Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 36


__ADS_3

Drrttt Drrttt Drrttt


Edi mengalihkan pandangannya pada ponsel miliknya di atas meja kerja, dari notifikasi sudah tampak nama Reyhan sebagai pengirim pesan


“Alhamdulillah operasinya berjalan lancar, Luna sudah dipindahkan ke ruang rawat yang lama” begitulah isi pesan yang diterima Edi dari Rey, Edi tampak menghembuskan nafasnya Panjang setelah itu, Edi hanya membuka pesan tersebut tanpa ada niat untuk membalasnya, dia pun segera membereskan ponsel serta tasnya kemudian mengambil kunci mobil lalu pulang


Hampir 03.00 dini hari, mobil Edi baru sampai ke garasi rumah, segera ia menuju kamarnya. Begitu lampu ia nyalakan, pandangan Edi sudah tertuju pada sosok Lia yang duduk menunduk di tepi ranjang


“Kamu kebangun? Atau… gak tidur?” Tanya Edi sambil meletakkan tas nya


“Gimana Luna? Kenapa aku telfon gak diangkat?” Lia bertanya dengan pelan dan takut – takut


“Operasinya berhasil. Aku mau mandi dulu habis itu langsung tidur. Capek”


Huftttt… Syukur Alhamdulillah, Lia begitu lega luar biasa hingga meneteskan air matanya


---


Luna perlahan membuka matanya yang tampak menyipit bersama kerutan di keningnya karena mencoba menyesuaikan berkas – berkas cahaya yang memasuki matanya. Pagi ini langit terlihat amat cerah sebagai sebuah pengawal hari untuk beraktivitas seolah ikut Bahagia menyambut keberhasilan operasi Luna.


Kemudian, selama 2 minggu berikutnya Luna menjalani pemulihan di Rumah Sakit di jaga oleh Juan, Vani, dan Dira secara bergantian, tak lupa juga Yana yang sesekali datang membawakan berbagai makanan masakannya sendiri untuk sang kakak tercinta. Tapi selama itu juga tak sekalipun Luna melihat kehadiran kedua sosok orang tuanya. Jujur ia sudah rindu sekali, ini adalah kali pertama sekaligus waktu terlama bagi Luna berpisah jauh dan tak bertemu Ayah dan juga Bundanya. Hari ini kebetulan weekend dan ketiga support system Luna tengah berkumpul


Tok tok tok! Ceklek


“Ehh dokter ganteng, pagi – pagi udah mampir aja, mau ketemu saya ya” Ucap Vani begitu percaya diri.


“Silahkan dok, maafin teman saya emang rada miring anaknya, gak usah diladenin hehe” Dira menimpali dengan menekankan kata “miring” sambil memicingkan matanya sinis pada Vani lalu mempersilahkan Rey ke sisi ranjang kanan Luna yang tadi ia tempati untuk duduk


Rey pun mulai berjalan melangkah dengan tersenyum menunduk tidak tau ingin menjawab apa


“Gimana? Ada keluhan?” Begitu tanya Rey setelah berada di dekat Luna


“Ada dok” Itu bukan Luna yang menjawab, melainkan Vani. Sontak semua orang di ruangan itu pun menoleh padanya


“Frekuensi detak jantung saya akhir – akhir ini lebih cepat dari biasanya, apalagi kalau ada dokter, itu kira kira kenapa ya dok?” Sambung Vani yang tampaknya sangat suka menggoda Rey. Tapi pria itu hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia selalu saja kehabisan kata – kata dengan setiap perkataan yang dilontarkan Vani untuk menggodanya setiap kesana.


“Heh, apaan si loe. Dokter Rey lagi mau periksa Luna. Ayo dok silahkan, saya kan tadi udah bilang ni anak miring abaikan aja”


Luna menggeleng melihat kelakuan Vani , kemudian ia menoleh pada Rey dan berkata


“Alhamdulillah gak ada dok, kira – kira kapan ya saya bisa pulang dok?”


“Besok udah bisa pulang kok” Rey cepat menjawab

__ADS_1


“Yahh kok besok sih” Vani tiba – tiba menyahut. Lagi – lagi semua orang disana menatap nya heran


Vani yang dilihat langsung menyadari ucapannya dan gelagapan sendiri


“E-enggak maksudnya gak gitu, gue seneng kok Luna pulih. Seneng banget malah masyaAllah Alhamdulillah (sambil gelagapan menoleh ke semua orang satu per satu), Cuma kan ada baiknya Luna dirawat lebih lama aja lagi dok, sebagai seorang Dokter, pasti Dokter Rey tau bahwa masa pemulihan itu sangat berperan penting dalam keoptimalan kesembuhan pasien, iya kan Lun?(Kali ini menoleh pada Luna) Luna juga masih pucet lemes sayur bayem gitu mukanya. Itu maksud gue ihh belum selesai juga gue ngomongnya jangan mengintimidasi gitu dong tatapan loe semua” Gerutu Vani pada Dira dan Juan.


“Luna sudah cukup sehat dan pulih kok untuk istirahat di rumah saja. Tapi tetap Luna belum boleh kerja berat – berat dulu. Perbanyak istirahat dan masih harus kontrol kesini juga ya” Jelas Rey


“Ohh gitu, tenang aja dok nanti saya pastikan Luna istirahat total dan menemani dia kontrol setiap hari kesini. Sama dokter kan ya kontrolnya?” Vani menyahut sekaligus bertanya dengan Kembali semangat.


