Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 24


__ADS_3

“Aku sayang kamu”


Dan itu menjadi kalimat terakhir Arief sebelum pergi. Sekaligus kalimat terakhir yang ia ucapkan sampai akhirnya mereka benar – benar berpisah dengan Nia, istri yang mendampinginya selama kurang lebih selama 18 tahun.


Nia terduduk di lantai dengan memeluk kedua lututnya begitu Arief menutup pintu kamar mereka dari luar.


Arief tidak benar – benar langsung keluar dari rumahh. Ada satu lagi orang yang harus ia temui sebelum pergi. Ia masuk ke salah satu ruangan di rumah itu terlebih dahulu. Kemana lagi jika bukan ke kamar Juan


Tok Tok Tok!


Bunyi ketukan pintu yang lemah dan pelan, tapi cukup bisa di dengar karena suasana pelan, tapi cukup bisa di dengar karena suasana rumah sekaligus dini hari itu yang memang sangat sunyi. Nyaris tak ada suara apapun.


Ceklek


Juan seketika menoleh ke pintu kamarnya yang dibuka dari luar. Juan mengira itu Nia, Mama nya. Tapi ternyata bukan.


“Pa..” Serunya pelan begitu menyadari Arief lah yang masuk ke kamarnya.


Arief tampak maju perlahan mendekat sambil tersenyum getir. Ia duduk di ujung kasur putranya. Melihat itu, Juan ikut duduk juga dengan sedikit jarak.


Meski baru berusia 15 tahun, tapi Juan sudah tumbuh setinggi Papanya, mereka duduk dengan arah yang sama serta gaya yang gagahnya.


“Kamu udah besar ya Juan… Rasanya waktu berjalan begitu cepat” Kata Arief yang seolah baru tersadar bahwa putranya itu sudah mendekati dewasa.

__ADS_1


Juan hanya bisa diam. Tidak tau ingin menjawab apa.


“Apa Papa kurang memperhatikan kamu selama ini? Apa Papa terlalu sibuk dengan urusan – urusan Papa?” Tanya Arief. Entah pertanyaan itu ia tujukan pada Juan, atau malah ditujukan untuk dirinya sendiri,


Juan memang menyahut, namun beralih topik diluar pembahasan Arief.


“Sebenarnya ada apa Pa? Ada masalah apa antara Papa dan Mama?” Juan malah menanyakan hal tersebut. Arief tersenyum dan mengalihkan pandangannya ke bawah.


“Papa gak tau harus bilang apa, harus jelaskan bagaimana atau mulai dari mana. Papa takut. Tapi mungkin akan lebih baik jika Mama kamu sendiri yang menceritakannya. Yang jelas semua murni kesalahan Papa. Papa sudah menyakiti Mama kamu, dan mungkin menyakiti kamu juga. Satu hal yang harus kamu tau. Papa sangat menyayangi kamu dan juga Mama kamu sampai kapan pun” Arief menjelaskan. Kemudian mata Arief malah tertuju pada sebuah koper yang tadi sudah selesai disiapkan oleh Nia, berdiri tak jauh dari jarak Juan duduk. Arief kemudian pun bangkit, mengambil koper itu, membukanya dan seperti tadi, ia benari pakaian – pakaian Juan Kembali masuk ke dalam lemari. Juan yang heran, memerhatikan gerak – gerik Papanya itu, ia mulai mendekat


“Pa” Juan menahan tangan sang Papa. Arief pun menoleh pada putranya itu.


“Ini maksudnya apa sihh Pa. Kenapa gak ada satupun dari Mama atau Papa yang mau jelasin ke Juan. Kenapaa?? Ada apa??? Memangnya apa yang sudah Papa lakuin sampe semuanya jadi gini? Tadi pagi aku liat Papa sama Mama masih baik – baik aja. Pa tolong Pa, jelasin ada apa. Tolong” Juan mulai memohon dengan frustasi.


Setelah selesai Arief mematung sebentar di tempat nya dalam keadaan berdiri. Mereka saling membisu di kamar sunyi Juan.


“Juan..” Panggil Arief yang membuat Juan pun mendongak menoleh pada Papanya itu.


“Kalau suatu saat kamu sudah tau masalah apa yang terjadi antara Papa dan juga Mama. Papa hanya memoho satu hal dari kamu” Arief berhenti, seolah meminta jawaban sang anak terlebih dahulu. Juan seolah mengerti, ia kemudian menyahut.


“Apa Pa?” Sahutnya singkat.


“Tolong jangan benci Papa” Ucap Arief dengan suara bergetar, matanya pun tampak berkaca – kaca.

__ADS_1


Juan hanya balas memandang sang Papa dengan mata yang ikut berkaca – kaca juga, tapi lidahnya kelu untuk bicara. Ia tidak ingin berspekulasi sendiri, tapi ia takut apa yang ia pikirkan benar terhadap Papanya.


“Apa harus begini Pa?” Juan akhirnya Kembali bersuara


“Apa sefatal itu kesalahan Papa sampai Papa dan Mama berjauhan seperti ini, sampai Papa harus pergi? Apa gak ada jalan lain? Jujur Juan gak mau” Lanjut Juan dengan suara terakhir yang semakin pelan dan kepalanya tertunduk lesu.


“Maafkan Papa nak. Maafkan Papa” Arief menangis, seolah kehabisan kata, ungkapan maaf lah yang rasa nya hanya bisa diucapkan dari bibir Arief saat itu.


“Kalau Papa memang sayang dengan Juan dan Mama. Jangan menyerah begini Pa. tolong berjuang lagi untuk mendapat maaf dari Mama, Juan pun akan maafin Papa meskipun Juan gak tau masalahnya apa. Tapi tolong jangan begini. Juan gak mau Mama dan Papa pisah” Juan semakin memohon. Disana Arief masih terlihat menangis.


“Maafin Papa” Arief masih saja hanya mengatakna hal yang sama, membuat Juan frustasi mendengarnya.


Selanjutnya, Arief pun sudah berjalan menuju pintu.


“Jaga diri kamu dan juga Mama ya. Papa pamit, Assalamu’alaikum” Itu kalimat terakhir Arief sebelum keluar dari kamar Juan.


Juan Kembali tertunduk, disana ternyata ia sudah menangis tapi masih dengan tanda tanya di benaknya. Kejadian mala mini sungguh tidak terduga dan begitu tiba – tiba. Juan pun tidak mendapat jawaban atau penjelasan apapun. Baik dari Mama ataupun Papanya. Keduanya hanya sibuk bertukar peran untuk pergi dari rumah ini.


Wa’alaikumsalam…


Mungkin sekitar 10 menit kemudianlah Juan baru menjawab salam Arief, sesaat sebelum Papanya itu meninggalkan kamarnya.


Tidak! Bukan hanya kamarnya. Maksud Juan adalah sesaat sebelum Papanya meninggalkan rumah ini.

__ADS_1


__ADS_2