Hati Lunara

Hati Lunara
Bab 53


__ADS_3

Okee ini part kedua di hari ini yaa


Selamat membaca 😊😊😊


.


.


.


Hiruk pikuk kota dengan suara kendaraan dari berbagai arah dan racauan orang-orang disana sangat terdengar di telinga Yana dan Rey. Ya, mereka sedang ada di pasar malam, tepatnya di sebuah warung nasi goreng kaki lima di pinggir jalan. Gadis itu mengadu ingin makan nasi goreng kaki lima dengan Rey, meski penuh pertimbangan dan malu-malu. Tapi ngidam yang sedang dialaminya memberi pengaruh yang lebih kuat dalam diri Yana untuk mengabaikan rasa malunya sekarang.


"Yana sebenarnya lagi pengen makan nasi goreng yang di pasar malam tadi"


Ungkapnya dengan sangat pelan dan hati-hati kemudian menunduk takut. Ya ampun Yana, Rey sampai geleng-geleng kepala melihat gadis ini. Memangnya dia pernah berkata atau berbuat kasar apa sampai Yana harus takut dan merunduk begitu hanya untuk makan nasi goreng.


Gelak tawa kecil dari Rey terdengar samar di telinga Yana, membuat ia berjengit lalu mendongak.


"Kenapa?"


Rey malah tersenyum.


"Gapapa, pasar malam yang tadi itu? Yang dekat jalan keluar apartemen tadi kan?


Tanyanya memastikan. Yana pun mengangguk.


"Yaudah saya kesana dulu"


"Ehh-"


Yana menahan lengan Rey, dan secepat pandangan mereka mengarah pada persentuhan kulit mereka, secepat itu pula Yana menurunkan tangannya gugup.


"Biar Yana aja yang kesana, Yana pengennya makan di tempatnya langsung, kalau dibawa pulang pasti rasanya beda"


"Yaudah ayo, tapi kamu pakai jaket ya"


Kata Rey mengizinkan.


"M-mas Rey ikut?"


Oke, lidahnya mulai lagi. Hufftt


"Yaiyalah, ayo"


Ajaknya lagi. Yana pun tersenyum senang dan segera mengambil jaketnya.


Sampai disana Yana langsung berjalan cepat menuju gerobak nasi goreng yang sempat ia lihat di perjalanan pulang sore tadi.


"Mas mau apa?"


Tanyanya saat berbalik pada Rey di belakangnya.


"Saya kan udah makan tadi"


Rey mengingatkan. Wajah Yana kembali tertekuk.

__ADS_1


"Udah kenyang banget ya? Kalau gitu gak usah aja deh"


Loh? Rey sampai memiringkan kepalanya karena heran. Dia yang mau makan nasi goreng, kenapa gak jadi hanya karena Rey yang kenyang. Memang apa hubungannya? Yana tidak sedang mengidam agar Rey yang makan kan?


"Yana gak suka kalau makan diluar gini tapi sendirian padahal datangnya gak sendiri"


Jelasnya seraya menunduk seperti biasa.


"Yaudah pesan dua, saya gak pedas ya. Gak usah kasi telur juga, tadi kan udah makan banyak telur juga"


Seketika Yana mendongak dan matanya berbinar disusul dengan anggukan gembira.


"Mas nasi gorengnya dua ya, yang satu pedes lengkap, satunya gak pedes dan gak usah pake telor"


Ya elahh, sekalinya sama mas-mas nasi goreng Yana manggil "mas" nya selancar ini. Apa dia nikah sama mas nasi goreng ini aja? Ahh pikiran konyol bin bodoh apa yang sedang menguasai otak Yana.


"Siap neng"


Rey dan Yana pun kemudian menuju sebuah meja kayu beralas tikar plastik motif bunga yang memang hanya tersisa satu, karena pengunjung disini cukup ramai.


Yana memperhatikan sekitar dengan ceria. Banyak jajanan-jajanan kaki lima, mainan, lampu-lampu dan anak-anak yang berlarian di wahana kecil pasar itu. Sudah lama sekali rasanya Yana tidak begini. Rasanya juga cukup melegakan pikirannya. Dulu ia juga pernah di bawa Yudha ke pasar malam dan makan di kaki lima begini juga. Ahhh, mengingat itu Yana merasa runtuh kembali.


"Silahkan"


Hingga datanglah pesanan mereka.


"Wahh makasih mas"


Rey kembali terkekeh dan kembali terdengar oleh Yana juga.


Tanya Yana heran.