“Iya dengan saya, tapi gak perlu setiap hari kok, nanti biar saya jadwalkan ya. Oke saya rasa cukup, selamat ya Luna kalau gitu saya permisi dulu” Pamit Rey


“Iya Terima kasih banyak ya dok”


Terima kasih dok


Terima kasih dok


Terima kasih dok


Juan, Vani dan Dira pun tak lupa ikut mengucapkan Terima kasih mereka. Setelah dokter Rey keluar Juan mulai beranjak dari sofa dan mendekat pada Luna


“Kamu sebenarnya udah kenal berapa lama sih sama dokter itu?” Tanya Juan. Luna tampak berpikir


“Emang kenapa?” Tanya Luna penasaran karena Juan tiba – tiba menanyakan Rey


“Ya gak kenapa kenapa, Cuma nanya aja. Dia..dokter yang baik” Jawab Juan


“Oh iya, tapi dokter Rey itu juga deket deh kayanya sama Ayah, soalnya gak kayak rekan dokter yang lain aja gitu interaksinya lebih nyaman dan manggilnya juga Om ke Ayah” Jelas Luna lagi


“Oo ya berarti kalau kayak gitu mungkin kalian emang udah pernah ketemu sebelumnya” Tambah Juan lagi juga


“Kali ya, tapi aku emang gak inget apa – apa sih kalau pun bener”


Saat Luna dan Juan sibuk membicarakan Rey, tak jauh dari sana ada Vani dan Dira yang terkekeh pelan menghadap Luna dan Juan. Menyadari itu, Juan pun menegur


“Ngapain loe berdua cekikikan gak jelas” Kata Juan. Tapi bukannya menanggapi Juan, Vani malah bicara pada Luna


“Lun, masa gak ngerti sih Juan lagi ngapain” Luna kemudian memiringkan kepalanya memperhatikan Juan dengan seksama karena tak mengerti maksud Vani


“Dia ngapain emangnya?” Luna bingung


“Cemburu Lunn, si Juan lagi cemburu” Sahut Dira to the point

__ADS_1


“Hah? Beneran? Kamu cemburu? Sama dokter Rey?” Luna bertanya dengan wajah kaget mulanya tapi perlahan senyum gemas


“E-e-enggak kok, mereka sok tau aja itu. Aku kan Cuma nanya tadi” Kata Juan mencoba menyanggah dengan slaah tingkah. Luna hanya mengangguk mengiyakan saja tapi masih dengan senyum gemas nya terhadap Juan


“Udah wan.. gak usah cemburu tenang aja… karena dokter Reyhan itu udah dituliskan sebagai jodoh gue di Lauhul Mahfudz (Kitab tempat Allah menuliskan segala catatan kejadian di alam semesta termasuk jodoh)” Ungkap Vani dengan percaya diri


“Gak usah mimpi loe, bahkan dalam mimpi juga dokter Rey ogah berjodoh sama loe” Ucap Dira menimpali. Seketika Vani menatap sinis pada Dira dan disambut gelak tawa Juan dan Luna


“Eh wan, loe lagi ada masalah ya?” Vani bertanya serius kali ini


“Masalah? Masalah apa? Emang nya kenapa Van” Kali ini Luna yang bertanya pada Juan karena penasaran dengan yang baru saja diucapkan Vani


“Nggak sih gue juga gak tau, Cuma kayak mumet aja gitu dari tadi gelisah sendiri si Juan kalau gue liat” Jelas Vani


“Iya ya.. aku kok gak sadar sih, malah Vani yang sadar. Emangnya ada apa Juan? Cerita dong siapa tau kita bisa bantu” Ucap Luna


“ha? Hmmm…” Juan bingung sendiri menoleh bergantian pada Vani dan Luna yang menanyainya


“Ngomong dong, kamu kayak sama siapa aja” Desak Luna


“Tau loe, belagu banget pake malu malu segala, biasanya juga malu – maluin” Timpal Vani yang disambut sorotan kesal Juan padanya


“Aku harus ke Bandung, tadi subuh Papa kondisinya mulai lemah lagi…”


Innalillahi…


“Terus kenapa malah gelisah disini dan kamu tunggu apa lagi? Biasanya langsung berangkat ke Bandung” Ucap Luna


“Aku Cuma bingung aja bilangnya, apalagi kamu juga besok mau pulang, siang sampe malem Dira dan Vani ada praktek hari ini, kamu gimana” Kata Juan mengungkap kekhawatirannya


“Ya ampun aku udah gapapa, lagian Papa kamu itu jauh lebih penting” Desak Luna


Juan tampak berpikir sejenak namun saat pandangannya Kembali pada Luna yang tampak tersenyum dan mengangguk meyakinkan Juan agar tak perlu khawatir berlebihan terhadapnya


“Jaga diri baik – baik ya, ingat kamu harus banyak istirahat”


“Iya… kayak aku ni anak kecil aja. Jangan lupa sampein salam aku ke Papa kamu ya, maaf banget aku belum pernah jenguk dan ketemu langsung sama beliau, semoga cepat diberi kesembuhan sama Allah ya”


Aamiinn


Ucap Vani dan Dira juga bersama Juan yang kompok mengaminkan do’a Luna


“Kalau gitu aku berangkat sekarang ya” Pamit Juan dengan senyum khasnya sambil mengelus kepala Luna

__ADS_1


Disana Vani memandang dengan senyum tipis


__ADS_2