Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 73


__ADS_3

Dira ikut menimbrung dalam gelak tawa Luna dan membuatnya terdengar semakin pecah.


"Gak usah belagu loe ngetawain gue, sesama jomblo juga" Gerutu Vani tidak terima sambil tangannya mendorong bahu Dira.


"Eitss sorry, gue tuh single terhormat bukan jomblo, memutuskan untuk gak memiliki hubungan" Sahutnya jemawa. Vani hanya berdecih memutar bola matanya jengah.


"Kak, mau numpang nge-charge dong" Yana menyela.


"Ohh iya silahkan, anggap aja rumah sendiri masuk-masuk aja Yan santai kalau sama gue mah"


"Yana bukan elo" Sahut Dira yang dibalas tatapan sinis dari Vani. Entah bagaimana mereka bisa bertahan dalam persahabatan yang isinya hanya saling melempar hujatan. Oh iya, mungkin karna ada Luna yang melengkapi itu sebagai penengah.


"Sini biar kakak aja, sekalian mau ke toilet juga" Yana pun menyerahkan ponsel dan chargeran miliknya ke uluran tangan Luna.


"Masuk ya Van" Kata Luna sambil berjalan. Vani hanya menyahuti dengan mengangkat jempol tangan kanannya.


"Hmm kak" Seru Yana berbisik setelah memastikan kakaknya itu masuk. Vani dan Dira pun memajukan wajah mereka penasaran.


"Kak Juan sama kak Luna lagi ada masalah ya?" Sontak keduanya mundur kembali dan saling menatap sengit seperti saling menyerahkan pertanggungjawaban untuk menjawab pertanyaan adik dari sahabat mereka.


Loe aja sana, kalo gue ntar salah ngomong. Vani membatin.


Udah loe aja, gue juga bingung mau jawab apa. Dira membatin


Udah loe aja.


Elo!


Elo!


Seakan saling bisa mendengar kata hati mereka masing-masing, perdebatan telepati itu kian memanas seiring sorot mata mereka yang semakin sengit.


"Kak"


"Hah?" Keduanya langsung bersamaan menoleh konyol.


"Jadi?" Tanya Yana lagi dengan senyum tidak enak.


"Ohh itu" Vani menyahut seakan sudah mantap akan menjawab.

__ADS_1


"Nih Dira mau jelasin katanya, ayo Dir"


Emang sialan nih bocah, gayanya kaya mau jawab tapi ternyata dilempar juga ke gue. Dira mengumpat dalam hatinya. Memicingkan mata ke arah Vani. Dira sudah tau kelicikan Vani akan terjadi. Yana pun jadi menoleh pada Dira. Membuat yang ditatap menjadi gugup.


"Hmm gini, Ee-eee itu" Dira menjawab gelisah sambil bergantian melirik Vani dan Yana.


"Biar Luna aja deh yang jelasin sendiri Yan, yang udah pasti bener dari sumbernya" Lanjut Dira dengan merosotkan bahunya lemas. Begitu pun Yana yang mendengarnya.


"Ngegosip apaan loe berdua ke adek gue" Suara Luna terdengar cukup keras. Vani dan Dira kompak menyengir dan menggeleng.


Drrtt


"Handphone loe tuh Lun, udah dua kali bunyi" Kata Vani dengan memajukan dagunya. Luna pun mengulurkan tangannya menggapai ponsel itu di atas meja. Dahinya terlipat dalam begitu mengecek isi pesan baru tersebut.


"Bentar ya" Luna buru-buru masuk lagi, entah untuk apa tapi sepertinya tidak ada yang curiga, kecuali Yana. Ia pun beranjak berniat menyusul secara diam-diam bahkan sampai lupa untuk pamit dulu pada Vani.


"Wihh nyelonong aje die bedua jadi ikutan kepo tuh gue, tapi mager mau berdiri. Ya Allah beratnya ujian-Mu" Ungkap Vani kemudian merebahkan diri di sofa. Dira hanya memandang malas tanpa berniat merespon.


"Apa maksud kamu?" Cepat Luna menyambar begitu teleponnya sudah di angkat.


