
"Gimana bisa gini sih?" Tanya Luna dengan desah nafas lemah sambil menyuapi Yana semangkuk bubur hangat buatan rumah sakit.
"Tadi perut Yana keram banget kak tiba-tiba" Jawabnya sambil masih sedikit mengunyah sisa-sisa bubur di mulutnya.
Huffttt... Luna hanya mendengus mendengarnya dan kembali menyuapi Yana.
Tak lama pintu ruang rawat VIP itu terdengar dibuka dari luar setelah diketuk 3 kali. Kepala dan mata mereka pun bergerak menoleh seiring pergerakan pintu. Disana ada dokter Rey dengan membawa bungkusan plastik berisi dua kotak styrofoam. Senyumnya yang terlihat pertama kali dan langsung mengucapkan salam setelahnya.
"Assalamu'alaikum"
Wa'alaikumsalam
"Silahkan duduk dok" Luna membalas senyum Rey dan mempersilahkan pria itu duduk. Berjalan menuju meja dan menaruh bawaannya. Rey setelah itu duduk di sofa yang berada dalam ruangan itu.
"Gimana keadaan kamu?" Rey bertanya dengan menatap langsung ke arah Yana.
"Ba-baik dok Alhamdulillah" Yana menjawab gugup dan merasa canggung mengingat Rey sempat akan menjadi calon suaminya. Rey mengangguk dan tersenyum setelahnya berbalik memandang Luna.
"Dan Luna. Saya bawakan kamu makanan, setelah itu kamu juga harus makan" Kata Rey melihat Luna masih menyuapi adiknya.
__ADS_1
"Ya Allah dok kenapa repot banget sih... Sa-" Dengan cepat Rey memotong perkataan Luna dengan meletakkan jari telunjuk di depan mulutnya. Mengisyaratkan diam.
"Kalau mau jagain orang sakit. Ya kamu juga harus lebih sehat" Luna pun tidak dapat bicara apa-apa kalau begitu. Setelah suapan terakhir masuk ke mulut Yana. Luna pun berjalan menuju sofa dan duduk di sofa lain yang setengah berhadapan dengan Rey. Melihat pergerakan Luna yang mendekat. Rey menegakkan duduknya yang mulanya menyender. Ia lantas membuka bungkusan plastik bening putih itu dan mengeluarkan dua kotak styrofoam kemudian menyerahkan salah satu kotak di depan Luna begitu gadis itu sudah duduk.
"Silahkan" Ucap Rey. Luna membuka makanan yang di bawa Rey. Disana ada nasi putih, capcai dan tumis daging sapi yang terlihat sangat menggugah selera sebenarnya. Tapi nafsu makan Luna saat ini membuatnya seperti enggan untuk makan. Melihat itu Rey tidak bisa jika tidak bicara.
"Saya kurang tau makanan yang kamu suka" Mengerjap kaget dan seolah baru saja tersadar dari lamunannya Luna sontak menggeleng tidak enak.
"Gak kok dok saya suka ini. Saya cuma gak enak dokter sampai bawakan saya makanan seperti ini. Maaf ya karena saya selalu merepotkan dokter" Ungkapnya tulus.
"Saya gak merasa direpotkan sama sekali" Katanya tanpa memandang Luna dan langsung melahap makanan yang ia pegang dengan menu yang sama persis dengan milik Luna. Luna pun memaksakan dirinya untuk makan meski ia sedang tidak berselera sama sekali. Demi menghargai kebaikan pria di depannya ini. Di tengah makannya Luna tak sengaja melirik Yana yang terlihat gelisah dengan berulang kali membuka tutup ponselnya.
"Hm ga-papa kok kak. Yana mau tidur aja dulu ya" Jawabnya lalu dengan cepat menarik selimut hingga ke kepalanya. Rey memperhatikan wajah Luna yang saat ini terlihat banyak sekali guratan kegelisahan dan masih melempar pandangannya ke Yana. Minum sebentar membasahi tenggorokannya. Rey lantas menegur Luna.
"Luna" Luna menoleh cepat padanya sambil berdehem menyahuti Rey.
"Yana harus terus rileks dan senang selama masa kehamilan apa lagi di trimester awal ini. Sama seperti yang saya bilang tadi. Jika kamu mau merawat orang sakit, kamu harus jadi lebih sehat. Begitupun untuk menjaga perasaan Yana, kamu pun harus menjaga perasaan kamu terlebih dahulu" Rey menasehati Luna dengan lembut. Meski ia tidak tau apa saja yang sedang menganggu pikiran Luna. Tapi ia cukup tau bahwa Luna sedang tidak baik-baik saja. Menghela nafas berat. Luna menurunkan matanya sayu ke arah bawah sambil mengangguk pelan. Ia kembali melanjutkan makannya yang terasa hambar di lidahnya.
Ponsel Yana berdering. Dengan sigap ia bangkit dan merampas ponsel itu dari nakas.
__ADS_1
Seperti anak kecil, ia tersenyum begitu girang melihat siapa yang menelpon. Disana tertulis "Kesayangan 💗". Siapa lagi jika bukan Yudha. Tanpa pikir panjang Yana menekan tombol hijau dan meletakkan layar ponsel itu menempel pada telinga kirinya.
"Halo" Tunggu. Kenapa suara perempuan. Mendadak perasaan Yana menjadi tidak karuan.
"Ha-halo. Ini siapa ya?"
"Saya dari pihak rumah sakit mba. Beberapa hari yang lalu terjadi kecelakaan antara sebuah mobil sedan dan truk di jembatan batu . Pengemudi truk dan temannya sudah ditemukan kemarin, sedangkan pengemudi mobil sedan baru ditemukan pagi tadi beserta ponselnya yang ternyata tertutup oleh semak-semak. Kami mendapati nomor ini adalah nomor terakhir yang beliau hubungi. Kemudian dilihat dari namanya mungkin mbak adalah istrinya barangkali, itu sebabnya kami menghubungi nomor ini. Sekarang jenazahnya ada di rumah sakit cahaya. Mohon mbak untuk segera membawa jenazah korban. Saya turut berduka cita ya mbak"
Deg!
Senyum Yana luntur. Matanya mendadak kosong dan perlahan mulai berkaca. Seluruh dadanya sekarang dihalangi secara penuh oleh sesuatu yang tidak ia ketahui apa namun berhasil membuatnya sangat sulit untuk bernafas. Hati nya pun seperti sedang dihujam oleh ribuan.. Tidak! Oleh jutaan belati tepatnya. Yana menggeleng. Berharap dapat mengusir kenyataan yang baru saja terjadi dan ia dengar saat ini.
Ini mimpi! Ini cuma mimpi! Katanya dalam hati setelah ponsel tadi jatuh dari tangannya yang terasa berat dan sudah tidak bertenaga lagi untuk memegang apapun. Semua itu tak lepas dari pengawasan Luna. Melihat setetes air telah lolos dari pelupuk mata adiknya itu. Luna dengan cepat mendekat ke arah adiknya dengan khawatir.
"Yan... " Perlahan Luna mengangkat tangan memegang pundak Yana. Yana tak bergeming. Tatapannya masih ke depan dengan air mata yang terus mengalir tak terbendung.
"Yanaa" Seru Luna lebih keras dan kali ini sedikit mengguncang bahu yang ia pegang. Bukannya menjawab. Yana malah menangis histeris dalam pelukan Luna. Luna semakin mengeratkan pelukannya seiring adiknya yang juga semakin menangis memberontak.
Apa lagi ini? Batin Luna menangis.
__ADS_1