Hati Lunara

Hati Lunara
Bab 77


__ADS_3

Cinta itu anugerah. Jika aku tidak bisa mencintaimu sebagai pendamping hidupku, maka aku akan mencintaimu sebagai adikku.


.


.


.


Luna masih terisak. Semua ini sulit ia terima. Juan.... Apalagi keluarganya. Tidak pernah terlintas dipikirannya bahwa ia bukanlah putri seorang Edi Ustman. Tidak peduli seberapa besar luka yang pria itu tanamkan di hatinya. Namun Edi tetaplah seorang Ayah yang ia banggakn juga ia sayangi.


Juan sudah menceritakan semuanya. Semuanya.. Ia menceritakan sedetail mungkin apa yang sudah Arief sampaikan padanya waktu itu. Setelah tak sengaja ia menemukan foto kecil berisi Ayahnya yang masih muda bersama seorang gadis. Tentu Juan mengenalnya, gadis itu Lia. Yang ia ketahui Bunda Luna, karena fisik Lia yang tidak banyak berubah sejak muda hingga sekarang. Seketika Juan memanas, ia mendesak sang Ayah untuk bercerita. Membuat Arief akhirnya jujur. Dapat Juan lihat dengan jelas penyesalan dari setiap kata yang Arief sampaikan. Dan sekarang akhirnya, Juan sampai juga pada titik dimana ia dan Luna akan bertemu kembali dengan status yang baru ia ketahui. Adik dan kakak.


"Aku akan pergi. Aku akan lanjut kuliah di luar negeri"


Ucap Juan. Isak tangis Luna berhenti dan langsung mengangkat kepalanya.


"Kenapa?"


Tanya Luna. Juan menoleh, menatap mata adiknya dalam. Astaga! Adik? Ini adiknya? Salahkah jika Juan masih berharap ini hanya mimpi? Kekasihnya... Adalah adiknya? Ia marah, benci dan tidak terima. Tapi takdir ini di luar kendalinya.


"Aku gak bisa terus ada di dekat kamu. Ini salah. Gak benar, dengan adanya jarak mungkin perasaan itu akan memudar"


Juan lalu menunduk.


"Semoga"


Tambahnya dengan gumaman pelan.


"Aku rasa bukan jarak"


Juan sudah kembali menoleh mendengar suara Luna barusan.


"Hanya raga kita yang akan jauh. Bukan perasaan. Perasaan itu gak terpengaruh dengan jarak, aku yakin kamu juga tau itu. Mau kita masing-masing di ujung dunia sekalipun"


Air mata Luna kembali menetes.


"Justru kita mungkin akan semakin terbunuh oleh perasaan kita sendiri. Terus berpikir bahwa pengasingan diri kita sekarang akan menyembuhkan semua, tapi justru pikiran itu membuat kita semakin ingat dan perasaan itu semakin kuat. Biarkan semuanya mengalir. Obat paling tepat saat ini adalah waktu"


Jelas Luna. Di sampingnya Juan hanya terdiam. Ia mencerna setiap kata yang Luna ucapkan.


"Mau ketemu Ayah sebentar?"


Tanya Juan. Luna tampak bingung. Ayah? Kata itu hanya ia tujukan pada Edi. Bahkan sampai sekarang.

__ADS_1


"Sebentar aja. Sejak dulu Ayah hanya ingin melihat kamu dari jarak dekat. Sekali aja"


Luna menggigit bibir bawahnya. Ia tidak tau apa yang diinginkannya sekarang. Semua terlihat abu-abu, bingung, sedih, marah. Semuanya ingin saling mendominasi dalam diri Luna. Ia pun memejamkan mata seraya kepalanya menggeleng.


"Gak sekarang. Aku butuh waktu"


Juan menghela nafas.


"Ayah sakit Lun. Jantungnya-"


"Aku mau sendiri dulu. Aku udah ketemu kamu sekarang, aku udah lega"


Luna dengan cepat memotong ucapan Juan. Pria itu pun terdiam, tidak berniat menyahut lagi. Benar. Luna butuh waktu, sama seperti pertama kali ia mengetahui semua ini pun dia juga membutuhkan waktu untuk sendiri.


"Aku antar kamu pulang aja"


Tawar Juan.


