Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 23


__ADS_3

Opening bab kali ini masih cerita Luna sedikit yaa hehe baru kita ke Juan


.


.


.


Alhamdulillah....


Luna bersyukur perutnya sudah kenyang sekarang. Perlahan ia menoleh pada Bi Narti


"Sebenarnya ada apa sih bi sama Ayah dan Bunda? Luna ada salah apa?" Tanyanya sedih.


Bi Narti pun memasang wajah sendu.


"Bibi harus bilang apa non. Bibi sendiri pun bingung, kagett, gak habis pikir. Bibi juga ikut shock, bibi gak tau apa-apa" Jawab Bi Narti.


Luna tersenyum getir.


"Luna kalo gitu mau pindahin barang - barang Luna dari kamar kesini dulu ya Bi"


"Biar Bibi bantu" Kata Bi Narti menawarkan diri. Luna pun mengiyakan dan tak lupa berterima kasih.


Dengan berat hati Luna memindahkan barang - barangnya ke gudang, menata gudang sebisanya dan senyamannya. Disana Luna menata kasur bekas yang masih layak pakai disana untuk menjadi kasur nya mulai hari ini. Setelah selesai Luna tertidur disana. Mungkin ia kelelahan, lelah fisik nya... Apalagi hatinya yang tak henti bertanya sejak tadi malam. Bi Narti pun membiarkan Luna tertidur dan keluar dari sana.


Waktu sudah menunjukkan pukul 12.30. Narti mendengar suara mobil yang datang kemudian pergi lagi disusul suara seorang perempuan yang ia kenal yaitu Yana dari garasi.


Assalamu'alaikum


Yana mengucap salam terlebih dahulu saat memasuki rumah. Bi Narti pun menyambutnya dengan senyum dan tentu menjawab salamnya


"Walaikumsalam, ehh Non Yana udah pulang" Kata Bi Narti


"Hehe iya Bi"


"Yaudah Non ganti baju gih, setelah itu makan siang" Ucap Bi Narti lembut.

__ADS_1


Bukannya menjawab Yana malah memanggil Bi Narti


"Bi?" Serunya.


"Iya?" Sahut Bi Narti dengan senyum lembut khasnya.


"Apa lagi ada masalah yang Yana gak tau? Kok Ayah sama Bunda kayak aneh gitu. Terus kak Luna ada dimana sekarang? Kok gak ada sih" Tanya Yana yang seketika melunturkan senyum Bi Narti.


"Emm ohh iya, Bi Narti masak oseng tempe teri kesukaan Non Yana lohh. Ayo non ganti baju dulu, biar Bi Narti siapin masakannya sekarang" Ucap Bi Narti mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Biiii... Pasti Bibi tau sesuatu yaa. Ayo dong Bi, gak tau kenapa Yana jadi khawatir sama kak Luna"Yana mulai merengek


Bi Narti menunduk menghela nafas dan memejamkan mata dengan berat.


* * *


Ceklek


Yana langsung membulatkan matanya begitu Narti membuka sebuah pintu dirumahnya yang ia ketahui adalah sebuah gudang.


Yang Yana heran, tempat itu lebih rapi dan tertata sebelumnya, sudah lebih seperti kamar dan disana malah tertidur kakaknya di atas kasur lama.


Yana menoleh pada Bi Narti seolah meminta jawaban atau sebuah penjelasan. Tapi Bi Narti hanya menggeleng memasang wajah sendu lalu menunduk. Seolah mengisyaratkan dirinya pun tidak tau apa - apa.


Yana berjalan perlahan... Mendekat ke tempat sang kakak tertidur pulas. Luna sorot wajahnya yang tampak sedikit membekas dan sesekali menunjukkan sisa - sisa isak tangis.


"Yana keluar" Tiba-tiba terdengar suara Edi di depan pintu yang mengagetkan Yana maupun Bi Narti.


"Nggakk!! Yana mau nemenin kak Luna. Ada apa ini Yah? Kenapa kak Luna tidur disini?" Yana mulai menangis.


