Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 126


__ADS_3

"Papa..." Arief mendongak. Matanya terbelalak.


"Kenapa Papa ke Jakarta. Dan kenapa Papa bisa sampai begini"


"Kamu tau darimana Papa disini?" Bukannya menjawab. Arief malah balik bertanya pada seorang pria yang menyebut dirinya Papa itu.


"Pa... Jawab Juan kenapa Papa bisa kayak gini?" Pria itu ternyata Juan. Ia masih mendesak sang Papa untuk menjawab, dengan air muka yang cemas dan panik melihat wajah sang Papa yang membiru di beberapa bagian serta duduk sendiri di sisi pot bunga besar berbahan dasar semen yang menjadi salah satu hiasan restoran the seafood itu. Belum Arief menjawab, Juan sudah kembali bicara.


"Apa Papa begini karna Rey... " Juan tidak melanjutkan kata-kata nya. Namun dari wajahnya yang sudah berubah geram membuat Arief mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh putranya ini. Seraya menggeleng pelan, Arief pun menjawab.


"Enggak. Rey gak tau apa-apa" Untuk sesaat Arief menduga sesuatu.


"Apa Rey yang ngasi tau Papa disini?" Tanyanya. Juan mengangguk.


"Yaudah ayo kita pulang, Papa ikut Juan aja"


"Nggak. Papa nginep di hotel itu kok" Jawab Arief sambil menunjuk hotel di depan restoran, tempat mereka berada sekarang ini.


"Papa nginep di apartemen Juan aja. Mama lagi nginep di rumah temennya karena mau ada acara" Ajak Juan dengan khawatir, mengingat kesehatan sang Papa yang selalunya memang kurang baik.


"Gak usah. Meski gak ada Mama kamu, tapi dia pasti tetap gak suka kalo Papa disana"Jawabnya sendu.


"Nggak. Papa pokoknya harus ikut Juan. Papa itu masih sakit, wajah Papa aja pucat begitu" Baru akan kembali menjawab namun Juan menahannya.

__ADS_1


"Udah Pa, kali ini tolong nurut sama Juan. Ayo" Kekehnya masih untuk mengajak sang Papa. Arief pun tampak menghela nafas pasrah dan berdiri dengan di papah oleh Juan. Sudah berada di mobil menuju ke apartemen Juan. Setelah sebelumnya check-out dari hotel tersebut dan membawa barang-barang sang Papa. Juan kembali bertanya di tengah perjalanan mereka.


"Sekarang Papa harus jawab. Kenapa Papa kesini?" Arief tampak menunduk setelah Juan bertanya begitu.


"Pa" Serunya lagi karena merasa tak di tanggapi.


"Entahlah.. " Katanya lirih. Kemudian mengangkat kepalanya pelan.


"Papa juga gak tau kenapa. Untuk apa. Papa hanya berharap semoga masih ada yang bisa diperbaiki meskipun Papa gak tau apa dan bagaimana. Dan... apa masih bisa" Ujarnya seraya menyelipkan sedikit senyum sendu di akhir kalimatnya.


"Papa udah ketemu...-?"


"Udah" Jawabnya menyekat kalimat Juan yang menggantung panjang. Juan seketika menoleh kaget.


"Kayaknya dia gak tau. Tapi gak tau setelah ini" Juan kembali memfokuskan matanya ke jalanan. Tapi jauh di hati dan di pikirannya sangat kacau sekarang. Begitu sampai Juan tidak perlu lagi memencet bel karena pin rumahnya tentu sudah ia hafal luar kepala. Memencet digit angka dengan cepat kemudian pintunya pun ia buka dengan sebelah tangan. Sebelah tangannya lagi menggandeng koper kecil milik sang Papa.


"Ayo Pa" Ajaknya pada Arief yang berdiri di belakangnya.


"Assalamu'alaikum" Ucap Arief begitu masuk. Juan pun menjawab dengan senyum. Dari arah dalam apartemennya terdengar bunyi langkah kaki yang mendekat bersama suara seorang wanita yang sangat Juan kenal.


"Udah pulang?" Kata wanita itu sambil masih berjalan mendekat.


Ehh? Juan langsung melotot menoleh ke belakangnya dimana Papanya berada.

__ADS_1


"M-Mama" Sahutnya begitu sang Mama sudah berada di hadapannya dengan terpaku.


"Kok Mama disini? Bukannya ada acara di rumah teman arisan Mama dan nginap?" Tanya Juan.


"Kenapa kamu ada disini?" Tanpa memperdulikan pertanyaan Juan. Nia malah lebih tertarik untuk bertanya pada laki-laki yang putranya bawa itu.


"Juan yang bawa bu. Cuma sementara aja selama Papa di Jakarta. Juan gak mungkin biarin Papa tinggal sendiri. Mama kan tau sendiri kondisi Papa gimana. Tolong izinin ya bu. Juan mohon" Juan yang menyerobot untuk menjawab pertanyaan sang Mama dengan memohon. Nia pun mengalihkan pandangannya tidak percaya pada Juan. Kemudian berbalik dan menghentakkan kakinya keras menuju kamarnya.


"Lebih baik Papa kembali ke hotel aja wan. Papa gak mau ganggu Mama kamu" Kata Arief mencoba mengerti situasi dan perasaan Nia.


"Gak Pa. Ini udah malem, Papa masuk ke kamar Juan aja. Biar Juan yang ngomong sama Mama" Arief terdiam dan masih tampak keberatan.


"Udah Pa ayo" Akhirnya Juan pun menarik tubuh sang Papa untuk memasuki kamarnya agar pria itu bisa langsung beristirahat. Setelah itu, Juan sendiri keluar menuju kamar Mamanya.


Tok tok tok!


Juan mengetuk pintu sang Mama dari luar. Sudah menjadi kebiasaan sebelum memasuki kamar Mamanya atau sebaliknya mereka akan mengetuk terlebih dahulu. Biasanya Mamanya itu akan langsung menyahut "Masuk aja nak". Tapi kali ini tidak. Tidak ada sahutan apapun dari dalam sana. Secara perlahan, Juan pun membuka pintu itu. Yang dilihatnya pertama adalah tubuh sang Mama yang meringkuk membelakangi pintu di ranjangnya. Juan pun mendekat dan duduk di sisi ranjangnya. Nia masih tidak bergeming.


"Maa... Maaf ya. Juan gak maksud bikin Mama sedih. Tapi apapun yang terjadi antara Mama dan Papa. Juan tetap anak kalian dan Juan wajib berbakti sama Mama maupun Papa. Maaf karena Juan lancang bawa Papa kesini, harusnya Juan izin dulu sama Mama. Tapi lihat kondisi Papa tadi Juan jadi khawatir dan gak mikir panjang" Jelasnya dengan hati-hati. Beberapa saat setelahnya Nia tampak bangkit dan duduk dengan menyender pada senderan kasur. Tapi matanya hanya lurus ke depan. Tidak menatap Juan.


"Ma... Papa udah menyesal. Sangat menyesal, kalaupun Papa dan Mama memang gak bisa kembali setidaknya apa Mama bisa berbaikan dan maafkan Papa?" Kali ini Nia menoleh.


"Bukan buat Juan Ma. Tapi untuk Mama sendiri juga. Mungkin dengan memaafkan Mama bisa benar-benar terlepas dari dendam dan sakit hati Mama selama ini"

__ADS_1


__ADS_2