"Lucu aja, kamu manggil tukang nasi goreng lancar banget "mas nya" giliran suami sendiri kok belibet banget kayaknya"


Astaga! Jadi Rey sadar selama ini. Kirain nggak, dia juga gak pernah komentar.


Yana pun memperlihatkan senyum kikuknya lagi.


"Yaudah makan"


Ucap Rey. Yana pun mulai memasukkan nasi goreng panas itu ke dalam mulut setelah meniupnya barang sekali dua kali.


Sungguh! Makan makanan yang diinginkan saat mengidam itu sangatlah.... Ahh sudahlah yang penting kata nikmat, lezat dan kata sejenisnya yang lain adalah jawabannya.


Drrtt!


Ponsel di meja bergetar. Itu milik Rey dan langsung tertera nama "Mama" disana.


"Saya angkat telepon dulu ya"


Rey izin dengan sedikit meninggikan suara karena suasana sekitar mereka yang memang cukup berisik. Yana mengangguk dan setelah mendapat respon itu Rey langsung berdiri menjauh mengangkat telepon dari Mamanya, Mia.


"Yana ya?"


Yana mendongak ke arah samping begitu namanya di sebut. Terlihat disana seorang wanita berperawakan hitam manis dan cukup seksi berdiri dengan melipat kedua tangannya.

__ADS_1


"Enak ya, setelah ngerebut Yudha dulu loe seneng-seneng ama dia, hamil. Yudhanya meninggal ehh loe nikah lagi, kok mau sih suami loe terima"


Wanita itu bicara dengan berseringai miring.


"Ehh atau jangan-jangan itu emang anak suami loe? Loe selingkuh dari Yudha ya, bisa jadi kan loe tuh murahan"


Dada Yana bergemuruh. Kalimat itu sangat menusuk begitu dalam terlebih selama hamil Yana menjadi orang yang lebih sensitif.


"Saya gak merebut Yudha dari siapapun. Kalian cuma teman dan kamu yang menyukai dia secara sepihak, kasihan ya kamu"


Balas Yana dengan suara bergetar. Gadis yang memang terlihat bar-bar itu seperti tak terima. Tangannya sudah terangkat entah untuk apa ke arah Yana namun untung saja tertahan oleh lengan kekar yang baru saja tiba. Orang itu Rey


"Murahan terkadang adalah untuk orang yang menyebutkannya sendiri , bahkan cara bicara kamu pun mendekati itu"


Mata Rey turun sebentar hanya untuk sekedar melirik cara berpakaian gadis yang sedang membelalakkan matanya karena ucapan Rey barusan.


"Dilihat dari segi manapun Yana adalah wanita yang lebih beretika dan terhormat, satu kesalahannya tidak akan memungkiri itu"


Rey maju sedikit.


"Jangan mencoba mempermalukan diri kamu sendiri. Pergi dan jangan coba-coba lagi kamu berani menganggu istri saya yang terhormat ini"


Tambahnya dan langsung menyentak tangan gadis yang di cekalnya tadi. Dengan nafas memburu, ia menyoroti Rey dan Yana tajam secara bergantian kemudian pergi.


Rey duduk kembali di hadapan Yana yang sedang memandangnya dengan berkaca-kaca.


"Udah. Gak usah kamu pikirkan, ingat Yan kamu itu gak boleh stres, ayo makan lagi"


Ucap Rey lembut. Sungguh, Yana memang sangat terharu. Ia yang mulanya merasa hina dengan cacian wanita yang tak lain adalah sekretaris Yudha dulu jadi mendadak terangkat kembali dan terhormat oleh belaan Rey.


"Makasih ya mas"


Yana mengucapkan itu begitu tulus dan penuh arti. Sorot matanya cukup mengartikan itu.


"Udah kewajiban saya"


Sahut Rey dengan senyumnya.


"Ada ngidam lain gak, mumpung lagi diluar nih. Saya takut kamu malah kayak Ibu hamil lain yang suka pengen ini itu ke suaminya tengah malam"


Tambah Rey jenaka yang disambut gelak tawa kecil dari Yana.


Dilihat seperti ini, mereka memang tampak sebagai pasangan suami istri yang harmonis.


.


.


.


Uhhhhhh sejuta love deh buat Rey 😊


Sekian untuk hari ini. Jangan lupa like, komen, vote dengan poin, dan rating bintang 5 nya yaa setelah membaca. Makasihhh


Lovee youu guyss 😘

__ADS_1


__ADS_2