Luna mulai mengerjap bangun mendengar suara berisik di dekatnya. Matanya membulat dengan kening mengerut melihat ada Yana di depannya dan Edi di depan pintu.


"Jangan buat Ayah marah, keluar" Kata Edi lagi masih berusaha bicara dengan nada biasa.


"Nggak!" Kata Yana lebih keras. Sesaat setelahnya, Edi dengan tanpa suara melangkah cepat mendekat pada Yana dan menarik tangan gadis itu secara paksa. Luna reflek bergerak ingin menahan sang Ayah, tapi Edi berbalik menunjuk kasar pada Luna dengan tatapan tajam. Membuat Luna berhenti dan takut.


"Saya gak main - main, kalau masih mau tinggal disini kamu harus mulai sekarang harus cari cara untuk memenuhi kebutuhan kamu sendiri. Jangan juga menunjukkan wajah kamu di depan saya" Kata Edi pada Luna sebelum akhirnya ia kembali menarik paksa Yana keluar dari sana.

__ADS_1


Luna hanya bisa terpaku sambil menangis, Bi Narti yang disana pun langsung merangkul Luna.


"Luna takut Bi. Luna bingung ada apa, tapi kayanya Luna harus nurut dulu apa kata Ayah. Luna mau coba keluar sebentar cari pekerjaan, Ayah kan tadi bilang mulai besok Luna harus cari makan sendiri" Ucapnya.


"Non masih kecil, mau cari kerja apa? dimana?" Tanya Bi Narti.


Entahlah, Luna sendiri pun bingung sebenarnya. Tapi mengingat sorot mata Ayahnya tadi malam dan tadi siang. Luna sadar ini bukan masalah kecil. Luna sudah lumayan besar untuk memahami sebuah situasi. Yang bisa ia lakukan saat ini hanya menurut, mungkin dengan itu ia bisa dimaafkan yang entah atas kesalahan apa.


"Habis mau gimana lagi Bi? Luna bisa apa?"


Luna akhirnya keluar untuk mencari kira - kira pekerjaan apa yang bisa didapatkan dari remaja berusia 15 tahun seperti dirinya. Karena masalahnya hari ini, Luna tidak ingat atau tertarik sedikit pun untuk membaca buku di tepi danau taman bersama Juan seperti rutinitasnya selama 3 tahun ini.


JUAN


Sahabat laki - laki Luna itu kini tengah mengurung dirinya di kamar. Di depan pintunya masih terdengar suara seorang wanita bernama Nia yang tak lain adalah Mama Juan tengah menangis dan memohon pada dirinya untuk meminta Juan membukakan pintu.


Tok tok tok!!!


"Juann... Sayang Mama mohon buka pintunya. Jangan begini nak" Pinta Mamanya pada Juan, sesekali terselip suara isak tangis di sela kalimat sang Mama.


Mungkin sudah sekitar 20 menit Nia disana. Tapi Juan seolah tak perduli. Dengan wajah datarnya Juan hanya terduduk diam memandang ke satu arah di lantai kamarnya dengan bersandarkan kaki kasur miliknya disana.


"Juan... Mama tau ini berat buat kamu, Mama tau ini terlalu tiba - tiba. Tapi ada sesuatu yang harus kamu mengerti, sekarang Mama mohon kamu keluar dulu. Kita bicara baik - baik nak. Mama mohon" Pintar lagi Nia padanya.


Nia masih belum mendengar jawaban apapun dari Juan, kamar putra semata wayangnya itu terdengar sangat sunyi. Nia pun akhirnya terdiam dan semakin menangis di balik pintu kamar Juan.


Di dalam sana, Juan yang hanya memasang wajah tak berekspresi tiba-tiba meneteskan air dari mata kirinya. Lalu disusul mata kanannya.


.


.


.


Aduhh belum kelar masalah Luna, ini udah Juan juga punya masalah


Hmm kira - kira ada apa yaa sama Juan

__ADS_1


Kok bisa sampai meneteskan air mata gitu


Jangan lupa untuk selalu tinggalkan like dan komen di akhir bacaan ya. Karna dukungan kalian adalah semangat menulis aku. Terimakasih ☺


__ADS_2