Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 104


__ADS_3

Pria itu seketika menegang, dengan cepat ia menoleh ke pria paruh baya di sampingnya yang baru saja ia jemput. Melihat ekspresi Rey, pria itu jadi menoleh ingin tau pada orang-orang yang sedang duduk di tempat yang harusnya mereka tempati. Pria itu ikut membeku.


Lia terbelalak hebat, dan Edi di sampingnya sudah menatap tajam dengan garis rahang yang mengeras. Tak lama Edi lalu bangkit dan langsung menjatuhkan tinjunya ke pria di samping Rey itu hingga terjatuh mengenaskan di lantai.


“Ayahh”


Rey terbelalak dan menahan tubuh Edi mendapati Ayah mertuanya itu tampak akan memukul lagi. Tak hanya Rey, Lia pun disana ikut menahan tubuh Edi. Luna dan Yana terdiam dengan heran dan takut. Orang-orang disana pun hanya memperhatikan keributan yang mereka buat.


“Lepas”


Edi memberontak.


“Lepas aku bilang, kamu mau belain dia haa? Ha!!??”


Teriak Edi tepat dihadapan wajah Lia yang sedang menahan sisi kanan tubuhnya.


“Cukup mas, ada anak-anak disini”


Lia mengingatkan dengan pelan dan cemas.


“Biarkan. Biar semuanya tau”


Lia menggelengkan kepalanya dengan panik. Sekali-kali ia juga melihat ke arah kedua putrinya yang sedang kebingungan.


Pria itu sudah bangkit sambil meringis menyentuh pipinya yang membiru.


Melihat itu, emosi Edi semakin tersulut. Karena Rey dan Lia yang sudah lengah, Edi pun berhasil maju dan menghajarnya kembali.


“Mas cukup”


“Ayah cukup”


Lia dan Rey berusaha menarik Edi yang semakin menggila. Luna dan Yana pun akhirnya ikut turun dan membantu.


“Jangan sentuh saya!!”


Edi berteriak lagi menyentak lengannya yang ia sadari di sentuh oleh Luna. Membuat Luna tersentak.


“Jangan pernah sentuh saya dan jangan lagi muncul di hadapan saya. Pergi kamu dari rumah saya”


Katanya tajam pada Luna kemudian berlalu pergi.


Luna terpaku dengan hati yang tersayat. Kebahagiaan yang baru dirasanya belum sampai 24 jam kini sudah hilang lagi dalam sekejap. Tapi kenapa? Ada apa?


“Om Arief”


Seru Rey sambil membantu pria yang ia sebu Om Arief tersebut. Wajahnya sudah memar dan darah segar pun mengalir dari hidungnya. Kemudian menuntun pria itu duduk.

__ADS_1


“Mas ini ada apa sih?”


Tanya Yana pada Rey. Di lemparkan pertanyaan itu, Rey pun bingung sendiri sampai ia mengusap kasar rambutnya ke belakang.


“Bunda…”


Seru Luna lirih. Lia tidak menoleh, air matanya pun mengalir sejak Edi mengusir Luna. Ia juga ikut merasakan sakit.


“Bunda…”


Seru Luna lagi sambil menyentuh punggung tangan Lia.


Lia lalu memejamkan matanya dengan menunduk. Beberapa saat setelahnya Lia berbalik mendekati Arief.


“Kenapa kamu bisa disini? Dann..”


Lia mengalihkan pandangannya pada Rey.


“Ada hubungan apa kamu dengan dia?”


Rey gelagapan sendiri.


“Maaf bun. Rey yang ngajak Om Arief kesini. Rey gak maksud jahat Rey cu-“


Lia mengankat tangannya untuk mengehentikan kalimat Rey.


Lia kembali bertanya pada Arief. Sedangkan yang ditanya hanya menunduk tidak menjawab.


“Jawab mas”


Desak Lia.


“Aku cuma mau lihat put-“


“Nggak!”


Lia memotong kalimat Arief dengan panik.


“Rey antar Yana dan Luna pulang”


Ucap Lia mengalihkan.


“Iya, Bunda juga Rey antar. Dan Om Arief juga, ayo Om”


“Antar keluarga kamu saja nak Rey, biar saya disini dulu”


Tolak Arief dengan lembut. Lalu matanya beralih pada gadis yang tadi dibentak dan diusir oleh Edi.

__ADS_1


Menyadari arah pandang Arief, Lia pun segera menarik tangan Luna.


“Ayo Rey, antar mereka pulang. Dan kamu Luna, kamu ikut Yana dulu yaa sampai Ayah tenang. Boleh kan Rey?”


Lia menoleh pada Rey.


“I-iya bun”


“Yaudah pulang sekarang, ayo pulang”


Lia mendesak dan mendorong kedua anak dan menantunya.


“Saya permisi Om, maaf Assalamu’alaikum”


Arief tersenyum dan menjawab salam itu.


Lia melirik sebentar pada Arief sebelum akhirnya ia juga pergi.


“Sebenarnya ada apa sih?”


Yana bertanya saat mereka sudah di mobil dengan Yana berada di depan, sedangkan Luna dan Bundanya di belakang.


Lia tidak menjawab, ia hanya mendesah kasar dan menoleh ke arah jendela. Menunjukkan ia sedang tidak ingin bicara dan membahas apapun.


Sampai. Dapat mereka lihat mobil Edi sudah terparkir disana, menandakan Edi sudah pulang, Lia pun langsung tergerak untuk mendorong pintu mobil bahkan sebelum mesin mobil Rey mati. Tertahan sebentar, ia berbalik menatap Luna.


“Untuk sementara kamu jangan pulang dulu”


Kata Lia langsung pergi dan masuk ke rumah. Hati Luna mencelos mendengar itu tapi ia tidak merespon apapun yang Lia katakan.


“Antar saya ke danau biasa aja mas, nanti biar saya cari hotel atau penginapan”


Kata Luna saat Rey sudah menjalankan kembali mobilnya.


“Nggak, ini udah malam. Dan sesuai kata Bunda tadi, kamu akan tinggal dengan kami”


Ucap Rey dengan tegas.


“Iya kak, Yana juga gak mau kak Luna tinggal di lain”


Sahut Yana membenarkan perkataan Rey dan ikut membujuk Luna.


Luna tidak menjawab lagi, ia hanya melihat jendela mobil dengan tatapan kosong.


Rey merasa bersalah berkali-kali lipat dengan kejadian ini. Jika saja ia tidak mencari tahu tentang Om Arief. Jika saja ia tidak menghubungi Arief hingga membuatnya datang ke Jakarta. Mungkin saat ini Luna dan Yana masih bercengkrama hangat dalam acara makan malam keluarga kecil mereka yang sudah lama tidak mereka lakukan.


Akhirnya mereka pun melanjutkan perjalanan dalam hening. Luna yang larut dalam kesedihannya. Yana dengan kebingungannya. Dan Rey dengan rasa bersalahnya.

__ADS_1


__ADS_2