Hati Lunara

Hati Lunara
Bab 30


__ADS_3

"Kita malahan bakal jadi pusat perhatian karena penampilan konyol loe ini"


Gerutu seorang gadis yang tengah memandang kesal pada sahabat disampingnya, Vani


"Loe yang konyol. Ini itu namanya atribut dalam penyelidikan "


Sahutnya begitu percaya diri dengan setelan jas hitam yang atasannya selutut. Lebih seperti jas musim dingin. Ditambah lagi sepatu boots hitammnya lengkap dengan topi fedora warna senada.


Sudah banyak... Tidak. Bahkan semua orang yang melintas memandang heran pada mereka. Vani benar-benar mengacaukan situasi dan konsentrasi Dira dengan tujuan utana mereka kesini.


Ngomong-ngomong, saat ini mereka berdua sedang berada di balik pohon besar yang tak jauh dari dari area parkiran kawasan apartemen. Siapa lagi jika bukan apartemen Juan. Seorang lelaki yang sedang mereka selidiki begitu mendapat telepon dari Luna.


Flashback On


"Assalamu'alaikum"


Vani menjawab telpon dengan intonasi yang di buat menghayati mungkin dalam pengucapan salamnya.


"Wa'alaikumsalam.. Hmm Van... Gue ketemu Juan tadi di rumah sakit waktu nemenin Yana cek kandungan. Tapi sikap dia kayak gak kenal gue gitu. Gue jadi bingung.. Gue cuma mau tanya. Sebelumnya loe tau gak kabar tentang dia udah pulang kesini atau ada ngomong gitu sama dia?"


Tutt Tutt Tutt


Menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Luna kemudian menyerngit heran memandang layar yang sambungan teleponnya sudah mati. Luna pun mencoba menelpon lagi sekali tapi tidak di angkat.


Mungkin sahabatnya itu sedang sibuk. Begitu pikirnya. Luna tak bermaksud sengaja menanyakan masalah seperti ini pada Vani, tapi memang hanya Vani ataupun Dira yang bisa mereka tanyai. Mengingat Luna bukan tipe wanita yang suka curhat.


Sementara Vani...


Begitu mendapat telepon dari Luna, ia bergegas pergi. Tujuannya tak lain menuju salah satu hunian sahabatnya yang satu lagi yaitu apartemen Dira yang sebenarnya hanya berbeda lantai dengan dirinya. Apartemen Dira berada di lantai 3 dan Vani di lantai 1.


Tring


Dira menoleh dan menghentikan kegiatannya sejenak dari merapikan lemarinya. Mumpung ini hari minggu, begitu menurut Dira.


Sudah di depan nakas samping tempat tidurnya. Dira raih ponsel berwarna silvernya itu. Langsung tampak di layarnya nama "Valak". Nama yang ia sematkan untuk Vani di ponselnya.


"Gue ke apartemen loe"


Begitu yang tertulis dari pesan Vani.


Dengan malas ia mengetik bermaksud menolak rencana kedatangan sahabatnya yang menyebalkan itu sambil berjalan keluar kamar.


Ceklek


"Astaghfirullah!!!"


Teriak Dira kaget melihat sosok gadis mematung di hadapannya tepat setelah ia membuka pintu yang sekarang dengan songongnya masuk dan langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang Dira yang baru saja dirapikan.


"Ehh kampret loe. Datang gak bilang-bilang"


"Kan gue udah bilang"

__ADS_1


Sahut Vani santai.


"Izin yang bener tuh tunggu gue iyain baru loe kesini"


Tambah Dira lagi masih kesal.


"Lahh... kan gue ngomongnya bilang bukan izin"


Jawabnya sambil bangkit dari baringnya dan kini duduk bersila di atas kasur.


"Ya tapi... "


"Sstttt"


Vani memotong perkataan Dira yang terlihat sedang berapi-api itu dengan jarinya ia posisikan di depan bibirnya mengisyaratkan huruf "u" bermaksud menyuruh Dira diam.


