Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 119


__ADS_3

Di siang harinya, Rey yang baru saja memeriksa pasien terakhirnya baru bisa mengecek ponsel. Disana ia mendapati sebuah pesan yang membuat rasa laparnya hilang seketika. Bergegas akan menuju parkiran, Rey menghentikan langkahnya karena teringat Yana. Mendesah berat ia berbalik dan berlari menghampiri Yana yang ia ketahui keberadaan terakhirnya di ruangan Edi.


Tok tok tok!


Setelah mengetuk tiga kali dengan cepat, Rey langsung mendorong pintu itu tanpa menunggu jawaban dari si pemilik ruangan terlebih dahulu. Dan benar saja , disana Yana sedang duduk di kursi kerja sang Ayah, sedangkah Edi duduk di meja menghadap Yana. Mata kedua Ayah dan anak itu terputus untuk menatap ke arah pintu. Terlihat disana Reyhan dengan nafasnya yang sedikit terengah.


“Kenapa mas?” Tanya Yana heran. Rey hendak menjawab namun tertahan karena Edi mendadak terkekeh hingga lehernya memendek lalu berbalik. Yana seketika memicingkan matanya dan mendesis kesal pada tingkah sang Ayah. Bukan Yana tidak tau jika Edi saat ini tidak jauh dari sedang mengejek Yana, karena sebelum Rey datang pembicaraan mereka hanya lah seputar kehidupan rumah tangga mereka yang baru.


“Kenapa?” Rey balik bertanya karena ikut terheran.


“Gak” Edi menjawab singkat disertai ekspresi wajah yang ia ubah secepat mungkin menjadi datar.


“Hmm gini Yah, Rey ada urusan sebentar di luar. Kira-kira boleh gak ya Yana sama Ayah dulu sebentar?” Kata Rey takut-takut.


“Gapapa kok mas, Yana kan bukan anak kecil” Jelas Yana.


“Nggak” Ehh? Yana menoleh dengan melongo mendengar Ayahnya yang tiba-tiba menyambar.


“Males ah Ayah, dari tadi aja Ayah di gepuk terus sama dia. Ntar kalo kelamaan malah babak belur” Katanya menyinggung Yana yang kini semakin melongo.

__ADS_1


“Itu kan Ayah yang nyebelin, ishhh” Jawab Yana bersama tangannya kembali memukul pelan paha sang Ayah yang ada di depannya kemudian melipat kedua tangannya ke depan dada sambil mencebikkan bibir.


“Tuh kan Rey, baru aja Ayah bilang” Tambah Edi semakin menggoda putrinya.


Setelah mengatakan itu Edi menyadari senyum paksa Rey yang lebih terlihat gelisah.


“Bercanda kok Rey, ya pasti lah. Gak usah dititipin gitu juga udah pastilah Ayah jagain anak Ayah, pergi aja gapapa” Kata Edi.


“Iya mas, kebetulan juga tadi tuh memang kak Luna ngajak Yana makan siang bareng di luar, boleh kan?” Rey langsung menangangguk lembut dan tersenyum lega.


“Yaudah Rey pamit ya Yah” Katanya sambil mendekat meraih tangan Edi. Setelah mencium tangan Ayah mertuanya, Rey mengangkat kepalanya lalu mengucapkan salam seraya menoleh pada Yana yang diangguki gadis itu.


“Ehh tunggu” Edi menahan Rey yang sudah berbalik. Sementara tangannya mencekal lengan Rey, matanya malah menoleh pada Yana yang masih duduk di kursinya.


Mendongak, ia langsung disambut senyum hangat lelaki itu dan tangannya sudah terangkat untuk mengelus sekilas kepala Yana


“Saya berangkat ya, Assalamu’alaikum” Kata Rey bersalam untuk kedua kalinya.


Wa’alaikumsalam. Baik Yana maupun Edi sontak menjawab. Setelah Rey sudah keluar, kini giliran Yana yang pergi. Ia berbalik hanya untuk mengambil tasnya. Lalu mengulurkan tangan ke arah Edi hendak bersalam dan ikut pamit.

__ADS_1


“Ihh Ayah kok gitu sih, Yana kan mau salam” Gerutunya pada sang Ayah yang malah menjauhkan tangannya menolak uluran tangan Yana.


“Mau kemana kamu?” Tanya Edi dengan mata yang mengintimidasi. Menyoroti mata Edi sebentar, Yana lalu menurunkan tangannya.


“Kan Yana mau makan siang sama kak Luna, Ayah lagi mikir Yana mau macem-macem ya?” Yana balik bertanya dengan tatapan yang sama dengan yang Edi perlihatkan tadi. Tapi beberapa detik kemudian, matanya malah berubah sendu.


“Lagian kan udah gak ada yang bisa Yana temuin, mas Yudha juga kan udah…” Yana menunduk dalam dan tak sanggup melanjutkan kalimatnya jika sudah tentang Yudha. Membahasnya lebih banyak hanya akan membuatnya sakit dan menangis. Buru-buru Edi meraih kedua pundak Yana.


“Ehhh… Ayah tuh cuma bercanda tadi. Gak maksud mau bahas siapapun, ayo Ayah anter” Katanya mencoba menghibur. Yana mendongak dan menggeleng manja dengan senyumnya.


“Gak usah, Yana pake taksi aja, kasihan Ayah bolak-balik cuma nganter doang. Nanti malah Ayah lagi yang gak keburu makan siang disini gara-gara nganterin Yana, lagian deket kok. Kan Yana bilang lagi di Rumah Sakit Ayah, jadi kak Luna milih tempat dekat sini aja, tadi mau jemput juga Yana larang” Jelasnya seraya kembali meraih tangan kanan Ayahnya itu lalu menciumnya.


“Yana berangkat, Assalamu’alaikum” Secepat gerakan Yana yang bersalam dan mencium tangannya. Saat itu juga Edi dengan gelagapan seperti ingin bicara namun ragu.


Sudah berjalan dua langkah menjauhi Edi, Yana berhenti karena suara deheman ragu Ayahnya.


“Hmmm….” Yana berbalik. Dan disana Edi masih menggantung kalimatnya.


“Ayah ikut ya” Yana menghela nafasnya.

__ADS_1


“Gak usah yah… Yana bisa sendiri kok, kan udah Yana bilang nanti kasihan Ayah jadi bolak-balik dan Ayah ja-“


“Maksudnya Ayah mau ikut makan siang sama kamu dan….. Hmm Luna”


__ADS_2