Hati Lunara

Hati Lunara
BAB 77


__ADS_3

Mobil di belakang taksi yang Luna tumpangi masih melaju dengan jarak aman yang tentu tidak Luna sadari. Sudah pertengahan jalan namun tiba-tiba bunyi decitan ban mobil akibat mengerem secara mendadak terdengar sangat mengilukan di telinga Luna.


"Kenapa Pak?" Tanya cemas.


"Itu mbak, emak-emak nyebrang gak hati-hati banget, bawa anak kecil lagi" Jawab supir taksi yang tak kalah shock itu dengan mengomel. Luna pun menaikkan kepalanya untuk dapat menjangkau apa yang terjadi. Baru supir taksi akan berbelok dan kembali jalan, namun dengan cepat Luna mencegahnya.


"Ehh sebentar Pak, saya mau turun sebentar" Cegahnya seraya berusaha membuka sabuk pengaman yang melilit tubuh atasnya.


"Loh dia yang salah kok mbak gapapa, lagian tadi katanya buru-buru kan?"


"Kasihan Pak" Jawab Luna masih kekeh. Yahh karena penumpang adalah raja. Supir taksi itu bisa apa selain menurut.


"Bu gapapa? Ada yang luka?" Tanya Luna pada Ibu pengendara motor tadi yang sudah dibantu orang sekitar untuk menepi.


"Gapapa kok neng, maafin Ibu ya. Gak liat tadi ada mobil" Kata Ibu itu memelas. Lalu mata Luna berlabuh pada anak kecil kisaran umur 5 tahunan dalam gendongan si Ibu yang sedang menangis. Matanya pun turun lagi pada luka lecet di lutut anak tersebut.


"Gapapa kok Bu namanya musibah. Oh iya ini” Luna merogoh isi tasnya. Mengeluarkan dompet dan menyerahkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan.


"Ehh jangan neng. Ibu yang salah kok malah Ibu yang di kasi gini" Ibu itu langsung menolak.


"Udah gapapa, rezeki gak boleh di tolak. Ini rezeki anak Ibu buat obatin kakinya juga, ya dek ya jangan nangis dong" Ucap Luna lembut dan mengacak samar rambut anak kecil itu.

__ADS_1


"Ya ampun makasih sekali neng, maafin Ibu sekali lagi ya" Kata Ibu itu semakin merasa bersalah dan akhirnya menerima uang tersebut dari tangan Luna.


"Sama-sama bu, kalau gitu saya permisi dulu ya lagi buru-buru soalnya. Hati-hati ya bu setelah ini" Ibu itu pun mengiyakan sambil menganggukkan kepala hingga badannya beberapa kali. Dari jarak sedang, orang yang berada di dalam mobil yang mengikuti taksi Luna tersenyum miring.


"Jiwa penolong kamu gak pernah berubah" Gumam orang tersebut yang ternyata adalah Edi. Setelah keluar dari rumah tadi, Edi tidak benar-benar langsung menuju rumah sakit. Melainkan menepikan mobil nya ke bawah pohon yang cukup jauh dari rumah namun tetap terjangkau oleh matanya.


"Jalan Pak" Perintah Luna setelah ia masuk dan duduk kembali ke dalam taksi. Begitupun dengan mobil Edi yang ikut melaju lagi mengikuti taksi Luna. Begitu sampai. Luna langsung membayar kemudian berlari masuk ke sebuah kantor penerbit. Edi memperhatikan gedung itu dari seberang jalan. Tanpa sadar senyum tipis di bibirnya tercetak lagi. Kali ini alasanya adalah rasa bangga pada Luna. Tidak tau pasti alasannya membuntuti Luna. Namun keinginan di hatinya hanya sedang ingin melihat Luna sedikit lebih lama dan dengan ini ia merasa sedang mengantar Luna meski secara tidak langsung. Setelah memastikan Luna sampai dengan selamat, mobil itupun ia putar balikkan menuju rumah sakit.


- - -


Di rumah sakit Rey sudah tiba lebih dulu bersama gandengannya Yana yang setia di sampingnya. Gadis itu tadi pagi merengek ingin ikut karena tak mau sendirian di apartemen yang masih asing untuknya. Mau tak mau Rey pun memboyongnya ke rumah sakit bersamanya.


"Om, Ehh Ayah maksudnya" Buru-buru ia membenarkan perkataannya kemudian menyalami Edi yang membuat suara deheman tadi.


"Manja banget sih Yan, suami kerja aja diintilin" Kata Edi mengejek setelah keduanya menyalaminya. Yana langsung memicingkan matanya pada Edi seolah mengatakan "Jangan aneh-aneh Ayah". Bibirnya yang mengerucut pun ikut mengartikan kekesalannya.


"Gapapa kok Yah. Kasihan juga Yana kalau harus sendirian. Asisten rumah tangga yang Rey pesan dari yayasan baru bakal bisa datang minggu depan jadi sementara ini ya kita begini. Kalau orangnya udah dateng seenggaknya bisa nemenin Yana juga kalau saya gak ada" Edi mengangguk-anggukan kepalanya merespon penjelasan Rey.


"Besok nggak kok, kan mau ngampus" Yana menyahut.


"Kan saya udah bilang cuti dulu" Rey menyahut juga.

__ADS_1


"Gak bisa dong, entar Yana makin lama lulusnya, belum lagi nanti cuti melahirkan, gak mau ah"


"Gak bisa Yan, kan kamu tau kandungan kamu itu lemah. Kamu harus banyak istirahat" Kata Rey mencoba memberi pengertian"


"Yana kan cuma kuliah mas bukan lari maraton, cuma belajar aja duduk"


"Ya tetep aja itu bisa bikin capek. Dan pikiran kamu juga nambah bebannya, inget Yan pikiran itu adalah pengaruh yang paling besar dalam kesehatan kita"


"Tapi Yana bosen mas, diem gini juga pikiran Yana malah kemana-mana"


"Gak bisa, saya gak mau ambil resiko"


"Ayolah mas, Yana cuma duduk doang. Diem gini tuh gak enak"


"Enggak, setelah melahirkan aja. Atau kalau nggak tunggu sampai pemeriksaan kandungan kamu berikutnya sudah membaik"


"Kelamaan dong. Ntar malah lupa sama materinya. Sayang banget kuliah Yana tuhh tingal sebentar lagi" Edi bergantian menoleh ke arah Rey dan juga Yana setiap kedua orang itu saling melempar argumen mereka masing-masing. Mengedik acuh bahunya, Edi lalu melangkah menjauh dengan santai. Rey dan Yana pun sontak menoleh heran. Ternyata mereka masih ingat dengan keberadaan Edi di tengah perdebatan mereka.


"Ayah mau kemana" Tanya Yana sedikit teriak menyetarakan jarak suaranya dengan telinga sang Ayah yang sudah cukup jauh.


"Males ah denger perdebatan rumah tangga orang" Jawabnya santai tanpa menoleh dan tanpa menghentikan langkahnya barang hanya sebentar. Kedua orang yang di maksud itu mendadak saling menatap dan mengalihkan matanya lagi dengan canggung. Ayahnya itu. Kadang memang sangat menyebalkan. Yana membatin.

__ADS_1


__ADS_2