"Nggak. Aku mau sendiri dulu. Disini"


Luna berujar dengan mata penuh harap. Juan pun menatap mata itu sebentar. Lalu tangannya perlahan tergerak menangkup sebelah pipi Luna. Gadis itu kembali lemah, ia memegang tangan Juan balik tanpa menggesernya dari pipinya. Air matanya mengalir mengenai kedua tangan mereka.


Tidak lama. Luna pun lalu menurunkan tangan Juan dari pipinya dan mengangguk mengisyaratkan pada Juan jika tidak apa-apa dirinya sendiri disini.


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam"


Suara Luna pun sudah terdengar serak. Juan perlahan menjauh.


"Luna"


Ia tiba-tiba memanggil sesudah berbalik. Luna tidak menoleh, tapi Juan tau ia sedang mendengarkannya.


"Cinta itu anugerah. Jika aku tidak bisa mencintaimu sebagai pendamping hidupku, maka aku akan mencintaimu sebagai adikku"


Luna masih tidak menoleh. Tapi disana ia sudah kembali menangis mendengarnya.


* * *


Juan duduk dengan kepala tertunduk lesu di bawah teriknya matahari. Entah sudah berapa lama ia disana. Sejak dari danau tadi ia kembali ke apartemen, tidak benar-benar kembali masuk. Melainkan tertahan di bangku taman area apartemen hingga siang hari begini.


Kemudian ia merasa sengatan matahari yang menusuk kulitnya mulai hilang. Tidak! Bukan hari yang mulai meredup, matanya menangkap ada sebuah benda yang menutupinya saja. Ia pun mendongak dan melihat ada sebuah jaket pink yang di rentangkan sepanjang kepalanya.

__ADS_1


"Ngapain loe disini. Gue suruh loe sama Dira nemein Luna, bukan gue"


Ujar Juan secara ketus.


"Ck, gue dari sana"


Sahut suara seorang gadis dengan nada kesal. Dari kalimat Juan sebelumnya sudah dipastikan jika gadis itu adalah Vani.


"Gue sama Dira niatnya mau ajak dia pulang. Tapi begitu sampai, kita ngerasa Luna memang butuh waktu sendiri. Akhirnya kita tetap di mobil, nemenin dia dari jauh. Dia udah pulang kok. Baru setelah itu gue sama Dira juga ikutan pulang"


Vani menjelaskan dengan nada lembut dan iba. Tidak seperti biasa dirinya yang bicara heboh serta blak-blakkan. Juan menghela nafasnya dan melirik jaket yang masih Vani bentangkan ke atas kepalanya.


"Terus ngapain loe disini"


Ucap Juan lagi dengan lebih ketus. Vani langsung memutar kepalanya kesal ke arah pria ini. Tangannya yang sejak tadi melindungi Juan dari sengatan matahari pun ia tarik, membuat Juan langsung menyipit menghalau silau.


"Emang dasarr loe yaa. Gue udah baik nutupin kepala loe panas-panasan gini ter-"


"Ya gue gak minta. Ngapain juga loe gitu"


Juan menyerobot ucapan Vani. Membuat gadis itu semakin menggeram. Selanjutnya gadis itu melempar jaket di tangannya ke arah wajah Juan kemudian menghentakkan kakinya menjauh dari sana. Karena kaget dan mencoba mengelak, Juan mendorong tubuhnya ke belakang. Ternyata bangku taman yang ia duduki tersebut sudah tua dan tidak tertanam dengan baik di lantai semen disana. Membuat Juan terjatuh bersama bangku itu dengan posisi terjengkang. Ia masih terlihat duduk di bangku tersebut namun bedanya dalam keadaan berbaring. Kepelanya pun masih tertutup jaket. Kaki dan tangannya kelabakan mencoba berdiri. Seperti seekor kumbang yang terbalik.


.


.


.


Yaa gitulaa kaloo udah sama Vani. Gak ada tentram-tentramnyaa


Tapi naikinn mood kann wkwk


Kasihan deh Juan sama Lunaa huhu


Oo iyaa guysss


Ya Ampunnn udah 4 hari gak updatee


Maaffffffffffff banget 😭😭😭


Aku lagi banyakk banget tugasss


Oke dehhh moga kalian gak minggat yaa dari cerita aku hehe

__ADS_1


Nah sekarang aku udah updatee jangan lupa like, komen, vote dengan poin, dan rating bintang 5 nyaa yaa setelah membaca


Makasihh 😘😘😘


__ADS_2