Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 136


__ADS_3

"Boleh aku tau namanya?"


Arief bertanya dengan mata penuh harap. Lia tampak berpikir sebelum akhirnya bahunya merosot pasrah dan menjawab.


"Namanya Luna"


"Ohhh. Jadi ini pacar kamu. Dan kalian udah punya anak?"


Dari sisi kiri mereka, terdengar suara Nia yang sontak membuat mereka tercekat. Semua gerakan dan kalimat Nia terdengar penuh dengan penekanan dan emosi. Tapi dapat Arief lihat betapa rapuh dan terlukanya Nia dari matanya yang berlinang.


"Nia.."


Arief melepaskan anak kucing di tangannya lalu memanggil Nia sambil mendekat. Tapi Nia mundur, ia merasa tidak sudi disentuh oleh Arief.


"Firasat aku gak salah. Jadi ini lembur yang kamu maksud selama sebulan"


"Nggak. Aku dan Lia udah gak ada hubungan apa-apa lagi. Aku... Aku hanya ingin melihat anak aku Nia. Maaf..."


Ungkap Arief dengan kepala menunduk menyesal. Lia hanya terdiam dengan kebingungan di tempatnya. Lalu matanya menangkap sebuah cahaya dari ponselnya.

__ADS_1


Astaga! Saking terkejutnya dengan sosok Arief tadi ternyata, panggilannya dengan Edi tadi belum terputus. Lia terasa keringat dingin. Ponsel itu dengan cepat ia letakkan di telinganya.


"Halo m-"


Terlambat! Mobil Edi mengerem mendadak dan di parkir secara sembarang di dekatnya. Dapat Lia lihat mobil suaminya itu datang dengan kecepatan tinggi. Ia tau, ada hal serius yang akan ia hadapi.


Edi keluar dan membanting pintu mobilnya dengan keras. Garis rahangnya tampak mengeras, matanya pun tersorot tajam memendam amarah. Dengan nafas memburu Edi melangkah melewati Lia, menghampiri Arief lalu mengcengkram kerahnya.


Bugh!


Tidak hanya satu, tapi dua, tiga bahkan lima pukuln secara beruntun mengenai wajah Arief tanpa perlawanan. Kedua istri mereka berusaha melerai. Setelahnya, tanpa bersuara Edi menarik kasar tangan Lia masuk ke rumah mereka.


Apapun yang ada di hadapannya dan di atas meja Edi banting. Lia bersama tangisnya mencoba menghentikan, namun Edi tak juga berhenti.


"Jadi Luna bukan anak aku. Kamu gilaaa Lia! Kamu-"


Argg! Edi menggeram tanpa melanjutkan kalimatnya.


.....

__ADS_1


"Anak itu boleh tetap tinggal disini. Tapi tentu tidak seperti dulu. Jangan harap aku akan bersikap seperti dulu. Dia tetap disini tapi jangan ada yang memperdulikannya. Bagaimana?"


Dan selain Edi-Lia serta Arief-Nia, malam itu juga menjadi malam yang pahit bagi Luna. Hari dimana ia pertama kalinya dibenci tanpa alasan oleh kedua orangtuanya. Lia menyetujui semata-mata karna tak ingin berpisah dari kedua putrinya


* * *


Arief menahan koper yang sedang dibereskan Nia.


"Kalaupun ada yang harus pergi. Biar aku saja. Aku akan pulang ke Bandung. Sekali lagi maafkan aku"


Ucap Arief dengan air mata yang mengalir tanpa tertahankan lagi olehnya. Koper itu ia ambil dari Nia yang masih berdiri membeku dengan tangisnya yang masih pecah.


Arief membenahi pakaian Nia kembali ke lemari dan mengganti isi koper dengan pakaiannya.


"Jaga diri kamu baik-baik. Maaf untuk luka yang sudah aku beri. Tapi kali ini aku jujur Nia, tidak ada niatan lebih selain ingin melihat anakku disana. Tapi tetap caraku salah, dan itu pun hasil dari kesalahanku juga dulu. Maaf. Maaf"


Hhhhh... Arief menghela nafasnya yang berat.


"Aku sayang kamu"

__ADS_1


Itu adalah kata terakhir Arief sebelum pergi darisana. Dan kata terakhir yang ia ucapkan pada Nia sampai akhirnya mereka benar-benar berpisah.


__ADS_2