Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 123


__ADS_3

“Iya deh kayaknya, tapi itu sama siapa?” Kata Luna lagi. Belum ada semenit menoleh, tiba-tiba ponsel Edi bordering. Mereka bertiga pun sontak menoleh ke arah ponsel yang ada di meja tersebut.


“Hallo” Ucap Edi mengangkat teleponnya. Tampak oleh Luna dan Yana raut wajah Ayah mereka yang sedang mendengarkan dengan seksama.


“Iya, saya segera kembali ke Rumah Sakit” Ucap Edi di akhir panggilan. Setelah memastikan ponsel miliknya itu mati, Edi segera mengangkat wajahnya.


“Udah selesai makannya?” Tanyanya kemudian. Luna dan Yana hanya mengangguk.


“Ayah harus balik lagi sekarang juga, ayo Yan” Edi mengajak Yana seraya berdiri. Tubuhnya sudah memutar setengah namun kembali ke posisi semula lagi.


“Kamu kalau mau ikut ayo” Ajaknya juga pada Luna meski dengan nada yang tidak sesantai ia berbicara dengan Yana. Tapi bukan masalah, Luna tidak merasa terasingkan lagi sekarang. Ia pun tersenyum lembut seraya mengangguk pelan menanggapi ajakan sang Ayah.


“Yeayyy ada temen, Yana juga bosen nungguin Ayah sama Mas Rey sendirian di Rumah Sakit” Sorak gembira Yana sambil menggandeng lengan Luna. Akhirnya mereka bertiga pun kembali menuju Rumah Sakit dan lupa akan keberadaan Rey yang sempat mereka lihat di restoran yang sama tadi.


Reyhan


“Aduhh saya udah harus kembali ke Rumah Sakit” Keluh Rey.


“Gapapa, saya masih disini sampai beberapa hari ke depan. Gimana kalau lusa malam kita ketemu lagi?” Mendengar ajakan itu, Rey sempat berpikiri sejenak. Sepertinya ia bisa karena merasa tidak memiliki janji apapun di malam itu. Masalah Yana bisa ia titipkan sebentar ke rumah orang tuanya.


“Iya Om, malam ini saja. Tadi Om bilang nginep di Hotel Jaya kan?” Pria paruh baya di depan Rey yang ia sebut Om itu mengangguk mengiyakan.


“Kalau begitu kita makan di the seafood aja bagaimana? Restoran itu tepat di seberang Hotel Jaya. Jadi Om gak perlu pergi jauh-jauh” Kata Rey menyarankan.


“Iya, saya mau saja” Jawabnya.


“Baik, ayo biar saya antar pulang” Rey sudah berdiri seraya menawarkan diri untuk mengantar.

__ADS_1


“Gak usah nak Rey. Kamu silahkan kembali ke Rumah Sakit saja, saya masih ingin disini sebentar” Tolaknya dengan lembut.


“Oh Om ada janji lagi?”


“Tidak… hanya ingin disini saja sebentar lagi, daripada di Hotel bosan” Jawabnya lagi disertai kekehan kecil.


“Yaudah, kalau gitu saya pamit dulu ya Om” Rey pun meraih kedua tangan pria paruh baya itu dan menciumnya dengan sopan.


“Terimakasih sudah meluangkan waktu dari Bandung sampai kesini” Ungkap Rey sesudah melepas tangannya.


“Saya juga berterimakasih” Katanya dengan raut wajah serius juga sendu.


“Kalau ada apa-apa silahkan hubungi saya. Saya permisi, Assalamu’alaikum” Pria itu pun menjawab salam Rey dan tak melepas pandangannya pada punggung Rey yang semakin menjauh sampai masuk ke mobil dan sampai mobil itu menjauh juga hingga akhirnya tak lagi terlihat. Terdengar helaan nafas berat dari nafasnya setelah Rey benar-benar pergi dan sekarang matanya tertuju pada sebuah kertas foto kecil. Dada nya sesak melihat foto sepasang remaja yang tertawa bahagia disana.


Sementara itu


Isakan tangis itu semakin terdengar nyaring seiring suara hujan yang semakin memudar karena mulai reda. Juan sampai sesekali meringis melihatnya. Namun bukan itu masalahnya, melainkan tatapan orang-orang yang lewat di sekitaran mereka memandang heran pada sepasang manusia di meja teras mini market disana. Juan membalas tatapan mereka dengan salah tingkah.


“Van udah dong, gue dikira ngapa-ngapain loe nih kayaknya sama orang-orang” Bujuk Juan pada Vani yang masih terisak lebay di depannya ditambah tatapan orang-orang yang lewat membuat ia merasa malu dan bingung.


“Van udahh dong nangisnya” Kata Juan sedikit keras dan kesal.


“Kok loe bentak gue sihh” Vani menyahut dengan rengekannya yang semakin kencang membuat Juan semakin gelagapan.


“Ehh shutttt udah udah, oke-oke sorry. Udah ya udahh, mau makan lagi gak? Atau beli sesuatu gitu?” Tanyanya mencoba menghibur Vani.


Vani menggeleng. Lalu menatap Juan. Juan pun mengangkat kedua alisnya.

__ADS_1


“Apa? Mau apa?” Katanya semangat.


“Gue minjem jaket loe aja” Katanya dengan sisa isak tangisnya.


“Ohh iya iya ini” Juan langsung menggedk jijik begitu jaket itu ternyata digunakan Vani untuk ingusnya. Kemudian di kembalikan lagi ke tangannya. Juan hanya bisa pasrah.


Setelahnya mereka saling diam dengan Juan menatap Vani yang masih tetap menunduk menetralkan sisa-sisa isak tangisnya.


Huhhhhh…. Vani menghembuskan nafasnya keras dan panjang beberapa saat kemudian.


“Gak nyangka gue loe bisa nangis kejer begitu” Kata Juan dengan terkekeh kecil setelah Vani menghela nafasnya panjang dan mengangkat kepalanya.


“Masih bisa loe ya ketawa” Jawab Vani dengan mata, hidung, dan bibir yang sudah memerah.


“Yahhh cepet atau lambat pun gue pasti bakal bisa ketawa lagi kan suatu saat” Sahut Juan namun kini mulai sendu kembali.


“sekarang gue jadi nyesel seratus persen udah nampar loe waktu itu” Juan menggeleng mendengarnya.


“Nggak. Loe udah bener, kalau gue di posisi loe pun gue bakal ngelakuin hal yang sama. Loe memang sahabat yang baik Van, Luna beruntung punya loe, dan gue pun beruntung juga bisa temenan sama loe” Vani tersenyum.


“Makasih, tapi gue gak sebaik itu kok. Lebay loe” Vani tertunduk lagi dan keheningan menguasai mereka lagi.


“Tapi wan” Setelah beberapa saat Vani akhirnya bersuara lagi tapi menggantung kalimatnya karena ragu. Juan sudah menoleh dan menunggu.


“Gue rasa Luna berhak tau” Juan langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.


“Wan… Kayak yang gue bilang tadi, kejujuran itu nomor satu. Percaya deh cepat atau lambat Luna juga bakal tau, mau loe nyembunyiin ini kayak gimanapun” Juan hanya menghela nafasnya dalam.

__ADS_1


“Wan… gue rasa jalan terbaiknya adalah loe jujur ke Luna. Dan semua akan selesai dengan baik-baik” Vani berujar dengan sangat serius dan sorot mata yang dalam.


__ADS_2