
Perlahan ia berbalik dan…. Gak jadi. Luna terlalu takut untuk berbalik. Hawa dingin seketika menyingkap seluruh tubuh Luna, ia ingin berbalik namun keberaniannya tidak sepenuh itu, dia berpikir sepertinya lari lebih baik. Tanpa aba – aba dan tanpa ragu – ragu Luna pun mendorong kedua kakinya untuk lari secepat mungkin
“Luna!!” Luna pun berhenti mendengar suara meneriakinya
Ehh? Kok penjahatnya tau nama gue?
Luna pun berbalik masih dengan perasaan was – was nya. Ia langsung bernafas lega begitu tau si pemilik suara tadi. Orang itu pun tampak mendekat untuk menghampiri nya
“Kok dokter Rey bisa disini sih?” Tanya Luna dengan nafas yang sedikt terengah pada orang yang ternyata adalah Rey itu
“Harusnya saya yang tanya kamu kenapa ada disini? Malem malem begini?” mata Rey lalu melirik koper yang di pegang tangan kanan Luna
“Ini kenapa pake bawa koper juga?” Lanjutnya kemudian, lalu melihat Luna yang kebingungan menjawab membuat Rey mencoba mengerti bahwa Luna sepertinya keluar dari rumahnya, entah kabur atau diusir
“Eh saya.. saya-“
“Biar saya antar, kamu mau kemana?” Kata Rey memotong keraguan kalimat Luna. Sedangkan yang ditanya malah mendongak bingung tidak menjawab
“Kamu gak ada pilihan lain, saya akan tetap antar kamu , ini udah malam” Luna lalu menunduk mendengarnya, tanpa menunggu jawaban atau persetujuan Luna, Rey kemudian dengan sigap mengambil alih koper di genggaman gadis itu, Luna masih tertunduk hanya mengikuti langkah Rey dari belakang
Tidak ada percakapan yang berarti selama perjalanan mereka, baik Rey maupun Luna hanya banyak diam selama perjalanan.
---
__ADS_1
Begitu sampai di sebuah area apartemen di tengah kota, Luna melihat ke arah dua orang yang tidak asing di matanya sedang bolak – balik cemas di dekat semen pembatas taman apartemen tersebut, mereka adalah Vani dan Dira yang sedang mencemaskan keberadaan Luna yang belum kunjung datang juga padahal hari sudah sangat larut malam
Rey dan Luna kemudian turun dari mobil dan berjalan bersama mendekat pada posisi Vani dan Dira dengan Rey yang masih membawa koper Luna di tangannya. Menyadari ada yang datang, spontan Vani dan Dira menoleh, melihat siapa yang datang, lelah dan kantuk Vani rasanya sirna seketika serta senyumnya langsung mekar seperti bunga
“Ya Allah Dokter Rey. Serindu itu ya sama saya sampai modus nganterin Luna gitu demi ketemu saya” Ungkap Vani begitu percaya diri menyambut kedatangan Rey dan Luna
Pletak! Dira menjitak kening Vani
“Woii!” teriak Vani meringis kesakitan dengan se bar – bar bar – bar nya, tapi begitu mengingat sedang ada Rey di depannya, ia redam kemarahan nya
“Ihh apaan sih Dira sakit tau” Keluh Vani dengan suara lembut yang di buat – buat
“Maaf ya gue jadi ngerepotin malem – malem gini, ke dokter Rey juga” Ungkap Luna pada Vani dan Dira kemudian beralih pada Rey juga.
“Bener banget, kit aitu kan keluarga Lun, awas kalo gue denger lo bilang maaf lagi” Timpal Dira. Luna tersenyum haru melihat perhatian kedua sahabat yang selalu ada untuk nya itu
“Saya juga gak merasa di repotkan sama sekali. Jangan sungkan untuk minta bantuan ke saya. InsyaAllah saya akan bantu sebisa saya” Tutur Rey begitu tulus
“Hmmm… so sweet banget sih, makasih ya dok, saya jadi terharu” Kata Vani sambil menyeka bawah mata nya meski tak ada air mata di sana
“Bukan elo!” Tukas Dira yang dibalas jelingan mata Vani
“Sekali lagi terima kasih banyak dok” Rey mengangguk pelan mengiyakan Luna
__ADS_1
“Kalau begitu saya permisi pulang dulu” Pamit Rey kemudian
“Iya makasih juga yad ok udah nganterin Luna” Kata Dira ikut berterima kasih dan menjawab pamitan dari Rey
“Sebentar dok” Tahan Luna yang membuat Rey Kembali berbalik ke arah mereka begitu pun Luna yang berjalan mendekat pada Rey juga
“Mengenai tadi siang, saya mohon bantuannya untuk ikut lomba itu dan konsultasi ke teman dokter juga kalau boleh. Barangkali bisa membantu saya untuk menjadi seorang penulis juga” Ungkap Luna dengan yakin. Rey tampak sedikit kaget dan juga senang
“ Jadi kamu sudah memutuskan” Kata Rey dengan tersenyum senang
“InsyaAllah.. sepertinya itu yang paling tepat yang bisa saya lakukan di kondisi dan situasi saya sekarang” Jelas Luna, mendengar itu, Rey mengangguk setuju
“Saya akan hubungi kamu lagi kalau begitu, saya permisi Assalamu’alaikum” Ucap Rey dan dijawab oleh ketiga gadis di depannya itu secara serentak
---
Hening
Hening
Hening
Keheningan kini mengisi apartemen Vani malam ini setelah ketiganya menangis haru mendengar luapan hati Luna yang sudah ia pendam selama ini
__ADS_1
“Sekarang tidur Lun, istirahat… Ini saatnya loe bangkit dari keterpurukan loe selama ini, gue bukannya larang loe untuk berhubungan sama keluarga loe lagi, tapi untuk sementara loe istirahatin pikiran loe dulu tentang itu, setelah loe lebih baik.. lebih tenang.. kita juga pasti akan bantu loe cari tau apa yang terjadi sebenarnya” Dira berbicara dengan lembut, Luna pun mengangguk setuju menuruti dan masuk ke kamar di sebelah kamar Vani, apartemen itu memang memiliki dua kamar yang berdampingan, sedangkan Dira tidur bersama Vani di kamar sebelahnya lagi, kamar yang memang dipakai Vani untuk beristirahat agar Luna lebih nyaman