Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 34


__ADS_3

SEMENTARA ITU


Juan melempar ponselnya dengan geram ke atas ranjang disusul dirinya pun ikut menjatuhkan diri di atas ranjang juga sambil memijit pangkal hidungnya yang terasa pusing ditambah dia tidak tidur semalaman, sejak kemarin Juan, Vani, dan Dira menghubungi ponsel Luna yang tidak di respon sedikit pun meski terus aktif sejak kemarin. Juan sebenarnya memang sudah berinisiatif mengantar Luna untuk bekerja ke toko buku kemarin itu namun sesampainya di rumah Luna ternyata kekasihnya itu sudah keburu berangkat duluan dan informasinya sudah lama, jadi pria itu berpikir bahwa Luna sudah sampai dan ia pun memutuskan Kembali pulang. Sore hari saat Juan hendak keluar mencari coklat yang kemarin ia perebutkan dengan Vani baru Juan memulai menghubungi Luna lagi tapi tidak di respon, mulanya Juan masih berusaha berpikir positif bahwa Luna sibuk, namun ia mulai kalang kabut Ketika Vani dan Dira menghubunginya dan mengatakan bahwa Luna kemungkinan hilang. Malam itu Juan juga sudah mencoba mencari Luna kemana – mana termasuk danau kesukaan mereka namun hasilnya nihil.


Tak lama ponsel Juan bergetar, dengan sigap ia mengambil dan mengangkatnya tanpa mengecek nama pemanggil terlebih dahulu


“Halo, Luna?” Kata Juan dengan semangat


”Bukan.. Ini gue Vani” Sahut suara dari balik telepon yang seketika membuat Juan lemah kembali


“Gue udah kerumah Luna pagi – pagi buta tadi gak dapet informasi apa – apa dari mereka, kayak setan gue dilewatin gitu aja sama nyokap bokapnya Luna, ketemu sama si Yana sih tapi dia kayak takut gitu sama orang tuanya, terutama Om Edi tuh pas noleh ke dia, tatapannya udah kayak belati yang siap nyayat gue sama Yana Cuma yang jelas Yana bilang gak perlu khawatir karna Luna baik – baik aja katanya tapi dia memang gak berani cerita dulu Luna lagi dimana. Kayaknya untuk sekarang kita pecaya aja deh sama katanya Yana, Toh Yana kan juga sayang banget sama kakaknya” Jelas Vani dengan Panjang lebar yang hanya di sahut “Hmm” oleh Juan


“Udah… InsyaAllah Luna gak kenapa – kenapa, gue percaya sama Yana. Kalo ada sesuatu yang gak baik dia pasti bakal ngabarin gue kok, gue kenal banget Yana. Gue tutup ya teleponnya, kalau masing – masing dari kita ada dapat kabar tentang Luna tolong langsung saling kabarin ya, gue sama Dira bakal gitu juga” Pinta Vani


“Iya” Juan menjawab singkat


“Ehh wan-“


“Kenapa?”


“Nggak, gue Cuma mau bilang sorry dan makasih buat coklat dan hadiah kemarin yang loe sisain buat gue” Kata Vani membahas soal kemarin


“Iya sama – sama… Santai aja” Sahut Juan


“Yaudah gue tutup. Assalamu’alaikum”

__ADS_1


“Wa’alaikumsalam” Ucap Juan menjawab salam Vani kemudian sambungan telepon mereka pun terputus sampai disana.


Sebenarnya kamu dimana sih Lun? Apa yang terjadi sama kamu? Kenapa kamu gak akan telepon aku sama sekali… Dimanapun kamu semoga kamu baik – baik saja…


Begitulah gambaran harapan Juan dalam hatinya.


Tak lama setelah sambungan telepon mereka, telepon Juan Kembali bergetar, kali ini ia mengecek nama pemanggil terlebih dahulu, ternyata Vani menelpon dirinya lagi.


“Halo Van” Juan masih menjawab dengan lesu


“Wan… Gue udah dapat kabar tentang Luna, barusan Yana telpon gue”


Juan pun bangkit dari tempat tidurnya


“Hmm.. Loe tenang dulu ya…” Vani menjeda kalimatnya sebentar untuk Menyusun kalimat yang pas agar Juan tidak terlalu syok. Jantung Juan berdebar – debar menunggu penjelasan Vani, ada firasat tak enak yang tiba – tiba semakin menyesaki dadanya


- -


Brakk!!!!


Luna dan Rey sampai tersentak karena terkejut dengan suara pintu kamar rawat inap nya Luna yang dibuka dengan keras dari luar, tapi Luna lebih dikagetkan dengan sosok orang yang membuka dan sekarang tengah berdiri terengah di depannya yaitu Juan. Rey menatap bingung pada dua orang yang saling menatap itu


Hosh hosh hosh… suara nafas Juan masih terdengar belum stabil.


Juan mendekat dengan senyum manis leganya meski nafasnya yang masih ngos – ngosan karena dia baru saja berlari agar bisa sampai ke ruang rawat inap Luna secepat mungkin. Setelah langkah demi langkah Juan pun akhirnya tepat di hadapan Luna dengan matanya yang sudah berkaca – kaca haru menatap ke arah Luna, Juan langsung menarik Luna ke dalam pelukannya dengan lembut, menepuk dan mengusap halus punggung Luna. Disana Rey hanya menatap dengan diam

__ADS_1


“Cengeng ah kamu, gitu aja nangis” Kata Luna dengan berusaha tersenyum padahal ia sendiri pun rasanya terharu hingga ingin menangis melihat Juan ada di pelukannya sekarang.


“Ehemm” Rey yang merasa tak nyaman di situasi itu pun berdehem untuk memberi sinyal pada dua sejoli di depannya bahwa masih ada orang lain di ruangan tersebut. Luna dan Juan yang mendengarnya pun menoleh pada Rey sambil saling melepas pelukan mereka.


“Oh iya Juan, kenalin ini dokter Rey, dia yang nangani aku selama disini, dokkter Rey ini juga pelanggan tetap café tempat aku kerja loh sekaligus kenalan Ayah juga” Tutur Luna mengenalkan Rey pada Juan.


“Oh iya?” Sahut Juan menanggapi Luna dengan senyuman, kemudian ia beralih pada Rey dan mengajak Dokter tersebut bersalaman.


“Juan”


“Reyhan”


“Hmm kalau gitu saya keluar dulu, biar kalian lebih leluasa ngobrolnya” Ucap Rey.


“Makasih ya Dok” Kata Luna dan Juan


“Iya, saya permisi”


Setelah Rey pergi, Juan Kembali menatap Luna, ia juga mengusap lembut kepala Luna


“Semuanya akan baik – baik aja kan? Kamu perempuan kuat kok, iya kan?” Entah itu pertanyaan atau pernyataan, Juan mengucakannya dengan lirih dan senyum yang dipaksakan. Kalimat itu niatnya untuk menguatkan Luna, atau malah untuk menguatkan dirinya? Jujur Juan pun rasanya gusar. Juan kemudian meraih pergelangan tangan Luna, menggenggamnya kemudian mencium tangan itu begitu tulus dan dalam


Ceklek!


Vani membuka pintu dari luar bersama Dira di belakangnya dengan senyum untuk bertemu Luna namun melihat adegan yang ada di depannya senyum Vani mendadak meluntur

__ADS_1


__ADS_2