Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 15


__ADS_3

Luna yang harap – harap cemas berlari ke balik semak – semak mencari sumber suara. Hingga tampaklah di matanya seorang laki – laki yang tengah duduk memegang sebuah buku di tepi danau.


Duhh gawat! Bisa – bisanya kena orang sihh. Tapi memang Luna gak lihat karna ada semak – semak yang menghalangi penglihatannya pada laki – laki tersebut.


Tapi tunggu deh, Luna memerhatikan wajah tersebut. Ya ampun! Ini lebih gawat. Dari sekian banyak orang di muka bumi yang luas tiada tara ini kenapa harus Juan yang ia temui. Kenapa!


“Loe!” Juan kaget melihat Luna yang datang.


“Maaf – maaf – maaf gue gak sengaja. Tadi niatnya mau buang sampah kesitu (sambil menunjuk tempat sampah) ehh malah meleset, gue juga gak tau ada orang disini karna ketutup sama semak – semak ini nih (menunjuk semak – semak di belakang mereka) abisnya orang pada kenapa sih malah buang sampah sembarangan. Ke taman baru lagi, harusnya tuh dijaga lingkungannya, kesel deh gue padahal niatnya mau refreshing otak kesini apalagi tamannya masih baru dan asri banget, ada danaunya lagi” Luna menjelaskan ala rapper. Alias cepet banget dahh dia ngomong. Hebatnya lidahnya gak ke serempet sama sekali. Mulus kayak aspal baru.


“Gue gak peduli loe ngapain disini dan alesan loe. Intinya loe udah ngelempar sampah ke kepala gue, dan SAKIT TAU NGGAK” Luna tersentak dengan kalimat Juan yang mulanya biasa aja tiba – tiba berteriak di akhir kalimatnya.


“Ya sorry…” Luna yang menciut hanya bisa bilang maaf. Ya apalagi kan selain itu, mau diulang waktu juga gak bisa, mau diobatin juga kepalanya gak kenapa – kenapa.


“Es doger tring tring tring” Sayup – sayup Luna mendengar suara mamang – mamang Es doger.


“Tunggu ya tunggu. Jangan kemana – mana” Luna berkata pada Juan. Ia mulai berlari kecil meninggalkan Juan.


“Tunggu” teriak nya lagi sambil berlari dan berbalik sebentar.


Juan hanya diam dan heran tapi tanpa sadar sedikit tertawa melihat Luna seperti itu.


Sekitar 10 menit Juan menunggu di tempat yang sama, ia pun mendengar sedikit suara gesekan sepatu dengan rumput yang mendekat. Juan pun menoleh, tampak lah Luna berjalan ke arahnya memegang dua gelas es doger.


Sesampainya disana, Luna langsung duduk di samping Juan dengan kaki menyilang.


“Nihh” Luna menyodorkan segelas es doger dari tangan kanannya.


Juan memandang heran.


“Apa nih?” Ucap Juan.


“Bakso” Jawab Luna kesal.


“Ya udah tau es. Masih nanya lagi. Udah ayo diambil pegel nih tangan gue” Juan pun setelah menghela nafas menerima es doger yang Luna berikan.


“Sebagai permintaan maaf yang tadi” Ucap Luna setelah es dogernya Juan terima.


“Jadi kepala gue cuma seharga es doger” Sahut Juan dengan wajah datar.


“Mak-“


“Udah gak usah dijawab. Cuma bercanda” Kata Juan memotong ucapan Luna.

__ADS_1


What? Bercanda apaan wajah datar dingin beku kayak freezer gitu. Luna sudah akan merap udara untuk bicara lagi dan lagi lagi di putus oleh Juan.


“Udahh minum aja. Gak usah berisik”


Luna menarik nafas kesal. Padahal ia belum bicara apapun tapi sudah dibilang berisik. Ia pun akhirnya memilih menyendok es doger miliknya dengan mencicipi potongan rotinya terlebih dahulu. bagian roti tawar yang dipotong dan terendam air es doger yang manis memanglah yang terbaik.


“Hmmmmmm enak banget es nya. Es doger itu minuman favoritnya Vani, dia pasti suka banget nih” Kata Luna setelah suapan pertamanya.


“Gak nanya” Jawab Juan sambil fokus melahap es doger yang Luna berikan.


Mendengar itu Luna memilih kembali melahap es doger miliknya juga dengan kesal.


