Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 10


__ADS_3

Keadaan UGD saat ini sepi sekali. Luna bersama pemuda tadi duduk di ruang tunggu dengan dibatasi 2 bangku yang masih kosong. Saling terdiam.


Dimana posisi Luna yang duduk sambil memandang sekitar, sedangkan pemuda itu menunduk lesu. Sepertinya ia sedang berdoa demi keselamatan dan kesehatan sang ibu yang sedang ditangani dokter termasuk Edi, Ayahnya Luna di dalam ruang UGD sana.


Setelah beberapa saat, terdengar bunyi decitan yang dihasilkan dari lantai ubin dan pintu kaca UGD rumah sakit yang bergesekan, lantas membuat kepala pemuda tersebut terangkat dan mendongak memastikan. Dan benar saja, Edi yang keluar dari pintu kaca itu.


“Gimana Pak?” Tanyanya segera.


“Alhamdulillah, Ibu kamu kondisinya sudah stabil. Tapi harus dirawat dulu disini ya, dan sekarang udah boleh dipindah ke ruang rawat inap” Kata Edi menjelaskan.


Alhamdulillah… rasa syukur kini menyesaki seluruh ruang hati pemuda tadi.


***


Tampak langkah pemuda tersebut berjalan pelan menuju bagian administrasi.


“Hmmm maaf sus, emm saya mau mengurus administrasi pasien atas nama Ibu Jihan Pratiwi”


“Oh iya sebentar ya mas” Sigap dan ramah suster itu menjawab.


“Ini tagihan atas nama Ibu Jihan Pratiwi ya mas” Lanjut suster tersebut sambil menyerahkan selembar kertas berisi tagihan biaya perawatan. Tidak bisa disembunyikam bahwa wajah pemuda tersebut lesu kebingungan. Tak lama, selembar kertas di tangan kanannya dirampas halus dari samping.


“Biar saya yang urus sus, nanti setiap tagihan atas nama pasien tersebut bisa dikirim ke saya aja. Dan pindahkan juga pasiennya ke ruang kelas 1 ya” Itu suara Dokter Edi yang tiba – tiba datang bersama putrinya Luna di sampingnya.


“T-Tapi Pak-“


“Ssttt, udah gapapa, kamu harus terus berdo’a untuk kesembuhan Ibu kamu”


Pemuda tersebut tertegun untuk beberapa saat. Sedih dan terharu akan kebaikan orang yang bahkan tidak ia kenal sama sekali di hadapannya ini. tak terasa air matanya pun menetes.


“Terima kasih… Terima kasih banyak.. Terima kasih” katanya berkali-kali. Dua suku kata yang berulang kali ia ucapkan itu mengandung makna yang begitu besar dari dirinya. Ungkapan yang akan terus ia ingat dan tujukan pada orang di depannya sekarang.


“Sama – sama. Oh iya, sampai sekarang kita belum kenalan. Perkenalkan saya Edi Ustman”. Belum juga pemuda itu menjawab Edi sudah bersuara lagi “Dan ini putri sulung saya, Lunara Ustman, panggil aja Luna” Kata Edi memperkenalkan dirinya dan Luna sambil mengulurkan tangan kanannya.


Pemuda itu menoleh ke gadis yang di perkenalkan Edi di sampingnya dan tersenyum tipis, kemudian menoleh lagi ke Edi sambil menyambut uluran tangan Edi.


“Reyhan Abyasa”


Ternyata inilah pertemuan pertama Reyhan dan Luna.


(Iyaa.. Reyhan.. pelanggan tetap di coffee shop tempat Luna bekerja. Ternyata udah kenal lama ya. Okee karna udah tau namanya, jadi kita panggil pemuda tadi Reyhan aja yaa.. Yuk back to flashback


Reyhan Abyasa, pemuda berusia 20 tahun). Di usianya saat ini mungkin seharushnya dia berstatus sebagai seorang mahasiswa. Namun sayang, karena keterbatasan ekonomi ia hanyalah lulusan SMA yang bekerja semerawutan. Apapun ia kerjakan, asal halal. Apalagi kondisi Ibunya yang memiliki lemah jantung, Reyhan terpaksa mengubur dalam – dalam cita – cita dan harapannya untuk menjadi seorang Dokter. Ia sebenarnya adalah seorang murid yang cerdas, ia juga sebenarnya mendapat beasiswa. Tapi sekali lagi, jika ia kuliah, ia akan sulit untuk bekerja dan mengobati sang Ibu. Sejak Ayahnya meninggal saat dirinya masih duduk di kelas 2 SMA, secara perlahan kondisi keuangan keluarganya memburuk. Tanggung jawab sang Ayah pun mendadak harus ia ambil alih.


Ibu Reyhan sudah seminggu di rawat. Perkembangannya juga sangat lambat, dan disana Reyhan masih setia merawat sang Ibu. Reyhan sendiri pun semakin dekat dengan Edi. Entah kenapa Reyhan ini sangat menarik perhatian Edi. Kedekatan itu pun sedikit demi sedikit Edi pun mengetahui jatuh bangun perjalan hidup Reyhan. Sungguh sesosok anak muda yang luar biasa di matanya.

