Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 121


__ADS_3

Baik Luna maupun Yana beku dengan takut di tempatnya. Tak lama Luna jongkok dan meraih sendok tersebut.Setelah dirasa jantungnya mulai normal, Yana pun bertanya.


“Ayah yang apa-apaan” Kata Yana kesal.


“Malah Ayah lagi, kamu lupa kalau kakak kamu ini alergi coklat?” Balas Edi tak kalah kesal. Luna yang baru saja memungut sendok yang jatuh tadi kembali duduk bersama matanya manatap sang Ayah. Merasa tersanjung. Merasa diperhatikan. Merasa terharu. Yana yang mendengar jawaban Edi itu langsung menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangannya. Merutuki kebodohannya sendiri, bisa-bisanya ia lupa dengan hal penting seperti itu. Ini bukan pertama kalinya Yana lupa, tapi untunglah Luna yang selalu ingat.


“Maaf ya kak Yana bener-bener lupa, ya ampun lain kali Yana bakal lebih hati-hari lagi. Maaf yaa” Yana berujar penuh penyesalan.


“Iya-iya, lagian itu kuenya juga gak kelihatan coklatnya jadi kakak pikir gapapa. Udah santai aja, ayo makan lagi” Balasnya mengerti karena kue tersebut memang tidak terlihat seperti coklat, krim yang ada di atas permukaan kuenya saja berwarna hijau dengan aroma pandan yang sangat kuat. Tapi ternyata jika dipotong, bagian dalamnya adalah kue coklat.


“Kamu juga” Edi kali ini mengalihkan wajahnya ke arah Luna yang sedang merespon lewat dongakan kepala.


“Harusnya kamu lihat dulu dong apa yang mau Yana suapin. Kamu gak inget terakhir kali kamu makan coklat jadinya gimana?” Tambahnya dengan suara sedikit keras tapi tidak juga membentak. Bukan langsung menjawab, Luna malah terlihat tersenyum, membuat Edi sampai megerutkan dahi.


“Luna seneng Ayah ingat itu” Mendadak atmosfer disana terasa canggung lagi bagi Edi hingga tangannya terangkat mengusap tengkuk belakangnya dan kembali duduk melanjutkan makan siang.


“Kurang Bunda nih, iya kan kak” Yana berkata secara tiba-tiba sambil menyenggol tangan Luna.

__ADS_1


“Hah? I-iya” Jawabnya pelan karena merasa canggung.


“Ayah, ajak Bunda dong kesini” Edi hanya melirik malas. Ia lebih memilih menyuap makannnya lagi, tidak ingin menyahuti putrinya.


“Ihhhh Ayahh, ayo donggg” Desak Yana lagi dan kali ini sambil menarik-narik lengan sang Ayah.


“Ayahh” Edi masih saja terdiam, padahal tubuhnya sudah mengayun ke kiri dan kanan seiring gerakan menarik-narik Yana di lengannya.


“Ayah Ayah Ayah Ayah Ayah” Mulai kesal.


“Ihhh berisik tau nggak. Iya entar” Akhirnya Edi menjawab meski ketus.


“Hmm ma-maksudnya Lu-“


“Nanti, malam di hari kamu wisuda, setelah acara wisuda kita dinner malam nya” Edi menyerobot perkataan Luna yang terbata-bata itu dengan singkat dan dingin.


“Kan Yana bilangnya sekarang, kok malah malem si- ehh tunggu! Jadi maksudnya kita, ayah bakal dateng ke wisudanya kak Luna??” Tanya Yana antusias

__ADS_1


“Hmm” Kata Edi menjawab dengan eheman


“Yess!!” Yana kegirangan “Tapi sekarang ajak Bunda kesini dong yah buruan” Keluh Yana lagi


“Ya kelamaan lah mau nunggu Bunda kamu lagi kesini, Ayah kan harus balik lagi ke rumah sakit” Yana hanya merespon dengan mendengus sebal. Melihat ekspresi Yana, Edi kembali bersuara.


“Nanti kita makan di restoran kesukaan kamu sama Luna. Nanti Ayah yang reservasi dan kamu langsung nyusul aja sama Rey. Biar Luna pergi sama Ayah sama Bunda” Jelas Edi dengan masih focus pada makanannya tanpa menoleh sedikitpun pada Yana apalagi Luna. Luna disisni menahan mati-matian agar air matanya tidak jatuh. Sungguh kebahagiaan yang tiada tara yang dirasakannya saat ini. Sudah lama sekali dirinya tidak pergi satu mobil bersama kedua orang tuanya. Terlebih lagi dia akan kembali makan dalam satu meja dengan keluarga yang utuh.


“Bener yaa” Ucap Yana memastikan lagi. Karena momen ini bukan hanya Luna yang menantikannya, tapi Yana juga.


“Hmm” Edi hanya berdehem menjawab Yana.


“Yesss…. Yana jadi gak sabar nanti, iya kan kak?” Yana bersorak kegirangan. Sedangkan Luna hanya tersenyum kecil dan mengangguk mengiyakan.Edi bisa melihat itu dari lirikan matanya yang ia curi-curi. Suasana hening kembali setelahnya, ketiga orang tersebut masing-masing kembali fokus dengan makanan mereka.


“Hmm tapi kak, Yana masih bingung sampai sekarang. Waktu itu yang bikin kak Luna sampe masuk rumah sakit itu kan coklat ya? Kan itu jelas banget bentuknya coklat, tapi kenapa kak Luna tetep makan sih? Sampe habis lagi” Yana bertanya di tengah keheningan itu secara tiba-tiba lagi. Jujur ia sangat tidak habis pikir dengan kejadian itu. Luna terlihat gelagapan sendiri dicerca pertanyaan semacam itu. Tidak mungkin kan dia bilang kalu dia sedang dalam upaya bunuh diri. Mengingat itu saja ia sampai meringis dan merasa menjadi manusia yang paling bodoh. Sedang mencoba memutar otak untuk mencari jawaban yang paling logis dan masuk akal. Mata Luna bergelya kesana kemari. Saat matanya tak sengaja melihat ke arah Edi, ia malah semakin gugup mendapat Ayahnya itu juga sedang menatap intens padanya menunggu jawaban Luna juga. Lalu di tengah kegelisahannya, mata Luna tertuju pada sebuah meja di ruangan yang lebih khusus di restoran tersebut, namun masih bersekatkan kaca sehingga Luna bisa tau siapa yang ada di dalamnya.


“itu Dokter Rey bukan sih?” Tanya Luna menunjuk ke arah yang dimaksudnya dengan menyipitkan mata agar terlihat lebih jelas. Yana pun langsung menoleh ke samping, dan Edi sampai memutar badannya karena posisinya yang membelakangi arah telunjuk Luna.

__ADS_1


“Iya deh kayaknya, tapi itu sama siapa?”


__ADS_2