
“Hahh eemm i-ini. Gak papa kok, mungkin Cuma karna kurang tidur aja semalem” Jawab Luna sedkit gagap.
“Segitunya loe baca buku itu sampe gak tidur?” Tanya Juan tak habis pikir.
Tadi Vani nyerang gak jelas. Sekarang nih cowok tiba – tiba kayak peduli gini. Ada apa nihh ya Allah. Apa karna kurang tidur gue berhalusinasi ya
Luna bergumam sendiri dalam hatinya.
Klek!
Juan memetikkan jarinya tepat di depan wajah Luna sambal berkata
“Heii, ditanya malah bengong, gini nih akibatnya kalo gak biasa begadang malah tiba – tiba begadang. Yaudeh mumpung gak belajar loe tidur aja sana di kelas” Ucap Juan lalu tanpa permisi melangkah pergi.
Baru dua langkah ehh dia balik lagi. Kepala Luna hanya bergerak mengikuti gerak Juan.
“Satu lagi. Gak usah buru – buru bacanya. Loe bisa baca selama yang loe mau, gue gak akan minta loe balikin buku itu cepat – cepat. Jadi santai aja bacanya” Tambahnya lalu kali ini benar – benar pergi.
Luna tidak menjawab sepatah katapun, bahkan sekedar mengangguk pun tidak, ia terhanyut dengan keheranannya pada sikap Juan yang saat ini tengah ia pandangi punggung nya yang menjauh.
“Tuhh bener. Sejak kapan juga seorang Luna sedekat itu sama makhluk astral kayak tuh cowok tadi hah. Sekarang loe bilang loe siapa, apa maksud dan tujuan loe ngerasuki Luna” Tutur Vani mencoba menginterogasi Luna . “Haaaa atau jangan – jangan ini jin yang cuma menyerupai fisiknya Luna” Tambah Vani yang kali ini melotot takut dan mundur.
Luna yang memang letih, lesu, dan masih mengantuk terlalu lelah untuk menanggapinya. Dengan sisa tenaganya ia berjalan lunglai masuk ke kela dan langsung duduk dengan kepalanya di atas meja dan tas sebagai bantalnya. Hebatnya, hanya kurang dari 5 menit, Luna sudah pulas disana.
“Kenapa sih ni anak” Vani bergumam pelan sampai mungkin hanya ia sendiri yang dapat mendengar suaranya saking pelannya, sambal membenahi rambut Luna ke belakang agar tidak menghalangi wajah terutama hidung Luna yang tengah tertidur.
Selain hari itu, hari – hari selanjutnya Juan dan Luna memang semakin akrab, hamper setiap sore mereka membaca bersama di taman baru seperti kemarin. Mereka saling bertukar buku untuk dibaca, saling bertukar pikiran, saling membahas karya – karya yang telah mereka baca. Terus seperti itu, dan mereka masing – masing menikmatinya. Seperti hari ini, Luna dan Juan lagi – lagi duduk di depan danau kecil di sebuah taman baru tempat Juan akhirnya mau meminjamkan buku “Hati” Muf In Rosas yang sangat Luna idamkan itu bersama kurang lebih 5 atau 6 buku yang menemani mereka disana.
__ADS_1
“Pinjem buku yang itu dong mpus” Kata Juan di tengah kegiatan membaca mereka dengan menunjuk buku bersampul hitam di dekat Luna.
Luna pun langung mengambil buku tersebut dan menyerahkannya pada Juan. Mulanya Juan menerima buku di tangan Luna itu dengan cuek, tanpa ia sadar Luna belum mengalihkan matanya **** buku itu sudah ia terima.
Mencoba menebak isi pikiran Luna, Juan pun masih dengan tampang ragu – ragu berkata
“Makasih” Ucapnya sambal mengangkat buku tadi dan menggoyangnya sedikit.
Luna memiringkan kepalanya dan menghela nafas.
“Loe kenapa sih suka banget manggil gue empus?” Tanya Luna penasaran.
Jika diingat – ingat sejak awal mereka kenal. Juan memang nyaris belum pernah menyebut nama Luna. Lalu setelah mereka mulai berteman seperti sekarang Juan malah memanggilnya dengan panggilan “empus”. Luna ingin mengeong geram rasanya setiap panggilan tersebut disematkan padanya.
Juan yang mendengar pertanyaan Luna juga ikut menghela nafas seolah mengisyaratkan “Ohh jadi itu yang dipikirkan Luna, kirain mau nagih makasih udah ngambilin buku” Dan bukannya menjawab, Juan malah lanjut membaca dengan santai.
“ehh jawab dong” Luna sedikit mendesak Juan mendapati pria di depannya itu tidak menghiraukan pertanyaannya.
Luna tercengang.
“Ya penting laa. Itu menyangkut nama baik gue, bagus – bagus nama gue Luna malah loe panggil kucing” Protes Luna
“Gue manggil empus bukan kucing” Juan menjawab lagi masih dengan nada santainya. Matanya pun masih fokus pada buku di tangannya. Matanya pun masih fokus pada buku di tangannya.
Luna menggeram. Kemudian ia rampas kembali buku hitam yang tadi ia serahkan.
“Jawab dulu, kalo nggak, nggak gue pinjemin bukunya” Ancam Luna.
__ADS_1
Juan tampak tergelak kecil sedikit melihat tingkah Luna.
Lucu juga. Pikirnya
“Waktu kita pertama kali kenal inget gak dimana?” Kali ini Juan yang bertanya.
“Hah? Apaan sih malah gak nyambung” Sahut Luna.
“Nyambung kok, makanya jawab aja dulu”
Luna pun tampak berpikir untuk mengingat – ngingat.
“Parkiran bukan? Pas loe jatuh ketiban tangga nolongin anak kucing?” Tanya Luna memastikan apa ingatannya benar atau tidak.
Juan mengangguk seolah memuji ingatan Luna.
“Jadi apa hubungannya? Malah manut – manut gak jelas (sambal ikut mengangguk -ngangguk cepat meniru Juan)” Luna protes lagi dan mulai tak sabar.
“Ya itu alasannya. Awal pertemuan kita bisa dibilang loe ikut andil nolongin kucing yang mau gue tolongin juga. Dan gue kan belum tau nama loe waktu itu, terus tiap liat loe yang terlintas dipikiran gue kucing, makanya loe gue panggil empus” Jelas Juan.
Luna akhirnya mengetahui alasannya dan rasa penasarannya telah terbayar, tapi mirisnya Luna berpikir bahwa “Jadi harga diri gue cuma sebatas kucing di mata loe” Ucap Luna dengan senyum haru terpaksa.
Mendengar itu Juan hanya tersenyum miring sedikitt sekali, hampir hanya bisa dilihat pakai mata batin saking tipisnya.
“Udah sini bukunya, pinjem, makasih” Kata Juan dan Kembali merampas buku hitam tadi.
Juan pun akhirnya membaca buku lagi dengan santai.
__ADS_1
Di sampingnya, Luna hanya bisa terdiam dengan mata sinis menyipit ke arah Juan. Dan tentu saja, yang Luna lakukan itu tidak dihiraukan sama sekali oleh Juan.
Yaa begitulah Juan dengan segala kecuekannya.