"Apapun yang bakal lo bilang gak akan lebih penting dari yang mau gue sampein. Tadi Luna telpon gue"


Kata Vani kemudian.


Dira yang mulanya kesal mendadak mendekat cepat dengan khawatir.


"Luna kenapa? sakit lagi atau gimana?"


Tanyanya cepat.


Mengangguk pelan. Vani kemudian perlahan mengelus lehernya. Kening Dira mengerut tak mengerti.


Keluh Vani yang begitu menyebalkan untuk di dengar.


Memundurkan tubuhnya yang tadi sudah condong ke depan saking ingin tahunya. Dira meraih bantal di sampingnya dan mendaratkannya tepat memukul wajah Vani.


"Gue serius. Cepetan dong"


Vani bangkit dengan mendesis dan mendelikkan matanya kesal pada Dira dan melangkah keluar mengambil minum sendiri.


Setelahnya, Vani pun kembali ke kamar dan menceritakan apa yang disampaikan Luna tadi.


Sedikit terkejut. Dira kemudian bertanya.


"Terus loe jawab apa? Loe kasih tahu yang waktu kita ketemu Juan deket resto waktu itu? "


Vani menggelengkan kepalanya di susul dengan jawaban


"Langsung gue matiin dan gue kabur kesini"


Katanya datar.


"Dih sinting nih cewek. Planga plongo dong disana Luna loe ngilang gitu aja"


Tukas Dira semakin kesal.

__ADS_1


"Abis gue gak tau mau ngomong apa. Ehh intilin yuk"


Kata Vani semangat.


"Siapa"


Tanya Dira tidak mengerti.


"Ya Juan, masa Pak Bagas"


Sedikit informasi, Pak Bagas itu dosen baru yang di taksir Vani seperti yang diceritakan Dira ke Luna saat di rumah sakit pada episode 17.


"Itu sih maunya elo"


Flashback On


"Gue pikir loe tuh udah ada rencana, nyatanya kita kayak orang **** disini"


Ucap Dira lesu setelah berakhir berdiru di bawah teriknya matahari tanpa berbuat apapun di balik pohon besar ini, ia tak habis pikir kenapa ia mau saja ikut dengan rencana Vani yang sudah dipastikan tidak akan ada hasilnya. Dilihat dari sudut manapun Vani saat ini sungguh tidak terlihat layaknya mahasiswi kedokteran.


"Mau ngapain sih?"


Tercekat disana. Baik Vani dan Dira melotot setelah berbalik memastikan sumber suata dari belakang mereka.


Suasana seketika canggung dan membuat dua gadis ini gelagapan.


Juan. Pria yang menjadi alasan berdirinya mereka saat ini justru sekarang sedang menangkap basah mereka dan memandang tajam dari matanya.


"Gue tanya ngapain"


Kata Juan lagi menyadari kedua wanita di depannya tak juga bersuara.


Mulai tak sabaran. Dira mendongak dan mendekat.


"Gue yang nanya loe tuh ngapain. Gak biasanya sikap loe gini apalagi ke Luna"


Katanya dengan sewot.


"Bukan urusan kalian deh kayanya. Jadi gak usah ikut campur urusan gue"


Jawab Juan dengan intonasi yang lebih dipertegas.


Ehh? Tidak salah dengarkah? Vani membatin.


"Kok loe pulang-pulang jadi nyolot gini sih Juan"


Tambah Vani mulai terpancing emosi oleh perkataan Juan tadi.


"Gue peringatkan sekali lagi. Jangan ikut campur "


Ucap Juan dengan menekankan kalimat terakhirnya kemudian berjalan cepat menuju parkiran dan melaju entah kemana dengan motornya.

__ADS_1


Tak hanya Luna. Tapi Vani dan Dira pun merasakan perubahan drastis sikap Juan. Saling memandang heran Vani dan Dira akhirnya memutuskan pulang


__ADS_2