Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 23


__ADS_3

“Itu Ibu sama Bapak udah dating” Ucap Marni menunjuk ke arah garasi.


Mendengar itu, Juan langsung meletakkan telfonnya dan menuju ke garasi. Tapi ia melihat ada yang tidak beres pada raut wajah kedua orang tuanya.


Begitu melewati pintu masuk dari garasi, Papa Juan terlihat sedang memohon dan mengejar Mamanya, belum lagi mata Mama Juan yang sembab seperti habis menangis. Mereka kemudian terpaku begitu melihat Juan ada di depan mereka.


“Juan” Ucap pelan sang Mama.


“Ma.. Pa.. Kenapa? Ada masalah? Kok baru pulang jam segini? Mama sama Papa habis dari mana?” Juan bertanya secara beruntun. Mama dan Papanya disana hanya saling melempar tatap tak dapat bicara.


“Ma Pa” Panggil Juan lebih keras karna antara kedua orang tuanya hanya berdiri membisu di tempatnya.


Akhirnya sang Mama menarik nafas dalam dan dengan tegas bicara


“Juan ayo ikut Mama, kita ambil barang – barang kamu dulu” Kata Mama Juan yang bernama Nia. Lalu langsung menarik lengan putranya itu, tapi ditahan oleh Arif, Papa Juan.


“Tunggu, apa maksud kamu? Kamu mau bawa Juan?? Kemana???” Tanya Arif mulai panik.


Tapi Nia seakan tak ingin menanggapi Arif dan masih mencoba menarik Juan lagi. Arif masih menahan.


“Nia, aku mohon. Kita coba bicarakan lagi baik – baik” Arif memohon dan Nia masih tak peduli.


“Nia aku mohon”


“CUKUP MAS!” Bentak Nia. Tapi beberapa detik kemudian, wanita itu malah menangis tidak terkendali. Juan tertegun sebentar

__ADS_1


“Ma.. Kenapa? Pa ini ada apa sihh???” Juan mulai gelisah dengan percakapan tidak jelas antar kedua orang tuanya.


Arif tidak menjawab, ia hanya mencoba perlahan merangkul istrinya itu, tapi ditolak. Nia mencoba mengendalikan dirinya, menghapus air matanya dan Kembali menarik Juan.


Lagi – lagi Arif menahan.


“Lepas” Ucap Nia. Arif tidak memperdulikannya, tangannya masih menahan tangan Nia.


“Lepas” Ucap Nia lagi masih dengan nada yang sama.


“LEPAS!” Sekarang Nia Kembali mengeraskan suaranya. Percayalah, ini pertama kaliunya Nia bicara dengan suara keras, Juan dan Arif pun sebenarnya cukup terkejut.


Arif belum juga melepaskan tanga Nia, ia mulai terlihat menekuk kakinya dan berlutut di hadapan Nia.


Nia membuang wajahnya ke lain arah untuk menahan tangis.


Nia mencoba untuk tidak terpengaruh, ia pun melepas tangan Aruf dan menarik Juan. Arif tertunduk dalam tangisnya dengan posisi masih berlutut disana.


Di sisi lain, Bi Mar yang melihat hal tersebut pun hanya berdiri mematung dengan takut, bingung, sedih, gelisah. Ia tidak bisa melakukan apapun meski ia ingin melerai perkelahian suami istri itu. Tapi di sisi lain ia merasa tidak berhak juga untuk ikut campur.


Di kamar Juan, Nia menurunkan koper dari atas lemari, membukanya, lalu mengambil dan memasukkan baju – baju Juan dengan sembarang ke dalam koper.


“Ma ini ada apa, kenapa Mama masukin baju Juan ke koper, kita mau kemana? Maa?” Nia tidak menjawab Juan dan masih melanjutkan kegiatannya. Setelah koper terisi penuh. Nia mendongak dan menangkup kedua pipi putranya yang kini sudah lebih tinggi darinya.


“Kamu tunggu disini dulu, jangan kemana – mana sampai Mama datang lagi, Mama mau ambil barang – barang Mama dulu. Ya” Pinta Nia pada Juan. Wanita itu terlihat hancur dari matanya. Juan tidak mengangguk ataupun menggeleng, keningnya hanya mengerut menunjukkan kebingungan pada apa yang terjadi saat ini.

__ADS_1


Nia sudah akan pergi dan menjauhkan kedua tangannya dari pipi Juan, namun putranya itu menahan tangan sang Mama. Menatapnya lekat seolah menanti sebuah penjelasan. Nia pun balas menatap Juan. Ibu jarinya tergerak mengelus halus pipi putra semata wayang nya tersebut.


“Juan… Ada sesuatu yang terjadi, yang kamu juga harus mengerti. Tapi Mama akan jelaskan nanti ya. Soal pertanyaan kamu kita mau kemana, kita akan ke Bandung malam ini juga, ke rumah orang tua Mama” Nia berujar dengan suara bergetar.


“Kenapa?” Juan bertanya singkat dengan hati yang berat.


“Mama akan jelaskan nanti disana ya” Pinta halus sang Mama.


“Kenapa?” Juan Kembali menanyakan hal yang sama. Membuat Nia tidak tahan untuk menangis Kembali. Ia pun berbalik, merunduk, dan menangis.


Juan hanya di tempatnya memandang punggung Nia dari belakang. Juan sekarang mulai merasa sedih untuk sesuatu yang tidak ia tau alasannya. Pikirannya menerka ke hal terburuk pada orang tuanya. Tapi ia mencoba menepis itu dan berharap semuanya akan baik – baik saja.


Nia menarik nafasnya dalam – dalam, menghapus sisa – sisa air mata di pipinya kemudian melangkah keluar dengan cepat menuju ke kamarnya, mengambil baju – bajunya dan memasukkannya ke koper secara sembarang juga. Setelah penuh ia pun sudah siap akan keluar dan ke kamar Juan lagi. Tapi begitu ia berbalik, ternyata Arif sudah disana.


Arif menahan koper yang di pegang Nia.


“Kalaupun ada yang harus pergi, berarti itu aku. Aku akan pulang ke Bandung. Sekali lagi maafkan aku” Ucap Arief dengan wajah yang mencoba tegar, tapi hatinya sebenarnya hancur juga saat ini. Koper itu ia ambil dari Nia yang masih membeku menatap Arief dengan wajah menahan tangisnya. Tak disangka, Nia tak menolak, tangannya lemah tak ada penolakan saat kopernya di ambil Arief.


Arief lalu berjalan menuju lemari, membenahi pakaian Nia Kembali ke dalam lemari dan mengganti isi koper dengan pakaiannya sendiri.


“Jaga diri kamu baik – baik. Maaf untuk semua luka yang sudah aku beri. Tapi kali ini aku memang jujur Nia. Tapi caraku pun tetap salah, dan itupun hasil dari kesalahanku juga dulu. Maaf” Ulangnya lagi.


Hahhhh…. Edi menghela nafas yang terasa sangat berat baginya kali ini.


“Aku sayang kamu”

__ADS_1


Dan itu menjadi kalimat terakhir Arief sebelum pergi. Sekaligus kalimat terakhir yang ia ucapkan sampai akhirnya mereka benar – benar berpisah dengan Nia, istri yang mendampingi nya selama kurang lebih selama 18 tahun.


Nia terduduk di lantai dengan memeluk kedua lututnya begitu Arief menutup pintu kamar mereka dari luar.


__ADS_2