedikit pun. Ia tidak peduli dengan dirinya dan apapun yang akan ia terima nanti dari Ayahnya. Saat ini hanya satu yang ada dalam pikirannya.
Yana.
Sampai. Luna menarik nafas dalam sebelum mengetuk dua kali dan langsung menarik gagang pintu itu. Ruangan ini... Ruangan yang sudah bertahun-tahun lamanya tidak pernah ia kunjungi lagi. Padahal dulu ia sering dan dengan bebas tanpa beban untuk keluar masuk kesini. Terbuka. Ia melempar pandangannya ke meja kerja sang Ayah. Tidak ada siapapun disana. Ia pun masuk dan mengedarkan matanya ke seluruh ruangan.
Oh, ternyata Ayahnya di balkon. Luna bisa melihat itu dari jendela dengan gorden putih transparan. Luna mendekat tapi langkahnya tertahan. Matanya menyipit memperhatikan balkon.
Apa yang dilakukan Ayah? Luna membatin bingung. Ia melihat Edi yang tiba-tiba berlutut di hadapan seseorang. Ternyata ada orang lain di ruangan ini. Luna memutuskan bersembunyi dan mencari tau terlebih dahulu. Dahinya mengerut. Tampak lelaki di hadapan Edi itu ternyata adalah Rey. Edi bersih keras menjatuhkan lututnya ke lantai sambil terus memohon namun ditahan mati-matian oleh Rey. Luna masih mengawasi.
"Baiklah Om. Rey setuju menikahi Yana setelah dia keluar dari rumah sakit" Luna membelalakkan matanya. Ia tidak tahan untuk tetap disitu.
"Nggak!" Teriak Luna. Edi dan Rey menoleh.
"Yah, Luna mohon... Kita tunggu keputusan dari Yana aja. Luna mohon jangan paksa dia untuk menikah. Dia udah terlalu terpukul Yah, Luna mohon" Kali ini Luna yang memohon.
Tidak menjawab. Edi bergerak dan menarik paksa lengan Luna. Rey menahannya lalu beralih menggenggam tangan Luna.
"Dengan satu syarat Om"
__ADS_1
"Apa?"
"Saya akan nikahi Yana dan menjaga dia sebaik mungkin asal Om mau kembali menyanyangi Luna seperti dulu"