__ADS_1


“Kamu masih mau kuliah?” Tanya Edi setelah memeriksa kondisi Ibu Reyhan masih lemah.


“Kalo kondisinya beda ya pasti mau Om. Tapi saat ini gak ada yang paling Rey inginkan selain kesembuhan Ibu” Jawabnya


Edi mengangguk pelan


“Kalau gitu saya per-“


Tok tok tok!!


Baru saja Edi akan pamit dari sana, tiba - tiba ada bunyi ketukan pintu dari luar dan disusul pergerakan pintu yang terbuka.


“Permisi. Assalamu’alaikum”


Edi dan Reyhan pun spontan menjawab


Wa’alaikumsalam..


“Luna, kamu kemana aja sih, baru ditinggal ke toilet bentar udah ngilang dari ruangan Ayah” Kata Edi begitu mengetahui yang masuk adalah Luna.


“Hehe tadi Luna liat ada anak kucing di taman dari jendela. Jadi Luna nyusul kucingnya deh. Hmm masih lama gak pulangnya Yah? Teman – teman Luna hari ini mau kerumah, ada kerja kelompok”


“Iya, ini udah kok. Kamu tunggu disini aja lah, Ayah cuma tinggal ambil tas aja , biar kamu gak bolak – balik nanti harus ke atas lagi. Ya?” Lalu Luna pun mengangguk mengiyakan Edi.


“Iya Om” Kat Rey menanggapi dengan cepat.


Setelah Edi keluar dari sana. Rey mempersilahkan Luna duduk dulu sambil menunggu.


“Kamu kelas berapa sekarang?” Tanya Rey mencoba mencari topik.


“Hmm kelas 2 SMP kak” Jawab Luna malu – malu.


Uhuk – uhuk


Terdengar suara batuk dari arah tempat tidur pasien. Tentu itu suara Ibu Reyhan alias Jihan yang terbatuk dalam tidurnya hingga membuat ia terbangun. Luna yang sedang duduk di kursi tunggu penjaga pasien dan kebetulan tidak jauh dari Jihan pun spontan mengambilkan dan menyuapi Jihan segelas air putih yang tersedia di nakas samping ranjang rumah sakit.


“Makasih Luna” Ucap Jihan dengan suara lemah.


“Iya, sama – sama Bu” Jawab Luna dengan lembut.


“Hmm.. Gimana keadaan Ibu sekarang?” Tanya Luna.


Jihan tersenyum dan menjawab.


“Alhamdulillah udah lebih baik”

__ADS_1


“Alhamdulillah, semoga penyakit Ibu cepat sembuh ya” Ucap Luna mendo’akan.


“Aamiiinnn, makasih sayang”


Mata Luna kemudian melirik gumpalan benang warna – warni di ranjang samping Jihan berbaring. Jihan mengikuti arah mata Luna dan berkata.


“Ini Ibu lagi nyulam sapu tangan, biasa kalau bosen Ibu bikin ginian, kamu mau liat?” Ucap Jihan. Dengan semangat Luna menjawab


“Mau mau Bu” disertai anggukan cepat.


JIhan kemudian mengambil sapu tangannya dan menunjukkannya pada Luna. Tampak sehelai sapu tangan putih yang ditengahnya terdapat sulaman pohon sakura yang belum selesai, tapi sudah sangat indah dan membuat Luna takjub.


“Wahh cantik bangett… Ibu hebat banget. Boleh gak Luna minta ajarin sulam juga?” Tanyanya masih sambil memandangi sapu tangan tersebut.


“Boleh dongg”


Mendengar itu, Luna langsung mendongak senang.


“Wahh makasih ya Bu. Kalau gitu nanti pas Ibu udah baikan Luna minta ajarin ya Bu”


“Besok juga gapapa disini” Kata Jihan.


“Tapi kan Ibu lagi sakit”


“Gak kok, lagian kalo ngerjain ini Ibu seneng, gak bosen. Kalo seneng nanti kan bisa cepat sehat, iya kan? Kalo kamu mau, kapan aja boleh kok kesini, nanti Ibu ajarin”


Ceklek!


Pintu terbuka. Tampak Edi masuk dan menggandeng tasnya.


“Yuk Luna kita pulang” Ajaknya.


“Bu Luna pamit dulu ya” Luna pun mencium tangan Jihan. Kemudian berpamitan pada Reyhan dan Edi pun begitu. Mereka pamit dan tak lupa juga saling mengucapkan dan membalas salam.


.


.


.


Wahh ternyata benerr kann Rey itu seseorang di masa lalu Luna.


Nantikan teruss guyss episode - episode berikutnya, makin seru lohh cerita Rey ini


Jangan lupa untuk selalu tinggalkan like dan komen di akhir bacaan ya. Karna dukungan kalian adalah semangat menulis aku. Terimakasih ☺

__ADS_1


__ADS_2