"Saya cuma ingin tau" Begitu respon orang di balik telepon Luna.


"Jadi?" Tanya orang itu lagi karena Luna hanya terdiam. Kemudian terdengar nafas berat yang di hela oleh Luna.


"Udahlah mas, saya gak mau bahas itu lagi" Katanya malas.


"Cukup jawab itu saja Lun" Rey masih kekeh.


"Kalau dengan itu bisa buat mas Rey berhenti membahasnya lagi maka saya jawab iya, malam itu saya memang habis bertemu Juan untuk menyelesaikan masalah kami" Luna menjawab dengan sendu.


"Baik terimakasih, Assalamu'alaikum" Ehh? Untuk apa Rey berterimakasih, hufftt Luna bahkan belum sempat menjawab salam Rey di telepon tadi.


"Wa'alaikumsalam... " Jawabnya lirih, meski Rey sudah pasti tidak akan mendengar itu.


 


"Dapet apa?" Tanya Vani begitu menyadari Yana sudah kembali dengan terburu-buru. Takut kakaknya itu memergoki dirinya sedang menguping.


"Gak ada, kak Luna ngomongnya pake frekuensi suara yang intensitas bunyinya gak nyampe telinga manusia, pelan banget" Mendengar itu Dira terkekeh.

__ADS_1


"Cewek misterius emang si Luna"


 


Hari sudah petang, namun Vani, Dira, dan Luna tampak belum mau memutus kebersamaan mereka dalam obrolan santai siang itu. Menghabiskan waktu bersama kedua sahabatnya ini memang sangat menjadi moodbuster bagi Luna.


Tring!


"Nah tuh Dokter Rey kayaknya udah sampe"


"Biar gue aja yang bukain" Ujar Luna menawarkan diri setekah terdengar suara bel. Dan benar. Rey sudah berdiri di balik pintu. Mata mereka bertemu dengan canggung mengingat interaksi dan pembahasan mereka lewat telepon tadi.


"Ehhh haloo mantan calon suami" Sapa Vani sedikit teriak dari tempat duduknya. Hal itu pun berhasil memutus tatapan Luna dan Rey.


"Udah jadi laki orang, istghfar Van" Luna berjalan kembali menuju sofa sambil mengingatkan Vani.


"Lah kan bener gue bilang ada "mantan"nya. kalo tadi gue bilang calon suami doang baru gak bener tuh" Rey disana hanya tersenyum kaku, menanggapi Vani sesulit mendengar Yana bersuara seperti kemarin.


"Duduk dong ayo" Dira mempersilahkan karena Rey masih berdiri.


"Yana mana?" Tanya Rey pelan pada Luna setelah ia mendudukkan diri.


"Ada di kamar, tadi ketiduran" Rey mengangguk. Pantas saja Luna yang mengiriminya pesan untuk dijemput.


"Lama juga ya dia tidur"


"Iya semenjak hamil ada kalanya dia kayak sering banget tidur gitu. Tapi gapapalah, seenggaknya dengan tidur dia jadi gak banyak mikir macem-macem dan gak stres juga" Jawab Luna menanggapi pernyataan Dira.


"Gue yang gak hamil aja sering tidur, apalagi kalo hamil ya" Kekonyolan Vani muncul lagi.


"Bapaknya dulu cari, kayak ada aja cowok yang mau ngehamilin loe" pDira ikut menimbrung dalam gelak tawa Luna dan membuatnya terdengar semakin pecah.


Hah! Astaga. Temannya satu ini bicara layaknya belati yang baru saja di asah. Tajam sekali! Temannya satu ini bicara layaknya belati yang baru saja di asah. Tajam sekali!


"Gak usah belagu loe ngetawain gue, sesama jomblo juga"


Sahut Vani tidak terima sambil tangannya mendorong bahu Dira.


"Eitss sorry, gue tuh single terhormat bukan jomblo, memutuskan untuk gak memiliki hubungan"

__ADS_1


Sahutnya jemawa.


Hah! Astaga. Temannya satu ini bicara layaknya belati yang baru saja di asah. Tajam sekali! Temannya satu ini bicara layaknya belati yang baru saja di asah. Tajam sekali!


__ADS_2