HABIS


“Makasih” Kata Juan dengan lembut tiba – tiba setelah mereka menghabiskan es doger dan membuang wadahnya ke tempat sampah yang tak jauh dari tempat mereka duduk.


Luna tersenyum.


“Hehe iya sama – sama, hmmm Juan” Panggil Luma dengan hati – hati.


“Hmmm” Hanya suara deheman yang terdengar dari Juan tanda menyahuti Luna.”


“Tunggu, loe pulang naik apa?” Tanya Juan.


“Jalan kaki lah, deket gitu” Jawab Luna cepat.


“Nggak” singkat Juan menjawab, sesingkat itu juga senyum di bibir Luna bertahan setelah mendengarnya.


“Tadi kenapa manggil?”


“Hmmm udah boleh belum dipinjem?” Tanya Luna dengan lebih hati – hati dan senyum yang takut – takut ke arah Juan.


Juan hanya melirik Luna balik sebentar lalu bicara.


“Udah sore, gue pulang duluan” Juan pun benar – benar pergi membawa buku – bukunya.


Luna masih disana dengan kesal, sekitar 5 menitan setelah Juan pergi, barulah dia juga berdiri berniat untuk pulang juga.


Eitss, saat berbalik ia menyandung sesuatu, kepalanya pun menunduk untuk melihat apa yang ia sanding.


Secepat kilat Luna menutup mulutnya yang menganga karena kaget tak percaya. Kemudian ia ambil objek yang berada di depan kakinya.


“Ahhhh” Ia berteriak kegirangan sambil melompat lompat berputar. Juan ternyata meninggalkan buku yang sangat diinginkan Luna sejak pagi tadi tepat di belakang ia duduk.

__ADS_1


Luna pun pulang dengan perasaan yang amat – teramat gembira.


SESAMPAINYA DIRUMAH.


“Assalamu’alaikum” Luna mngucap salam begitu masuk.


“Wa’alaikumsalam, Luna ini Bunda bikin salad ayo makan du-“


Ucapan Lia terhenti dan bingung melihat Luna yang terus saja berjalan menuju kamarnya tanpa memperdulikan sang Bunda.


19.09


“Lohh Luna mana, kok gak ikut makan?” Tanya Edi di meja makan mendapati hanya ada dirinya, Lia istrinya, dan Yana putri keduanya disana.


“Gak tau tuh, dari pulang tadi sore sampeee sekarang dia belum keluar sama sekali dari kamarnya” Lia menjawab.


Tanpa pikir panjang, mendengar jawaban Lia barusan pun Edi langsung beranjak dari duduknya untuk menghampiri Luna di kamarnya.


Tok tok tok!


Ceklek! Setelah mengetuk 3 kali, Edi pun membuka pintu sang anak. Terlihat Luna membaca sebuah buku dalam keadaan tengkurap dan kedua kakinya terangkat.


Menyadari pintu kamarnya dibuka, Luna pun menoleh.


“Ehh kenapa Yah?” Kata Luna masih dengan posisinya.


“Makan… udah waktunya makan malam ini, ayok” Ajak sang Ayah. Mendengar itu Luna pun memalingkan wajahnya menoleh pada jam dinding.


“Aduhh Luna belum laper Ayah. Luna makannya nanti aja ya” Jawab Luna karena saking asiknya membaca buku yang dipinjamkan Juan tadi.


“Nggak! Ayo keluar, makan dulu nanati baru baca lagi” Edi mengajak dengan nasa yang lebih tegas. Luna pun menekuk wajahnya dan menutup bukunya, tak lupa ia memberi tanda pada bukunya sebelum ditutup. Luna pun melangkahkan kakinya dengan malas keluar dari kamar bersama sang Ayah.


DI MEJA MAKAN.


Luna makan dengan sangat lahap dan cepat. Ayah, Bunda, dan Yana heran melihatnya.


“Tuh kan kamu tuh laper” Ucap Edi yang tidak dipedulikan oleh Luna yang masih fokus menyantap makanannya.


Keluarganya disana berpikir lahapnya Luna karena Luna lapar. Padahal maksud hati Luna agar ia cepat bisa kembali ke kamar dan membaca bukunya lagi.


SELESAI.


“Alhamdulillah. Luna balik ke kamar lagi ya” Kata Luna dan bergegas beranjak dari kursi lalu berjalan cepat ke kamarnya.

__ADS_1


Ketiga keluarganya hanya terdiam melihatnya.


Di kamarnya, Luna langsung mengambil buku itu kembali dan fokus membaca.


__ADS_2